TESTIMONI

Sentuhan Midas Eduard Ivakdalam

Eduard Ivakdalam | CNN Indonesia
Rabu, 27 Oct 2021 19:00 WIB
Tangan dingin Eduard Ivakdalam dalam meracik taktik berbuah medali emas PON Papua untuk tim sepak bola dari bumi Cendrawasih itu. Eduard Ivakdalam berhasil mengantarkan tim sepak bola Papua juara di PON Papua. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Saya sama sekali tidak terkejut tim sepak bola Papua meraih medali emas di tanah sendiri. Bukan bermaksud sombong, tetapi saya sudah lama menanamkan tekad itu. Tim sepak bola Papua harus juara di PON Papua.

Kami mempersiapkan tim ini sejak lama, seingat saya sekitar 2 tahun 4 bulan. Kami memulainya dengan melakukan seleksi pemain. Tidak ada campur tangan pihak lain, hanya kami tim pelatih yang bekerja sepenuhnya.

Dari awal pembentukan tim tidak ada campur tangan dari manajemen. Kami terbuka melakukan seleksi, semua anak-anak Papua punya kesempatan masuk tim ini.


Puji Tuhan kami bisa dapat satu kerangka tim yang baik meskipun tetap ada kesulitan yang juga kami hadapi. Tidak mudah memadukan tim dengan karakter yang berbeda-beda. Ini suatu tantangan yang kami hadapi. Tantangan yang luar biasa.

Tantangan itu saya sikapi dengan menempatkan diri sebagai orang tua mereka. Ini juga pelajaran yang saya ambil semasa masih aktif jadi pemain.

Sebagai pemain, kita harus menghormati pelatih seperti orang tua kita sendiri. Ini juga sejalan dengan apa yang berlaku di Papua, di mana satu figur yang dihormati orang Papua adalah orang tua.

Pelatih sepak bola Papua Eduard Ivakdalam diarak oleh para pesepak bola Papua usai menang atas tim Aceh pada babak final Sepak Bola Putra PON Papua di Stadion Mandala, Kota Jayapura, Papua, Kamis (14/10/2021). Tim sepak bola putra Papua menang atas tim sepak bola putra Aceh dengan skor 2-0. ANTARA FOTO ANTARA FOTO/Zabur Karuru/wsj.Tim sepak bola Papua tampil memikat berkat racikan Eduard Ivakdalam. (ANTARA FOTO/ZABUR KARURU)

Sehingga kami mencoba masuk dengan pendekatan itu. Bukan pelatih, tapi ayah dari mereka. Jadi mereka benar-benar menghargai kita. Itu yang penting.

Perlahan kami bentuk pemain-pemain muda dengan karakter dan latar belakang berbeda. Anak-anak muda yang datang dari daerah, klub Liga 3, atau pesepakbola muda Persipura Jayapura yang masih main di kompetisi usia dini.

Seiring waktu berjalan kami tetap rutin berlatih. Fokus kami sebagai tim pelatih dan para pemain tetap terjaga meski ajang PON Papua sempat tertunda karena pandemi Covid-19.

Saya juga tak pernah lelah memberikan wejangan ke mereka. Meminta para pemain muda ini bersabar dan jangan ingin cepat-cepat bermain di kompetisi kasta tertinggi karena sudah ada beberapa tim yang meminati mereka.

Saya kasih contoh Boaz Solossa yang lebih dulu mentas di PON baru ke Persipura. Ada juga Ricardo Salampessy, Muhammad Tahir, hingga Ricky Kayame. Saya meminta anak-anak Papua ini bersabar karena bermain di PON Papua akan membuat mereka semakin matang.

Kami bentuk anak-anak ini jadi satu tim yang kuat dan punya mental juara. Proses itu sudah saya lakukan sejak mulai ditunjuk menangani tim ini.

Saya sampaikan ke anak-anak, kita harus bikin sejarah di tanah Papua. Apalagi, Papua sudah dapat medali emas tahun 1993 dan 2004.

Saya ingat tim PON Papua 1993 begitu luar biasa. Sebuah tim yang hebat. Tim yang diperkuat Chris Yarangga dan juga Ronny Wabia. Saya ingin menciptakan tim seperti mereka dengan anak-anak ini.

Begitu pula dengan tim Papua di PON 2004, saat Boaz dkk dinobatkan sebagai juara bersama Jawa Timur. Kami membentuk tim dengan suatu semangat, kekuatan, dan tentunya diajarkan punya mental pemenang.

Hasilnya pun terlihat, bukan hanya saat tampil di ajang sebenarnya dengan kami keluar sebagai juara dengan catatan selalu menang. Mulai dari laga uji coba sampai berlangsungnya PON, hasil yang kami raih juga tergolong memuaskan.

