Eduard Ivakdalam berhasil mengantarkan tim sepak bola Papua juara di PON Papua. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saya sama sekali tidak terkejut tim sepak bola Papua meraih medali emas di tanah sendiri. Bukan bermaksud sombong, tetapi saya sudah lama menanamkan tekad itu. Tim sepak bola Papua harus juara di PON Papua.
Kami mempersiapkan tim ini sejak lama, seingat saya sekitar 2 tahun 4 bulan. Kami memulainya dengan melakukan seleksi pemain. Tidak ada campur tangan pihak lain, hanya kami tim pelatih yang bekerja sepenuhnya.
Dari awal pembentukan tim tidak ada campur tangan dari manajemen. Kami terbuka melakukan seleksi, semua anak-anak Papua punya kesempatan masuk tim ini.
Puji Tuhan kami bisa dapat satu kerangka tim yang baik meskipun tetap ada kesulitan yang juga kami hadapi. Tidak mudah memadukan tim dengan karakter yang berbeda-beda. Ini suatu tantangan yang kami hadapi. Tantangan yang luar biasa.
Tantangan itu saya sikapi dengan menempatkan diri sebagai orang tua mereka. Ini juga pelajaran yang saya ambil semasa masih aktif jadi pemain.
Sebagai pemain, kita harus menghormati pelatih seperti orang tua kita sendiri. Ini juga sejalan dengan apa yang berlaku di Papua, di mana satu figur yang dihormati orang Papua adalah orang tua.
Tim sepak bola Papua tampil memikat berkat racikan Eduard Ivakdalam. (ANTARA FOTO/ZABUR KARURU)
Sehingga kami mencoba masuk dengan pendekatan itu. Bukan pelatih, tapi ayah dari mereka. Jadi mereka benar-benar menghargai kita. Itu yang penting.
Perlahan kami bentuk pemain-pemain muda dengan karakter dan latar belakang berbeda. Anak-anak muda yang datang dari daerah, klub Liga 3, atau pesepakbola muda Persipura Jayapura yang masih main di kompetisi usia dini.
Seiring waktu berjalan kami tetap rutin berlatih. Fokus kami sebagai tim pelatih dan para pemain tetap terjaga meski ajang PON Papua sempat tertunda karena pandemi Covid-19.
Saya juga tak pernah lelah memberikan wejangan ke mereka. Meminta para pemain muda ini bersabar dan jangan ingin cepat-cepat bermain di kompetisi kasta tertinggi karena sudah ada beberapa tim yang meminati mereka.
Saya kasih contoh Boaz Solossa yang lebih dulu mentas di PON baru ke Persipura. Ada juga Ricardo Salampessy, Muhammad Tahir, hingga Ricky Kayame. Saya meminta anak-anak Papua ini bersabar karena bermain di PON Papua akan membuat mereka semakin matang.
Kami bentuk anak-anak ini jadi satu tim yang kuat dan punya mental juara. Proses itu sudah saya lakukan sejak mulai ditunjuk menangani tim ini.
Saya sampaikan ke anak-anak, kita harus bikin sejarah di tanah Papua. Apalagi, Papua sudah dapat medali emas tahun 1993 dan 2004.
Saya ingat tim PON Papua 1993 begitu luar biasa. Sebuah tim yang hebat. Tim yang diperkuat Chris Yarangga dan juga Ronny Wabia. Saya ingin menciptakan tim seperti mereka dengan anak-anak ini.
Begitu pula dengan tim Papua di PON 2004, saat Boaz dkk dinobatkan sebagai juara bersama Jawa Timur. Kami membentuk tim dengan suatu semangat, kekuatan, dan tentunya diajarkan punya mental pemenang.
Hasilnya pun terlihat, bukan hanya saat tampil di ajang sebenarnya dengan kami keluar sebagai juara dengan catatan selalu menang. Mulai dari laga uji coba sampai berlangsungnya PON, hasil yang kami raih juga tergolong memuaskan.
