Kantor berita Reuters mewartakan, pakar keamanan sedang memperingatkan bahwa para peretas semakin tertarik mencuri informasi pribadi dari perusahaan asuransi dan kesehatan.
Perusahaan asuransi kesehatan ternama di AS, Anthem Inc., pada pekan lalu mengungkapkan ada pembobolan database yang berisi hampir 80 juta catatan informasi. Hal itu mendorong diberlakukannya investigasi oleh otoritas federal dan negara setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama satu dekade belakangan, tindak kriminal siber biasanya fokus pada serangan bank dan toko ritel untuk mencuri data keuangan, termasuk kredensial perbankan online dan nomor kartu pembayaran. Namun, seiring peningkatan keamanan kini penggunaan nomor kartu kredit curian menjadi semakin sulit.
Pencurian data kesehatan bisa dimanfaatkan sebagai alat penipuan untuk mendapatkan layanan medis dan resep obat, serta mencuri identitas dan kejahatan finansial lainnya.
"Nama, alamat, identitas sosial dan medis adalah faktor yang sangat mudah untuk diuangkan secara cepat," kata Bob Gregg, CEO perusahaan peranti lunak proteksi identitas, ID Experts.
Pakar keamanan menghimbau untuk secara berkala meningkatkan program sekuritas teknologi informasi (TI) dan menerapkan proteksi untuk data informasi yang ada.