Efek di Antariksa

Ruang Hampa Berpotensi buat Astronot Mandul

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Rabu, 29/10/2014 08:10 WIB
Ruang Hampa Berpotensi buat Astronot Mandul Astronot NASA saat berada di stasiun ruang angkasa internasional atau International Space Station (Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penelitian yang membawa binatang ke antariksa ternyata menyebabkan binatang itu mengalami gangguan terhadap sistem reproduksinya. Hal ini membuat cemas para astronot.

Ruang hampa dengan nol gravitasi dan radiasi kosmik, disinyalir dapat merusak indung telur dan produksi sperma. Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, khawatir aktivitas mereka di ruang angkasa membekukan indung telur dan sperma.

Dokter bernama Joseph Tash, dari Department of Molecular and Integrative Physiology University of Kansas, meyakini penerbangan antariksa dapat mengganggu reaksi kimia penting pada tubuh untuk bereproduksi.


Saat berada di ruang nol gravitasi, para astronot dapat mengalami penuaan sel dan penurunan massa tulang. Kondisi ini dinamakan 'space flight syndrome'.

Tash mengungkapkan bahwa banyak sistem yang mati terkait hormon estrogen pada sindrom tersebut. Ia juga cemas kesuburan manusia dapat bermasalah untuk 20 tahun ke depan karena matahari tengah memasuki fase di mana angin solar tetap mendukung adanya radiasi di luar galaksi.
NASA sedang melakukan studi terhadap aktivitas seksual dari sekelompok tikus di International Space Station (ISS) untuk menentukan seberapa serius masalah ini.

Pada 1979 lalu, badan antariksa Rusia pernah melakukan studi ini dan tikus-tikus itu tidak melakukan aktivitas kawin sama sekali di ruang angkasa. Terlebih, tikus jantan ternyata tidak bisa memproduksi sperma lagi.

"Kami minim data untuk menentukan apakah nasib manusia akan seperti para hewan yang sudah diujicoba. Yang jelas, kami bisa melihat efek besar itu pada hewan," kata Tash seperti dikutip dari The Telegraph, Selasa (28/10).

Menurutnya, hewan masih memiliki nafsu seksual yang tinggi. Para astronot mungkin pada saat kembali ke rumah tidak mengalami perubahan perilaku yang signifikan, namun mereka tidak mengetahui sebenarnya ada masalah dalam sistem reproduksi mereka.

"Masuk akal bahwa Johnson Space Centre menyarankan para astronot untuk pemeliharan sperma dan indung telur," lanjut Tash.
Selain masalah kesuburan reporoduksi, perjalanan ke antariksa juga mengancam kesehatan lain pada astronot. Pada kesehatan mata, sekitar 80 persen astronot lelaki mengalami kerusakan pengelihatan setelah menjalani misi selama enam sampai delapan pekan di ruang angkasa. Mereka membutuhkan kacamata setelah kembali ke Bumi.

Kecemasan juga muncul dalam proyek penelitian dengan awak menuju planet Mars pada 2025 yang memakan waktu enam bulan. Astronot akan terbang di tingkat yang tinggi terhadap radiasi. Perjalanan tersebut juga berada di luar medan magnet proteksi Bumi.