Dari tahap uji coba sampai PON Papua kami tampil dalam 102 pertandingan. Catatannya 9 seri, satu kalah, dan sisanya berakhir dengan kemenangan.
Tim sepak bola Papua selalu menang saat meraih medali emas PON Papua. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Satu misi pun telah saya lalui dengan baik adalah medali emas PON Papua dalam genggaman. Kini tinggal saya menata langkah untuk fase selanjutnya, yaitu mengambil lisensi A AFC. Dengan begitu saya punya SIM [Surat Izin Mengemudi] yang memadai untuk bisa menangani tim yang tampil di level atas.
Dari PON Papua kemarin sudah banyak orang yang melihat hasil karya saya, dan saya tentu punya keinginan untuk melatih klub yang lebih baik lagi secara berjenjang. Kita tidak tahu kapan waktunya, tinggal menunggu kapan Tuhan kasih kesempatan itu. Sekarang saya tinggal persiapkan SIM yang bisa dipergunakan sesuai syarat yang dibutuhkan.
Saya memang tidak ingin buru-buru melatih klub di kasta teratas. Saya mau memulainya dari nol juga, pelan-pelan. Saya harus banyak belajar, oleh karena itu setelah kursus C AFC tahun 2016, saya mulai dengan menangani klub Liga 3 ketika itu, Persewar Waropen dan kemudian Persemi Mimika.
Saya pikir dengan begitu kita bisa melihat dan belajar lebih banyak dari sana. Saat nantinya naik level, sudah dapat banyak pelajaran dari pengalaman yang didapat. Dengan begitu bisa lebih hati-hati dalam menangani tim yang lebih besar.
Bekal saya untuk sampai ke sana datang dari pelajaran yang saya dapat semasa aktif jadi pemain. Saya mengambil banyak ilmu dari pelatih-pelatih yang pernah menangani saya, mulai dari Rahmad Darmawan, Rudy Keltjes, Jacksen F. Tiago, hingga Sergei Dubrovin saat saya bermain di Persidafon Dafonsoro. Banyak buku-buku saya tulis dari hasil mengamati latihan mereka.
Setiap kali habis latihan pasti saya tulis materi apa saja yang didapat. Saya tulis tangan karena sampai kapan pun kan kita bisa membaca tulisan kita.
Almarhum Tumpak Sihite, mantan pelatih saya di Persipura, juga memberikan saya banyak buku soal pelatih. Sebelum meninggal dunia dia juga sampaikan kalau saya akan jadi pelatih yang baik, pelatih yang hebat.
Beliau menitipkan banyak program latihan untuk saya. Tak sedikit pula wejangan yang beliau berikan, sehingga banyak pelajaran yang yang saya dapat.
Saya ambil ilmu dari mereka semua, saya kumpulkan untuk digabungkan dengan pengalaman saya sekarang. Itulah yang saya implementasikan bersama tim sepak bola Papua di PON Papua. Puji Tuhan anak-anak bisa jalankan dalam tujuh pertandingan di PON Papua maupun saat pertandingan uji coba.
Selain itu saya juga punya keinginan untuk bisa ambil lisensi AFC Pro, pelan-pelan dan tinggal tunggu kesempatan datang. Saya ingin mencapai level yang tinggi karena berharap bisa berbuat sesuatu di tanah Papua.
Waktu jadi pemain pemain saya sudah melakukannya. Sekarang setelah jadi pelatih saya harus bisa juga melakukannya dan angan-angan untuk suatu saat melatih Persipura itu ada.
Semua pemain dari Papua tentu ingin ke sana, apalagi nama saya besar di Persipura. Ketika memutuskan jadi pelatih, tentu saya ingin, punya gambaran suatu waktu bisa menangani tim sebesar Persipura.
Namun semua itu butuh waktu. Saya juga harus bisa melewati tantangan dan rintangan untuk bisa sampai ke sana.
Tantangan dan rintangan itu jadi bekal. Suatu waktu saat kepercayaan itu datang, saya bisa memberikan sesuatu buat Persipura.
