Pencarian Pesawat

Mengenal Kumulonimbus, Awan yang Ditakuti Penerbang

Gito Yudha Pratomo, CNN Indonesia | Selasa, 30/12/2014 10:36 WIB
Mengenal Kumulonimbus, Awan yang Ditakuti Penerbang Ilustrasi awan kumulonimbus (Simon Eugster/Wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesawat AirAsia QZ5801 kemungkinan besar kehilangan kontak ketika menghindari awan Kumulonimbus. Menurut pejabat di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), awan itu memang berbahaya untuk penerbangan.
 
Sebetulnya apa itu awan Kumulonimbus? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, awan ini adalah awan tebal yg dapat menjulang tinggi menyerupai menara atau gunung, sebagian puncaknya mulus atau menyerupai serabut yang hampir rata.

Awan ini menjulang tinggi ke atas langit dan terus dapat tumbuh hingga ketinggian 15 kilometer di atas permukaan laut. Awan yang lahir dari kondisi permukaan udara yang tidak stabil ini terbentuk secara berkelompok.

Bagian puncaknya tampak seperti helaian rambut yang tipis dan kemudian melebar seperti lapangan atau landasan.


Kumulonimbus sangat mudah terbentuk di daerah tropis seperti Indonesia. Menurut Yunus Subagyo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, awan ini memang berbahaya bagi penerbangan pesawat.

Menurutnya, awan--yang sangat mudah dikenali dari bentuk dan penampilannya karena memang berbeda dari jenis awan lain--ini identik dengan kemunculan hujan, badai dan petir.

"Awan ini berkumpul dan terus tumbuh vertikal ke atas seperti sebuah menara (tower), bahkan bisa mencapai belasan ribu kaki di atas permukaan laut," kata Yunus kepada CNN Indonesia, Selasa (30/12).

Dalam proses pembentukannya, awan ini banyak mengumpulkan kandungan uap air, sehingga ukuran dan tingginya terus berkembang. Sejauh ini ada tiga tahapan pembentukan awan berbahaya ini.

Pertama, awan ini mulai terbentuk dari air yang menguap karena panas matahari. Uap air ini terus berkumpul dan membentuk sebuah gumpalan Kumulonimbus. Ketika gumpalan terbentuk, awan ini terus tumbuh dan membuat sebuah gerakan vertikal atau vertical draft.

Kedua, ketika awal mulai matang, pergerakan secara vertikal terus menerus terjadi. Awan melakukan towering atau bergerak hingga ketinggian tertentu dan kemudian melebar seperti sebuah landasan.

Dalam tahap ini, awan Kumulonimbus terus mengumpulkan uap air dari permukaan laut. Semakin banyak uap air yang terkumpul, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya petir di dalam awan.

Ketiga, awan Kumulonimbus mulai memproduksi kandungan air. Di sinilah tahap di mana terjadinya hujan, petir, bahkan badai.

Yunus menambahkan secara teori, awan ini juga memiliki sebuah siklus. Awan mulai terbentuk kemudian lambat laun menghilang.

Tapi siklus ini sangat kecil kemungkinannya, karena biasanya awan yang telah terbentuk dan kehilangan uap air ini tidak menghilang sepenuhnya, tapi terpisah dan tercecer di udara.

"Suhu air laut sangat hangat dan kondisi Indonesia berada pada garis Khatulistiwa. Ini yang membuat produksi uap air sangat tinggi. Kemudian uap air itu menggumpal dan menghasilkan awan," kata Yunus.

Yunus juga mengatakan bahwa awan ini memang sangat ditakuti oleh para penerbang. Pasalnya, ketika matang awan ini menghasilkan suhu dingin dan pembekuan (icing), angin, hujan, dan petir.

Seluruh hasil produksi awan ini dapat membahayakan kondisi sebuah pesawat apalagi jika pesawat tersebut memaksa masuk ke dalam awan. Proses pembekuan yang terjadi dapat mematikan mesin pesawat, angin yang kencang bisa menyebabkan turbulensi bahkan menghancurkan pesawat, dan petir bisa menyambar sehingga menyebabkan pesawat terbakar.