Appaja, Aplikasi Penakluk Angkutan Umum Jakarta

Aditya Panji, CNN Indonesia | Jumat, 20/03/2015 14:26 WIB
Appaja, Aplikasi Penakluk Angkutan Umum Jakarta Tiga pendiri aplikasi navigasi AppAja. Dari kiri ke kanan: Mansoor (Pemrogram), Daisy Darmawati (Desainer), dan Robin Dutheil (Pengembangan Bisnis). (Dok. AppAja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Angkutan umum di Jakarta memang membingungkan. Kebingungan ditambah dengan ketiadaan media yang memberi petunjuk tentang angkutan umum itu, termasuk soal tujuan, rute, dan tarifnya. Sebuah aplikasi di perangkat mobile coba memberi solusi atas masalah itu.

Aplikasi itu adalah Appaja, yang mulai dikembangkan sejak November 2013 silam. Aplikasi ini digagas oleh seorang Perancis bernama Robin Dutheil yang sudah enam tahun tinggal di Jakarta.

Bersama Mansoor dan Daisy Darmawati, Robin mengembangkan aplikasi yang memberi petunjuk tentang transportasi apa saja yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan. “Kita menyediakan rute untuk semua jenis transportasi yang ada di Jakarta,” kata Robin kepada CNN Indonesia.


Aplikasi ini menyediakan rute bus sedang, bus besar, Trans Jakarta, angkot, hingga kereta. Mulai dari Metro Mini, Kopaja, Bianglala, Mayasari Bakti, PPD, Pahala Kencana, APTB, Damri, Trans Bintaro, hingga KWK dan Mikrolet, yang sangat sulit dihafal semuanya.

Baca juga: Uber Akuisisi Pembuat Peta Digital deCarta

Data soal nama transportasi, tujuan, rute, dan tarif layanan transportasi di atas telah dirangkum dalam aplikasi AppAja. Robin dan tim banyak mencatat data-data itu sendiri dan sebagian kecil dibantu oleh pihak lain. Jaringan transportasi umum yang dipetakan meliputi Jabodetabek dan Banten.

Ide pembuatan aplikasi ini diilhami oleh pengetahuan luas Robin terhadap transportasi umum di Jakarta. Banyak teman dari Jakarta yang justru bertanya kepadanya jenis atau bus macam apa yang harus mereka naiki untuk mencapai suatu tujuan.

“Sejak dulu saya sering ditelepon atau di-SMS teman, menanyakan saya harus naik angkot apa untuk ke tempat ini-itu? Saya justru lebih banyak tahu dari mereka, jadi kenapa tidak saya bikin aplikasi transportasi umum?” kata Robin.

Saat ini Appaja bisa diakses dari aplikasi browser di komputer pribadi maupun ponsel pintar atau diunduh secara gratis di Google Play Store untuk perangkat Android.

Cara pemakaian

Dalam menggunakan Appaja, pengguna bisa mencari lokasi tujuan di kolom pencarian. Setelah menemukan lokasi, pengguna akan diberi petunjuk terkait angkutan apa saja yang bisa dinaiki. Di sana juga terdapat tarif yang harus dibayar dan estimasi waktu tempuh.

Misal, dari lokasi sekarang berada pengguna dapat berjalan kaki dulu menuju stasiun kereta terdekat. Lalu, ada petunjuk naik kereta api jurusan apa dan bakal turun di mana. Jika perlu transit, maka aplikasi ini akan memberi tahu stasiun tempat transit kereta. Lalu, dari stasiun terakhir, pengguna bisa berjalan menuju halte terdekat untuk menaiki sebuah bus dan sampai di tujuan.

“Jadi, kami coba memberi solusi mulai dari transportasi kereta, angkot, bus sedang, Trans Jakarta, sampai Metro Mini, lengkap dengan biaya dan waktu tempuh,” jelas Robin.

Jika tombol Start navigasi sudah dinyalakan, posisi panah yang menunjukkan posisi pengguna akan bergerak sesuai rute yang ditempuh. Di sana pengguna dapat melihat nama stasiun atau halte yang telah dilewati.

Di masa depan, Appaja berencana menambahkan fitur push notifikasi dalam bentuk teks dan suara untuk memberi tahu jika pengguna harus turun untuk berganti moda transportasi. Diharapkan pula bakal ada informasi kepadatan sebuah halte atau stasiun yang diperlihatkan melalui warna.

Menurut Robin, informasi kepadatan sebuah halte atau stasiun bisa didapat dari laporan pengguna di lokasi untuk memberi tahu pengguna lain agar mengambil keputusan yang paling eifisien.

Aplikasi ini tidak hanya ditujukan kepada warga Jakarta, tetapi juga wisatawan asing yang sedang berada di Jakarta. Oleh karena itu, Appaja menyediakan menu Etika dan Kosakata yang bisa digunakan untuk memandu perjalanan.

Untuk Kosakata atau Vocabulary, ada beberapa kata penting beserta arti dalam bahasa Inggris. Misalnya, “Can I have my money back? atau Bang, tolong kembalikan uang saya?” dan “Shall I go down here? atau Bang, turun di sini ya.”

User experience

Sejatinya, Appaja hingga saat ini masih dalam tahap beta atau uji coba. Mereka membutuhkan saran dari para pengguna untuk memantapkan fitur dan layanan Appaja.

Mansoor, yang berperan sebagai pengembang, mengatakan bahwa ia berusaha memaksimalkan performa aplikasi Appaja di semua jenis ponsel, terutama pada ponsel pintar Android harga murah. Hal ini dilakukan Appaja mengingat masih banyak pengguna ponsel di Jakarta yang menggunakan produk kategori murah dengan memori kecil.

“Kita harus melihat fakta itu dan berupaya memberikan pengalaman yang sempurna untuk pengguna,” jelas Mansoor.

Baca juga: Titan, Proyek Mobil Listrik Apple?

Dengan aset aplikasi yang besar, Mansoor berupaya meminimalkan ukuran unduh dan data aplikasi, tetapi tetap memberi pengalaman yang sama di ponsel jenis murah ataupun premium.

Hingga kini Appaja untuk Android telah diunduh sebanyak 3.500 kali sejak diluncurkan pada akhir Desember 2014 dengan 500 pengguna aktif bulanan. Para pengembang Appaja menargetkan aplikasi ini bisa membangun komunitas tersendiri sehingga menjadi jejaring sosial berbasis navigasi. Mereka juga berharap dapat menjalin kerja sama dengan pemerintah atau perusahaan/koperasi transportasi guna menjangkau lebih banyak pengguna. (adt/eno)