Saat masih jadi pemain saya bisa juara, tim ini sampai dapat dua bintang. Saat jadi pelatih, kalau ada kesempatan pasti ingin membawa tim ini terbang lebih tinggi lagi.
Baca lanjutan artikel ini di halaman kedua >>>
Semasa masih aktif sebagai pemain, 16 tahun saya habiskan di Persipura. Baru kemudian saya pergi untuk bergabung dengan Persidafon Dafonsoro selama tiga tahun dan terakhir di Persiwa Wamena sebelum memutuskan gantung sepatu.
Saya bermain selama tiga tahun di Persidafon. Saya bawa mereka promosi dari Divisi Utama ke kasta teratas. Cerita yang sama juga saya ukir bersama Persiwa dengan membawa mereka promosi. Sayang saat verifikasi ulang yang dilakukan PSSI, Persiwa diketahui menunggak gaji yang tidak bisa diselesaikan sehingga urung tampil di Liga Indonesia.
Kendati pernah punya cerita di Persidafon dan Persiwa, Persipura punya tempat tersendiri di hati saya. Dari 20 tahun karier sebagai pesepakbola profesional, 16 tahun saya habiskan bersama tim Mutiara Hitam.
Pahit dan manis sudah saya rasakan bersama Persipura. Dari mulai Persipura masih diurus secara amatir hingga berbenah menjadi tim yang dikelola secara profesional. Itu semua jadi cerita dalam perjalanan saya bersama Persipura.
Di awal karier saya bersama Persipura, para pemain tidak pegang kontrak dan hanya mendapat gaji saja. Sedangkan klub-klub lain sudah menyodorkan kontrak ke pemain, menuju ke era profesional.
Tetapi itu bukan jadi masalah. Kami tidak pernah berpikir soal uang saat itu, yang ada hanya rasa cinta untuk Persipura.
Eduard Ivakdalam memberikan dua gelar juara Liga Indonesia untuk Persipura Jayapura. (AFP/ADEK BERRY)
Awal saya masuk, gaji pertama yang kita dapat sekitar Rp300-500 ribu per bulan. Seingat saya itu gaji yang didapat antara tahun 1994-1995. Kalau untuk bonus kemenangan tandang Rp75 ribu dan saat menang di kandang dapat Rp50 ribu. Dengan kondisi begitu tim tetap solid. Di sisi lain, sumber dana tim tidak terlalu baik.
Setelah 10 tahun, baru tahun 2005 kita bisa juara. Penantian yang terbayar setelah 10 tahun. Sebelum itu Persipura pernah hampir degradasi dan itu saya alami sendiri. Banyak sekali jatuh bangun yang dialami Persipura.
Pengalaman-pengalaman yang saya alami di zaman itu akhirnya bisa membawa kami ke tahun 2005. Kami jadi tim terbaik di Indonesia, suatu kebanggaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Jalan untuk sampai jadi juara pada 2005 tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses dan perubahan-perubahan yang akhirnya bisa membuat Persipura jadi tim yang disegani di sepak bola Indonesia.
Kedatangan Rudy Keltjes pada awal 2000-an turut mengubah tata kelola tim ini. Persipura perlahan dipoles jadi tim yang semula dikelola secara amatir menjadi profesional. Pak Rudy menuntut manajemen untuk menghargai hak-hak pemain.
Mulai ada kontrak meskipun besaran yang saya dapat saat itu hanya Rp4 juta per bulan. Tapi pelan-pelan dari sana muncul kebangkitan Persipura, mulai ada prestasi yang kita ukir. Kemudian pada 2005 datang Boaz Solossa dkk setelah sukses di PON 2004 dan Rahmad Darmawan.
Di eranya Boaz, coach Rahmad bisa meramu kekuatan lokal yang ada. Jendry Pitoy, Marwal Iskandar, Mauly Lessy dipadukan dengan pemain-pemain asing yang direkrut untuk membantu tim seperti David da Rocha. Berkat kekompakan dan rasa kekeluargaan kami bisa meraih kesuksesan tahun 2005 itu.