Dari tahap uji coba sampai PON Papua kami tampil dalam 102 pertandingan. Catatannya 9 seri, satu kalah, dan sisanya berakhir dengan kemenangan.

Pesepak bola Papua Ricky Ricardo Cawor (10) melakukan selebrasi bersama rekan setimnya usai membobol gawang tim Aceh pada babak final Sepak Bola Putra PON Papua di Stadion Mandala, Kota Jayapura, Papua, Kamis (14/10/2021). Kedudukan sementara 2-0 untuk tim sepak bola Papua. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/wsj.Tim sepak bola Papua selalu menang saat meraih medali emas PON Papua. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Satu misi pun telah saya lalui dengan baik adalah medali emas PON Papua dalam genggaman. Kini tinggal saya menata langkah untuk fase selanjutnya, yaitu mengambil lisensi A AFC. Dengan begitu saya punya SIM [Surat Izin Mengemudi] yang memadai untuk bisa menangani tim yang tampil di level atas.

Dari PON Papua kemarin sudah banyak orang yang melihat hasil karya saya, dan saya tentu punya keinginan untuk melatih klub yang lebih baik lagi secara berjenjang. Kita tidak tahu kapan waktunya, tinggal menunggu kapan Tuhan kasih kesempatan itu. Sekarang saya tinggal persiapkan SIM yang bisa dipergunakan sesuai syarat yang dibutuhkan.

Saya memang tidak ingin buru-buru melatih klub di kasta teratas. Saya mau memulainya dari nol juga, pelan-pelan. Saya harus banyak belajar, oleh karena itu setelah kursus C AFC tahun 2016, saya mulai dengan menangani klub Liga 3 ketika itu, Persewar Waropen dan kemudian Persemi Mimika.

Saya pikir dengan begitu kita bisa melihat dan belajar lebih banyak dari sana. Saat nantinya naik level, sudah dapat banyak pelajaran dari pengalaman yang didapat. Dengan begitu bisa lebih hati-hati dalam menangani tim yang lebih besar.

Bekal saya untuk sampai ke sana datang dari pelajaran yang saya dapat semasa aktif jadi pemain. Saya mengambil banyak ilmu dari pelatih-pelatih yang pernah menangani saya, mulai dari Rahmad Darmawan, Rudy Keltjes, Jacksen F. Tiago, hingga Sergei Dubrovin saat saya bermain di Persidafon Dafonsoro. Banyak buku-buku saya tulis dari hasil mengamati latihan mereka.

Setiap kali habis latihan pasti saya tulis materi apa saja yang didapat. Saya tulis tangan karena sampai kapan pun kan kita bisa membaca tulisan kita.

Almarhum Tumpak Sihite, mantan pelatih saya di Persipura, juga memberikan saya banyak buku soal pelatih. Sebelum meninggal dunia dia juga sampaikan kalau saya akan jadi pelatih yang baik, pelatih yang hebat.

Beliau menitipkan banyak program latihan untuk saya. Tak sedikit pula wejangan yang beliau berikan, sehingga banyak pelajaran yang yang saya dapat.

Saya ambil ilmu dari mereka semua, saya kumpulkan untuk digabungkan dengan pengalaman saya sekarang. Itulah yang saya implementasikan bersama tim sepak bola Papua di PON Papua. Puji Tuhan anak-anak bisa jalankan dalam tujuh pertandingan di PON Papua maupun saat pertandingan uji coba.

Banner Video Highlights MotoGP 2021

Selain itu saya juga punya keinginan untuk bisa ambil lisensi AFC Pro, pelan-pelan dan tinggal tunggu kesempatan datang. Saya ingin mencapai level yang tinggi karena berharap bisa berbuat sesuatu di tanah Papua.

Waktu jadi pemain pemain saya sudah melakukannya. Sekarang setelah jadi pelatih saya harus bisa juga melakukannya dan angan-angan untuk suatu saat melatih Persipura itu ada.

Semua pemain dari Papua tentu ingin ke sana, apalagi nama saya besar di Persipura. Ketika memutuskan jadi pelatih, tentu saya ingin, punya gambaran suatu waktu bisa menangani tim sebesar Persipura.

Namun semua itu butuh waktu. Saya juga harus bisa melewati tantangan dan rintangan untuk bisa sampai ke sana.

Tantangan dan rintangan itu jadi bekal. Suatu waktu saat kepercayaan itu datang, saya bisa memberikan sesuatu buat Persipura.

Saat masih jadi pemain saya bisa juara, tim ini sampai dapat dua bintang. Saat jadi pelatih, kalau ada kesempatan pasti ingin membawa tim ini terbang lebih tinggi lagi.

Baca lanjutan artikel ini di halaman kedua >>>

Kabur dari Timnas Indonesia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER