Negara Berkembang Berpikir Internet Buruk untuk Moral

Aditya Panji, CNN Indonesia | Jumat, 20/03/2015 10:15 WIB
Negara Berkembang Berpikir Internet Buruk untuk Moral Ilustrasi pengakses Internet di komputer. (Getty Images/Spencer Platt)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak warga di negara berkembang berpikir bahwa koneksi Internet memiliki pengaruh positif untuk pendidikan, tetapi berdampak negatif pada moralitas, menurut survei terbaru yang dilakukan Pew Research Center pada Kamis (19/3).

Pew Research Center mewawancarai lebih dari 36.000 orang di 32 negara berkembang dalam penelitian. Mereka diajukan pertanyaan terkait pemakaian Internet oleh individu.

Mayoritas pengguna, sebanyak 64 persen berkata Internet memberi pengaruh positif untuk pendidikan. Namun, sebanyak 42 persen berpikir Internet buruk untuk moralitas, hanya 29 persen yang mengatakan Internet memberi pengaruh baik pada moralitas.


Baca juga: Kecanduan Internet Disamakan dengan Gangguan Jiwa

Menurut profesor filsafat Randall Curren dari Universitas Rochester, definisi moralitas berbeda-beda di suatu negara.

“Itu wajar bagi orang dewasa yang khawatir dengan moralitas anak-anak mereka,” kata Curren seperti dikutip dari USA Today.

“Ada interaksi pada bidang tertentu dan pengaruh yang berada di luar kendali orang tua, dan Internet adalah bola baru bagi banyak budaya. Ini pertukaran informasi baru yang bagi orang tua tidak mudah untuk dikontrol.”

Di 32 negara yang disurvei, sebanyak 38 persen mengatakan mereka memiliki komputer di rumah. Di Uganda, sebanyak 3 persen warganya memiliki komputer di rumah.

Sebagai perbandingan, sebanyak 80 persen warga dewasa di Amerika Serikat memiliki komputer di rumah, dan Rusia 78 persen.

Studi juga menemukan bahwa warga yang berbahasa Inggris mungkin lebih sering berinteraksi dengan Internet. Penggunaan Internet juga lebih tinggi bagi orang-orang terdidik di usia 18 sampai 34 tahun.

Sebagai contoh, 83 persen warga Vietnam yang bisa berbahasa atau bisa membaca sedikit bahasa Inggris, terbukti menggunakan Internet, dibandingkan hanya 20 persen dari mereka yang tidak bisa.

“Kami tahu bahwa orang yang lebih muda, lebih berpendidikan, mereka cenderung menggunakan Internet. Tapi kami terkejut bahwa penutur bahasa Inggris lebih memungkinkan memakai Internet,” kata Jacob Poushter, seorang peneliti di Pew Research Center.

Tingkat penggunaan Internet terlihat lebih tinggi di negara-negara kaya, menurut studi ini. Warga di negara kaya juga mendapatkan potensi akses Internet yang lebih besar.

“Negara-negara seperti Amerika Serikat sangat memanfaatkan Internet sebagai jaringan sosial mereka dan akses informasi,” menurut Poushter.

Baca juga: Kini Usia Dot-com Genap 30 Tahun

Sebanyak 86 persen warga dewasa di negara berkembang menggunakan situs web untuk bersosialisasi dengan keluarga dan teman-teman. Sebanyak 54 persen mengatakan mereka menggunakannya untuk mengkonsumsi informasi politik. (adt/eno)