Persipura itu tim dengan kekompakan dan kekeluargaan yang luar biasa. Ini saya rasa tidak didapat di klub lain. Kunci sukses kami juga karena kedekatan para pemain dengan Tuhan serta bisa menjadi satu keluarga yang utuh.
Eduard Ivakdalam punya mimpi melatih Persipura Jayapura. (Foto: PB PON XX Papua 2021/Chaarly Lopulua)
Tidak ada itu bertengkar di dalam tim. Itu yang saya alami di Persipura. Walaupun kita hidup susah, tetapi kita susah bersama. Begitu pula saat senang, semua senang bersama-sama.
Semasa aktif saya pernah diminati oleh klub-klub lain. Tawaran banyak yang datang, bahkan PSM Makassar hampir setiap musim mengejar saya. PSM zaman itu bertabur bintang, ada sosok seperti Nurdin dan Kadir Halid di manajemen mereka.
PSM sempat meminjam saya dan membawa mereka juara di Ho Chi Minh City Cup tahun 2001. Kesuksesan itu membuat mereka semakin bernafsu mendatangkan saya.
Ada beberapa tim yang juga datang membawa uang dengan jumlah banyak. Hanya saja, keteguhan hati saya tidak berubah cuma ingin bermain di Persipura.
Berbeda dengan klub, di Timnas Indonesia saya tak banyak tampil di ajang internasional. Jujur terkadang saya kerap sendirian yang dipanggil ke Timnas Indonesia dari Persipura. Ini bukan hal yang mudah.
Saya kerap tidak punya teman di sana dan selalu terpikir ingin pulang saja ke Papua. Saya pun sempat kabur dari Timnas Indonesia yang membuat pelatih Ivan Kolev marah.
Ceritanya berawal saat beberapa pemain Persipura dipanggil ke Timnas Indonesia. Ada Ronny Wabia, Chris Yarangga, dan almarhum Ritham Madubun.
Lambat laun mereka tidak terpanggil lagi sehingga saya yang paling sering memenuhi panggilan Timnas Indonesia. Mungkin situasi dan kondisi ini yang tidak bisa saya terima.
Karena dari pandangan saya waktu itu sangat berbeda suasana di klub dan Timnas Indonesia. Di Persipura kekeluargaan kita bangun, setiap latihan kita bercanda, berkumpul, dan bercerita. Di Timnas Indonesia berbeda. Itu yang kadang membuat saya ingin pulang kembali cepat-cepat ke Papua.
Hingga akhirnya sampai ke jelang pemusatan latihan Timnas Indonesia menghadapi Pra Piala Asia 2004. Timnas Indonesia berencana menggelar pelatnas di Australia, dalam waktu yang lama dan kami tidak bisa merayakan Natal dengan keluarga di rumah.
Saya pikir waktu itu waktu pelatnasnya terlalu lama maka saya putuskan kabur kembali ke Papua. Kolev sangat marah saat itu dan dia sampaikan tidak akan panggil saya lagi selagi masih melatih Timnas Indonesia.
Akan tetapi pada akhirnya saya masih dipanggil kembali. Makanya waktu itu, ketika saya dipanggil lagi untuk persiapan Pra Piala Asia banyak wartawan menulis tulis 'Kolev Jilat Ludah', peristiwa itu ramai jadi bahan pembicaraan.
Meski caps saya tidak banyak, namun saya rasa kiprah bersama Timnas Indonesia cukup baik. Saya bisa mencetak tiga gol dan membantu Timnas Indonesia lolos ke Piala Asia 2004 di China dalam babak kualifikasi yang berlangsung di Arab Saudi.
Saya mencetak satu gol saat Timnas Indonesia menang 2-0 atas Bhutan dan dua gol ke gawang Yaman yang membuat skor imbang 2-2 dan Timnas Indonesia lolos ke Piala Asia 2004.
