Aplikasi Kencan Online Suburkan Penyebaran HIV

Marry Marsela, CNN Indonesia | Selasa, 01/12/2015 17:08 WIB
Aplikasi kencan online sedikit banyak berperan dalam mendorong penyakit menular seksual di kalangan homoseksual di Asia Tenggara. Ilustrasi aplikasi kencan (dok.Gartner)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meningkatnya penggunaan aplikasi kencan online, khususnya oleh kelompok homoseksual ternyata bertanggung jawab terhadap peningkatan penyebaran virus HIV di wilayah Asia Tenggara.

"Kaum pria muda homoseksual mengaku bahwa mereka menggunakan aplikasi kencan online untuk bisa bertemu dan melakukan hubungan seksual. Kami menyadari bahwa perilaku berbahaya ini dapat meningkatkan penyebaran HIV/AIDS," ungkap Wing-Sie Cheng, penasihat HIV/AIDS untuk Unicef di daerah Asia Timur dan Pasifik.

Ketika jumlah infeksi HIV cenderung berkurang secara global, namun jumlah orang dewasa usia 10 sampai 19 tahun yang terinfeksi virus HIV di daerah Asia Pasifik ternyata malah meningkat menjadi sekitar 220 ribu orang, di mana menurut Unicef jumlah ini akan terus meningkat.


Seperti dilaporkan dalam The Guardian, menurut GWI (Global Web Index) kelompok orang berusia 25 tahun sampai 34 tahun merupakan pengguna terbanyak dari platform kencan online dengan persentase sebesar 10 persen, disusul dengan usia 16 tahun sampai 24 tahun sebanyak 8 persen.

"Karena itu kami pun jadi yakin bahwa terdapat hubungan, dan maka itu kami butuh bekerja sama lebih baik dengan penyedia aplikasi mobile untuk menyebarkan informasi tentang HIV dan melindungi kesehatan orang-orang dewasa," tulis Cheng.

Seorang pria homoseksual asal Filipina berusia 30 tahun yang positif terkena HIV mengaku telah menggunakan aplikasi kencan online untuk mempermudahnya dalam mencari partner seks.

Ia mengaku hampir setia saat berkomunikasi dengan para partnernya yang begitu banyak, sebelum selanjunya melakukan 'kopi darat'. Setelah 2 tahun menggunakan aplikasi kencan online, sayangnya ia akhirnya tertular virus HIV dari pacarnya yang diketahui diam-diam berselingkuh dengan orang lain yang dihubungi menggunakan aplikasi kencan online ini.

GWI mencatat bahwa kebanyakan orang, yaitu sebesar 25 persen masih mengakses aplikasi kencan online melalui komputer pribadi atau laptop, kemudian disusul dengan akses melalui ponsel sebesar 15 persen dan tablet sebesar 9 persen.

"Aplikasi ini menciptakan sebuah jaringan di antara para pria, di mana infeksi virus dapat meningkat dengan cepat di antara para penggunanya. Meningkatnya penggunaan aplikasi ini juga turut meningkatkan kemungkinan resiko terinfeksi virus karena aplikasi memudahkan mereka untuk bisa berkencan dan melakukan hubungan seksual," ungkap Cheng.

Aplikasi kencan online, seperti Grindr dan Hornet menjadi platform di mana remaja bisa dengan mudahnya berkkomunikasi dengan orang-orang asing, khsusnya untuk memenuhi hasrat seksualnya.

Pengguna aplikasi kencan online bisa saja saling berbagi foto-foto pribadi lewat ponselnya dan kemudian bisa dengan cepat memutuskan untuk bertemu dan melakukan hubungan seksual.

AIDS memang telah menjadi salah satu penybab kematian tertinggi di dunia, khususnya di daerah Afrika. Selama Di Filipina sendiri, jumlah remaja yang terinfeksi virus HIV telah meningkat dua kali lipat selama 4 tahun terakhir. Sementara itu, satu banding tiga orang pria muda homo seksual di Bangkok memiliki kemungkinan terinveksi virus mematikan ini.

Saat ini PBB berusaha untuk melakukan pendekatan dengan perusahaan penyedia jasa aplikasi kencan online untuk bisa bekerja sama dalam menginvestigasi dampak dari kencan online.

Advokasi juga akan terus dilakukan sehingga PBB bisa memberikan pendidikan seks secara online sebagai salah satu langkah untuk bisa mengakhiri kasus infeksi HIV pada tahun 2030 mendatang.

"Infeksi AIDS tidak akan pernah berhenti di dunia bila masalah ini tidak bisa dikendalikan," sebut Cheng.

(tyo)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK