Gerhana Matahari total tahun 1999 'menyerang' kawasan kepulauan Britania menuju Perancis, Jerman, Austria, lalu bergerak ke Rumania, Turki, dan lanjut ke arah Timur.
Dari berbagai sumber media, gerhana Matahari total tahun 1999 nampaknya tak menggelapkan seluruh belantara Eropa, namun hanya di daerah bagian selatan, khususnya Jerman dan Austria.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Media massa The Telegraph memaparkan sejumlah mitos yang mewarnai momen gerhana Matahari total 1999. Beberapa di antaranya adalah:
Kedua, beralih ke Paris, ada ribuan orang berkumpul di kaki menara Eiffel untuk menyaksikan gerhana Matahari total. Kabarnya, kala itu masyarakat meyakini fenomena alam tersebut akan menjadi yang terakhir dalam era milenium.
Terakhir, di kawasan Cornwall, Inggris, sejumlah warga setempat dan pelancong berkumpul di depan tapak bernama Mên-an-Tol yang sering dijadikan objek penyembahan. Mereka di sana menghantarkan doa dan dimensi rohani kepada sang gerhana.
Kemudian, ada sekitar dua ratus orang yang rela merogoh kocek 1.500 Poundsterling atau sekitar Rp 28,9 juta hanya untuk menaiki pesawat jet Concorde yang khusus 'memburu' gerhana matahari. Pesawat ini terbang di angkasa yang terbebas dari awan dengan ketinggian 55 ribu kaki.
Sementara itu, gerhana Matahari total pada 20 Maret 2015 ini diprediksi lebih memperlihatkan puncak "totalnya" di kawasan utara Eropa.
Richard Alldridge dari Furness and South Lakeland Astronomical Society, Inggris, kepada sebuah media lokal mengatakan bahwa area Cumbria di Inggris yang terletak agak ke utara akan menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan fenomena gerhana Matahari esok.
(adt/eno)