Saya sama sekali tidak terkejut tim sepak bola Papua meraih medali emas di tanah sendiri. Bukan bermaksud sombong, tetapi saya sudah lama menanamkan tekad itu. Tim sepak bola Papua harus juara di PON Papua.
Kami mempersiapkan tim ini sejak lama, seingat saya sekitar 2 tahun 4 bulan. Kami memulainya dengan melakukan seleksi pemain. Tidak ada campur tangan pihak lain, hanya kami tim pelatih yang bekerja sepenuhnya.
Dari awal pembentukan tim tidak ada campur tangan dari manajemen. Kami terbuka melakukan seleksi, semua anak-anak Papua punya kesempatan masuk tim ini.
Puji Tuhan kami bisa dapat satu kerangka tim yang baik meskipun tetap ada kesulitan yang juga kami hadapi. Tidak mudah memadukan tim dengan karakter yang berbeda-beda. Ini suatu tantangan yang kami hadapi. Tantangan yang luar biasa.
Tantangan itu saya sikapi dengan menempatkan diri sebagai orang tua mereka. Ini juga pelajaran yang saya ambil semasa masih aktif jadi pemain.
Sebagai pemain, kita harus menghormati pelatih seperti orang tua kita sendiri. Ini juga sejalan dengan apa yang berlaku di Papua, di mana satu figur yang dihormati orang Papua adalah orang tua.
Tim sepak bola Papua tampil memikat berkat racikan Eduard Ivakdalam. (ANTARA FOTO/ZABUR KARURU)
Sehingga kami mencoba masuk dengan pendekatan itu. Bukan pelatih, tapi ayah dari mereka. Jadi mereka benar-benar menghargai kita. Itu yang penting.
Perlahan kami bentuk pemain-pemain muda dengan karakter dan latar belakang berbeda. Anak-anak muda yang datang dari daerah, klub Liga 3, atau pesepakbola muda Persipura Jayapura yang masih main di kompetisi usia dini.
Seiring waktu berjalan kami tetap rutin berlatih. Fokus kami sebagai tim pelatih dan para pemain tetap terjaga meski ajang PON Papua sempat tertunda karena pandemi Covid-19.
Saya juga tak pernah lelah memberikan wejangan ke mereka. Meminta para pemain muda ini bersabar dan jangan ingin cepat-cepat bermain di kompetisi kasta tertinggi karena sudah ada beberapa tim yang meminati mereka.
Saya kasih contoh Boaz Solossa yang lebih dulu mentas di PON baru ke Persipura. Ada juga Ricardo Salampessy, Muhammad Tahir, hingga Ricky Kayame. Saya meminta anak-anak Papua ini bersabar karena bermain di PON Papua akan membuat mereka semakin matang.
Kami bentuk anak-anak ini jadi satu tim yang kuat dan punya mental juara. Proses itu sudah saya lakukan sejak mulai ditunjuk menangani tim ini.
Saya sampaikan ke anak-anak, kita harus bikin sejarah di tanah Papua. Apalagi, Papua sudah dapat medali emas tahun 1993 dan 2004.
Saya ingat tim PON Papua 1993 begitu luar biasa. Sebuah tim yang hebat. Tim yang diperkuat Chris Yarangga dan juga Ronny Wabia. Saya ingin menciptakan tim seperti mereka dengan anak-anak ini.
Begitu pula dengan tim Papua di PON 2004, saat Boaz dkk dinobatkan sebagai juara bersama Jawa Timur. Kami membentuk tim dengan suatu semangat, kekuatan, dan tentunya diajarkan punya mental pemenang.
Hasilnya pun terlihat, bukan hanya saat tampil di ajang sebenarnya dengan kami keluar sebagai juara dengan catatan selalu menang. Mulai dari laga uji coba sampai berlangsungnya PON, hasil yang kami raih juga tergolong memuaskan.
Dari tahap uji coba sampai PON Papua kami tampil dalam 102 pertandingan. Catatannya 9 seri, satu kalah, dan sisanya berakhir dengan kemenangan.
