Kini diketahui ada sebuah kanal baru berbahasa Inggris bernama 'Trendit' yang memiliki sekitar 500 pengikut, kanal ini ditujukan untuk menjangkau para simpatisan ISIS yang masih aktif di Indonesia.
"Meskipun kanal ISIS telah diblokir oleh Telegram, namun mereka akan segera menyadari hal tersebut dan mengatur pembuatan kanal-kanal baru," ungkap Veryan Khan, direktur editorial The Terrorism Research & Analysis Consortium. (Ikuti Fokus: Gaduh soal ISIS di Dunia Maya)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khan menyatakan kekhawatirannya bahwa ISIS yang terlihat secara terbuka merekrut pengikut melalui Telegram kini akan meningkatkan kewaspadaannya serta mulai melancarkan komunikasi 'bawah tanah' yang bahkan akan menjadi lebih sulit dideteksi.
Menurut Laith Alkhouri, Direktur Riset Flashpoint Global Partners, Telegram memang sedang menjadi hal yang hangat dibicarakan di antara para pelaku jihad. ISIS menggunakan Telegram untuk menyebarluaskan propaganda serta kebrutalannya kepada dunia, melakukan transaksi finansial rahasia, merekruit anggota, merancang suatu penyerangan, dan berkomunikasi dengan jaringan simpatisannya di seluruh dunia.
Perang virtual antara Telegram dan ISIS memang sepertinya akan berlanjut. Pada Kamis (19/11) lalu, Telegram kembali melaporkan bahwa perusahaannya telah memblokir 164 kanal lainnya yang digunakan ISIS untuk menyebarluaskan propagandanya.
Namun sepertinya fenomena keberadaan ISIS ini tepat digambarkan dengan peribahasa 'mati satu tumbuh seribu', di mana setiap ada bagian dari kelompok ini yang 'mati', seakan di belahan dunia lainnya pengikutnya bisa saja langsung bertambah berkali-kali lipat dengan begitu cepat.
"Permasalahan dari pemblokiran grup Telegram, seperti halnya pemblokiran akun Facebook dan Twitter ini hanya akan menjadi permainan bagi para simpatisan ISIS untuk melihat seberapa cepat mereka dapat membuat akun baru lainnnya," kata Sidney Jones, peneliti dari kelompok think-thank Institute for Policy Analysis of Conflict dari Jakarta. (tyo)