Budi Gunawan Buat Pamor Jokowi Meredup di Media Sosial

Gito Yudha Pratomo, CNN Indonesia | Senin, 23/02/2015 15:10 WIB
Budi Gunawan Buat Pamor Jokowi Meredup di Media Sosial Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wapres Jusuf Kalla (kanan) memberikan keterangan terkait polemik pelantikan Kepala Kepolisian RI di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (19/2). Antara Foto/Yudhi Mahatma
Jakarta, CNN Indonesia -- Media sosial kini menjadi wadah untuk suara masyarakat yang mendukung atau menolak seorang tokoh atau kebijakan tertentu. Dari penelitian yang dilakukan Reading Indonesia Project (RIPRO) dan platform analisis media sosial Awesometrics terlihat bahwa dukungan pada Presiden Joko Widodo terus menurun.

Menurut peneliti Ripro, Agus Mulyono, Presiden Jokowi memiliki dukungan positif di awal masa tugasnya. Dukungan tersebut bertahan bahkan meningkat hingga Jokowi mengumumkan kebijakan pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM).

"Saat diterapkan kebijakan pengalihan subsidi BBM, pamor positif malah terus meningkat," kata Agus dalam diskusi Membaca Indonesia di Kampus PascaSarjana Universitas Paramadina, Senin (23/2).
Namun, menurut Agus, momen pengajuan Komjen Budi Gunawan menjadi calon Kapolri membuat tanggapan positif terhadap Jokowi terus menurun.


"Setelah itu sentimen negatif terus menanjak tajam. Berbanding terbalik dengan sentimen positif yang terus turun," lanjutnya.
Kendati demikian ada satu momen di mana Jokowi kembali mendapatkan citra positif di mata netizen yaitu saat Presiden menerima Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto ketika kisruh KPK vs Polri berlangsung.

Sayangnya dari data yang dihasilkan tanggapan positif ini tidak berlangsung lama. Pamor Jokowi kembali menurun saat mengeluarkan kebijakan pembangunan mobil nasional.

"Isu pembangunan mobil nasional dengan menggandeng Proton membuat tanggapan negatif netizen pada Jokowi kian meningkat," ucap Agus.

Dari hasil penelitian ini, terlihat bahwa Presiden Jokowi akan terus dinilai dan didukung para netizen berdasarkan citra yang membuatnya terpilih sebagai presiden yaitu membangun pemerintah yang bersih, dan tidak berorientasi kepentingan politik partai pengusungnya. Ketika Presiden melakukan hal sebaliknya, maka secara sensitif para netizen melontarkan tanggapan negatif dengan signifikan melalui akun media sosial yang mereka miliki.

Penelitian ini dilakukan dengan merangkum seluruh data yang ada pada media sosial, terutama Twitter. Dengan menggunakan dua variabel utama yaitu Retweet dan Mention, akan terlihat jelas topik apa yang dibicarakan di kalangan masyarakat maya.

Penelitian ini, menurut Agus dilakukan dengan waktu yang cukup singkat. Meskipun demikian, hasil penelitian ini dianggap valid dan dapat digunakan untuk memantau reaksi publik terhadap Komunikasi Politik dari pemerintahan Presiden Jokowi.


(eno)