Tim sepak bola Papua selalu menang saat meraih medali emas PON Papua. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Satu misi pun telah saya lalui dengan baik adalah medali emas PON Papua dalam genggaman. Kini tinggal saya menata langkah untuk fase selanjutnya, yaitu mengambil lisensi A AFC. Dengan begitu saya punya SIM [Surat Izin Mengemudi] yang memadai untuk bisa menangani tim yang tampil di level atas.
Dari PON Papua kemarin sudah banyak orang yang melihat hasil karya saya, dan saya tentu punya keinginan untuk melatih klub yang lebih baik lagi secara berjenjang. Kita tidak tahu kapan waktunya, tinggal menunggu kapan Tuhan kasih kesempatan itu. Sekarang saya tinggal persiapkan SIM yang bisa dipergunakan sesuai syarat yang dibutuhkan.
Saya memang tidak ingin buru-buru melatih klub di kasta teratas. Saya mau memulainya dari nol juga, pelan-pelan. Saya harus banyak belajar, oleh karena itu setelah kursus C AFC tahun 2016, saya mulai dengan menangani klub Liga 3 ketika itu, Persewar Waropen dan kemudian Persemi Mimika.
Saya pikir dengan begitu kita bisa melihat dan belajar lebih banyak dari sana. Saat nantinya naik level, sudah dapat banyak pelajaran dari pengalaman yang didapat. Dengan begitu bisa lebih hati-hati dalam menangani tim yang lebih besar.
Bekal saya untuk sampai ke sana datang dari pelajaran yang saya dapat semasa aktif jadi pemain. Saya mengambil banyak ilmu dari pelatih-pelatih yang pernah menangani saya, mulai dari Rahmad Darmawan, Rudy Keltjes, Jacksen F. Tiago, hingga Sergei Dubrovin saat saya bermain di Persidafon Dafonsoro. Banyak buku-buku saya tulis dari hasil mengamati latihan mereka.
Setiap kali habis latihan pasti saya tulis materi apa saja yang didapat. Saya tulis tangan karena sampai kapan pun kan kita bisa membaca tulisan kita.
Almarhum Tumpak Sihite, mantan pelatih saya di Persipura, juga memberikan saya banyak buku soal pelatih. Sebelum meninggal dunia dia juga sampaikan kalau saya akan jadi pelatih yang baik, pelatih yang hebat.
Beliau menitipkan banyak program latihan untuk saya. Tak sedikit pula wejangan yang beliau berikan, sehingga banyak pelajaran yang yang saya dapat.
Saya ambil ilmu dari mereka semua, saya kumpulkan untuk digabungkan dengan pengalaman saya sekarang. Itulah yang saya implementasikan bersama tim sepak bola Papua di PON Papua. Puji Tuhan anak-anak bisa jalankan dalam tujuh pertandingan di PON Papua maupun saat pertandingan uji coba.
Selain itu saya juga punya keinginan untuk bisa ambil lisensi AFC Pro, pelan-pelan dan tinggal tunggu kesempatan datang. Saya ingin mencapai level yang tinggi karena berharap bisa berbuat sesuatu di tanah Papua.
Waktu jadi pemain pemain saya sudah melakukannya. Sekarang setelah jadi pelatih saya harus bisa juga melakukannya dan angan-angan untuk suatu saat melatih Persipura itu ada.
Semua pemain dari Papua tentu ingin ke sana, apalagi nama saya besar di Persipura. Ketika memutuskan jadi pelatih, tentu saya ingin, punya gambaran suatu waktu bisa menangani tim sebesar Persipura.
Namun semua itu butuh waktu. Saya juga harus bisa melewati tantangan dan rintangan untuk bisa sampai ke sana.
Tantangan dan rintangan itu jadi bekal. Suatu waktu saat kepercayaan itu datang, saya bisa memberikan sesuatu buat Persipura.
Saat masih jadi pemain saya bisa juara, tim ini sampai dapat dua bintang. Saat jadi pelatih, kalau ada kesempatan pasti ingin membawa tim ini terbang lebih tinggi lagi.
