Moeldoko yang ditemui CNNIndonesia.com pada Rabu (5/12) di Jakarta mengatakan bahwa bus ramah lingkungan tersebut siap diproduksi massal sebagai moda transportasi masyarakat Jakarta.
"Sebentar lagi, sudah mulai banyak pesanan, sudah prototipe kedua ini dan ketiga nanti akan kami luncurkan kembali dan setelah itu mass production," kata Moeldoko di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian kendaraan listrik juga wajib dilengkapi suara. Ketentuan suara mobil listrik diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No. 33 Tahun 2018 tentang Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor dan efektif berlaku mulai April 2018, pada Pasal 23 ayat 3, 4, dan 5.
Steker atau colokan pengisian daya baterai bus listrik MAB belum mengikut standar dalam negeri.
Bus MAB diketahui menggunakan standar GB/T dari China. Sementara arah standar steker yang ingin dipakai pemerintah Indonesia saat ini antaranya DC (CCS) dan DC CHAdeMO. Dua standar itu dipakai di Eropa dan Jepang.
"Kemungkinan CCS sama CHAdeMO tapi belum fix, tapi itu (yang paling reliabel)," kata Senior Researcher BPPT Ganesha Tri Chandrasa.
Menurut Ganesha sudah ada perbincangan antara pihak MAB dengan pemerintah membahas standar steker untuk bus listrik MAB di dalam negeri, tujuannya agar bus listrik MAB bebas bergerak di setiap sudut jalan di Indonesia.
"MAB ingin juga standarnya diperhatikan. Masalahnya bus dia juga sudah banyak, makanya kalau memang dia mau internal (buat SPLU) silakan, tapi dia (MAB) ingin tiap kota-provinsi ada yang pemerintah bangun. Tapi pemerintah belum yakin sama yang namanya 'Made in China'," tutup Ganesha.
[Gambas:Video CNN] (ryh/mik)