Menurut penelitian ahli ekologi perilaku dari Universitas Cambridge, Dieter Lukas, 50 persen kematian bayi Chacma disebabkan pejantan. “Dampaknya lebih masif ketimbang penyakit atau predator lain,” tutur Lukas, seperti dikutip kantor berita Reuters, Senin (17/11).
Tapi bukan cuma babun yang begitu. Menurut penelitian yang dimuat di jurnal Science itu, praktek pembunuhan seperti itu banyak ditemukan di dunia mamalia. Lukas, dibantu oleh Elise Huchard dari pusat riset ekologi di Prancis, meneliti 260 spesies.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Itu adalah strategi seksual,” kata Huchard. Mamalia jantan membunuh bayi hasil kawin jantan lain supaya ibu si bayi malang bisa segera siap untuk kawin lagi.
Karena jumlahnya sedikit, hawa persaingan untuk jadi pemimpin kelompok begitu panas. Tak jarang mereka harus kehilangan dominasi karena ketatnya persaingan.
Infanticide sendiri jarang ditemukan di kelompok mamalia yang soliter dan mempraktekkan monogami.
Praktek infanticide sendiri ternyata ditemukan juga di antara binatang pengerat, seperti tikus dan tupai, pada karnivora seperti singa dan beruang, serta kuda nil, kuda, dan kelelawar leher putih.
Adapun primata yang mempraktekkan infanticide adalah simpanse, gorilla, babun, dan langur. Tapi orangutan, bonobo, dan lemur, tidak melakukannya.
Lebih lanjut peneliti mendapati bahwa betina yang hidup dalam praktek infanticide mengembangkan cara adaptasi tersendiri supaya bayinya tak dimakan pejantan. Caranya, mereka mengencani sebanyak mungkin pejantan dalam waktu singkat. Alhasil para pejantan tak tahu anak siapa yang dikandung si betina.
“Pejantan berhenti membunuh karena ada risiko bahwa mereka akan membunuh keturunannya sendiri,” kata Lukas.
Infanticide juga tak terlihat di kalangan mamalia yang punya siklus reproduksi musiman. Sebab pejantan harus menunggu musim kawin berikutnya kalau ingin kawin.