Lima negara tersebut adalah Thailand, Rusia, Turki, Brazil, dan Meksiko. Sejauh ini, Xiaomi telah melebarkan sayap bisnisnya di Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, dan India.
Sepanjang 2014, CEO Xiaomi Lei Jun mengatakan, perusahaan meraih pendapatan 74,3 miliar yuan (US$ 11,97 miliar atau sekitar Rp 149,8 triliun) sebelum pajak. Angka ini naik 135 persen dari pendapatan Xiaomi pada 2013.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Samsung dan Apple masih menduduki posisi pertama dan kedua dengan pangsa pasar masing-masing sebesar 23,8 persen dan 12 persen.
Mereka terus memperkuat modal dengan membuka pendanaan baru. Pada Desember 2014, Xiaomi menerima pendanaan sebesar sebesar US$ 1,1 miliar yang membuat nilai perusahaan melonjak jadi US$ 45 miliar. Istimewanya, angka tersebut dianggap mengalahkan kapitalisasi pasar perusahaan Sony dan Lenovo.
Para investor yang terlibat dalam pendanaan kali ini termasuk perusahaan ekuitas All-Stars Investment, DST Global, Hopu Investment Management, GIC asal Singapura, dan Yunfeng Capital yang tak lain adalah perusahaan ekuitas swasta yang berafiliasi dengan Alibaba Group asal Tiongkok.
Sebelumnya, Xiaomi juga diberi pendanaan oleh investor lain seperti Temasek Holdings, Qiming Venture Partners, Morningside Venture Capital, dan Digital Sky Technologies (DST).
Sejak perilisan produk perdananya pada Agustus 2011, Xiaomi dinobatkan menjadi perusahaan rintisan terbesar di dunia mengalahkan Uber dan Airbnb.
(adt/eno)