Baca lanjutan artikel ini di halaman kedua >>>
Kabur dari Timnas Indonesia
Eduard Ivakdalam ingin perlahan-lahan dalam berkarier sebagai pelatih. (PB PON XX PAPUA/Husni Oa)
Semasa masih aktif sebagai pemain, 16 tahun saya habiskan di Persipura. Baru kemudian saya pergi untuk bergabung dengan Persidafon Dafonsoro selama tiga tahun dan terakhir di Persiwa Wamena sebelum memutuskan gantung sepatu.
Saya bermain selama tiga tahun di Persidafon. Saya bawa mereka promosi dari Divisi Utama ke kasta teratas. Cerita yang sama juga saya ukir bersama Persiwa dengan membawa mereka promosi. Sayang saat verifikasi ulang yang dilakukan PSSI, Persiwa diketahui menunggak gaji yang tidak bisa diselesaikan sehingga urung tampil di Liga Indonesia.
Kendati pernah punya cerita di Persidafon dan Persiwa, Persipura punya tempat tersendiri di hati saya. Dari 20 tahun karier sebagai pesepakbola profesional, 16 tahun saya habiskan bersama tim Mutiara Hitam.
Pahit dan manis sudah saya rasakan bersama Persipura. Dari mulai Persipura masih diurus secara amatir hingga berbenah menjadi tim yang dikelola secara profesional. Itu semua jadi cerita dalam perjalanan saya bersama Persipura.
Di awal karier saya bersama Persipura, para pemain tidak pegang kontrak dan hanya mendapat gaji saja. Sedangkan klub-klub lain sudah menyodorkan kontrak ke pemain, menuju ke era profesional.
Tetapi itu bukan jadi masalah. Kami tidak pernah berpikir soal uang saat itu, yang ada hanya rasa cinta untuk Persipura.
Eduard Ivakdalam memberikan dua gelar juara Liga Indonesia untuk Persipura Jayapura. (AFP/ADEK BERRY)
Awal saya masuk, gaji pertama yang kita dapat sekitar Rp300-500 ribu per bulan. Seingat saya itu gaji yang didapat antara tahun 1994-1995. Kalau untuk bonus kemenangan tandang Rp75 ribu dan saat menang di kandang dapat Rp50 ribu. Dengan kondisi begitu tim tetap solid. Di sisi lain, sumber dana tim tidak terlalu baik.
Setelah 10 tahun, baru tahun 2005 kita bisa juara. Penantian yang terbayar setelah 10 tahun. Sebelum itu Persipura pernah hampir degradasi dan itu saya alami sendiri. Banyak sekali jatuh bangun yang dialami Persipura.
Pengalaman-pengalaman yang saya alami di zaman itu akhirnya bisa membawa kami ke tahun 2005. Kami jadi tim terbaik di Indonesia, suatu kebanggaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Jalan untuk sampai jadi juara pada 2005 tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses dan perubahan-perubahan yang akhirnya bisa membuat Persipura jadi tim yang disegani di sepak bola Indonesia.
Kedatangan Rudy Keltjes pada awal 2000-an turut mengubah tata kelola tim ini. Persipura perlahan dipoles jadi tim yang semula dikelola secara amatir menjadi profesional. Pak Rudy menuntut manajemen untuk menghargai hak-hak pemain.
Mulai ada kontrak meskipun besaran yang saya dapat saat itu hanya Rp4 juta per bulan. Tapi pelan-pelan dari sana muncul kebangkitan Persipura, mulai ada prestasi yang kita ukir. Kemudian pada 2005 datang Boaz Solossa dkk setelah sukses di PON 2004 dan Rahmad Darmawan.
Di eranya Boaz, coach Rahmad bisa meramu kekuatan lokal yang ada. Jendry Pitoy, Marwal Iskandar, Mauly Lessy dipadukan dengan pemain-pemain asing yang direkrut untuk membantu tim seperti David da Rocha. Berkat kekompakan dan rasa kekeluargaan kami bisa meraih kesuksesan tahun 2005 itu.
Persipura itu tim dengan kekompakan dan kekeluargaan yang luar biasa. Ini saya rasa tidak didapat di klub lain. Kunci sukses kami juga karena kedekatan para pemain dengan Tuhan serta bisa menjadi satu keluarga yang utuh.
Eduard Ivakdalam punya mimpi melatih Persipura Jayapura. (Foto: PB PON XX Papua 2021/Chaarly Lopulua)
Tidak ada itu bertengkar di dalam tim. Itu yang saya alami di Persipura. Walaupun kita hidup susah, tetapi kita susah bersama. Begitu pula saat senang, semua senang bersama-sama.
Semasa aktif saya pernah diminati oleh klub-klub lain. Tawaran banyak yang datang, bahkan PSM Makassar hampir setiap musim mengejar saya. PSM zaman itu bertabur bintang, ada sosok seperti Nurdin dan Kadir Halid di manajemen mereka.
PSM sempat meminjam saya dan membawa mereka juara di Ho Chi Minh City Cup tahun 2001. Kesuksesan itu membuat mereka semakin bernafsu mendatangkan saya.
Ada beberapa tim yang juga datang membawa uang dengan jumlah banyak. Hanya saja, keteguhan hati saya tidak berubah cuma ingin bermain di Persipura.
Berbeda dengan klub, di Timnas Indonesia saya tak banyak tampil di ajang internasional. Jujur terkadang saya kerap sendirian yang dipanggil ke Timnas Indonesia dari Persipura. Ini bukan hal yang mudah.
Saya kerap tidak punya teman di sana dan selalu terpikir ingin pulang saja ke Papua. Saya pun sempat kabur dari Timnas Indonesia yang membuat pelatih Ivan Kolev marah.
Ceritanya berawal saat beberapa pemain Persipura dipanggil ke Timnas Indonesia. Ada Ronny Wabia, Chris Yarangga, dan almarhum Ritham Madubun.
Lambat laun mereka tidak terpanggil lagi sehingga saya yang paling sering memenuhi panggilan Timnas Indonesia. Mungkin situasi dan kondisi ini yang tidak bisa saya terima.
Karena dari pandangan saya waktu itu sangat berbeda suasana di klub dan Timnas Indonesia. Di Persipura kekeluargaan kita bangun, setiap latihan kita bercanda, berkumpul, dan bercerita. Di Timnas Indonesia berbeda. Itu yang kadang membuat saya ingin pulang kembali cepat-cepat ke Papua.
Hingga akhirnya sampai ke jelang pemusatan latihan Timnas Indonesia menghadapi Pra Piala Asia 2004. Timnas Indonesia berencana menggelar pelatnas di Australia, dalam waktu yang lama dan kami tidak bisa merayakan Natal dengan keluarga di rumah.
Saya pikir waktu itu waktu pelatnasnya terlalu lama maka saya putuskan kabur kembali ke Papua. Kolev sangat marah saat itu dan dia sampaikan tidak akan panggil saya lagi selagi masih melatih Timnas Indonesia.
Akan tetapi pada akhirnya saya masih dipanggil kembali. Makanya waktu itu, ketika saya dipanggil lagi untuk persiapan Pra Piala Asia banyak wartawan menulis tulis 'Kolev Jilat Ludah', peristiwa itu ramai jadi bahan pembicaraan.
Meski caps saya tidak banyak, namun saya rasa kiprah bersama Timnas Indonesia cukup baik. Saya bisa mencetak tiga gol dan membantu Timnas Indonesia lolos ke Piala Asia 2004 di China dalam babak kualifikasi yang berlangsung di Arab Saudi.
Saya mencetak satu gol saat Timnas Indonesia menang 2-0 atas Bhutan dan dua gol ke gawang Yaman yang membuat skor imbang 2-2 dan Timnas Indonesia lolos ke Piala Asia 2004.