Iklan Retargeting Dorong Penjualan E-commerce

Aditya Panji, CNN Indonesia | Sabtu, 27/02/2016 06:00 WIB
Iklan Retargeting Dorong Penjualan E-commerce Direktur Pelaksana Criteo Asia Tenggara, Yuko Saito. (CNN Indonesia/Aditya Panji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bukan rahasia umum jika perusahaan e-commerce mengandalkan iklan online untuk menumbuhkan penjualan. Tetapi bukan sembarang iklan online, karena mereka mengandalkan iklan online retargeting.

Hampir semua perusahaan e-commerce besar mengalokasikan biaya besar untuk iklan online retargeting, contohnya MatahariMall. Sebanyak 60 persen belanja iklan mereka dialokasikan untuk pemasaran online, yang didominasi oleh iklan retargeting.

Kepala Pemasaran Online MatahariMall Timothy Martin mencatat, iklan retargeting online menghasilkan lebih dari 30 persen dari volume penjualan secara keseluruhan hingg saat ini.


Penjualan produk di MatahariMall secara total tumbuh 160 persen dari bulan ke bulan dengan rasio laba atas biaya iklan (return of investment) sebesar 900 persen.

Sejak diluncurkan pada September 2015, MatahariMall beriklan retargeting melalui perusahaan Criteo asal Perancis dan hasilnya dinilai memuaskan.

Criteo memasang skrip pemrograman di mesin MatahariMall untuk melacak perilaku pengunjung yang datang dari situs web dan aplikasi mobile. Criteo mengumpulkan data lalu menganalisis kebiasaan pengunjung.

Criteo kemudian akan menampilkan iklan berisi rekomendasi produk yang sedang dicari. Iklan ini bisa tampil di aplikasi mobile maupun situs web di luar MatahariMall yang sedang dibuka pengguna.

Timothy berkata, pihaknya merasa perlu berinvestasi di iklan retargeting untuk meningkatkan jumlah pembeli. Saat ini, jumlah pengunjung yang akhirnya melakukan pembelian di MatahariMall (conversion rate) adalah 2 persen.

Itu berarti setidaknya 98 persen dari pengunjung MatahariMall tidak melakukan pembelian.

“Kami tentu berharap conversion rate tumbuh di atas rata-rata industri. Jika perlu sampai dua kali lipat,” kata Timothy yang menegaskan rata-rata conversion rate industri e-commerce adalah 2 persen.

Perusahaan seperti Critero menyediakan teknologi kecerdasan buatan yang membaca kebiasaan konsumen. Mereka akan menampilkan iklan di lintas perangkat dan platform yang seakan mengingatkan konsumen untuk membeli produk yang pernah mereka cari di layanan e-commerce.

Criteo sendiri mengaku bakal agresif mencari klien di pasar Indonesia karena melihat persaingan e-commerce yang makin ketat, dan hampir semua perusahaan e-commerce agresif “membakar” uangnya untuk beriklan online. Perusahaan mencatat, penjualan ritel online di Indonesia pada 2015 mencapai US$3,22 miliar atau tumbuh 65,6 persen dibandingkan 2014.

“Indonesia memberi kontribusi terbesar untuk pendapatan Criteo di pasar Asia Tenggara,” kata Yuko Saito, Direktur Pelaksana Criteo Asia Tenggara, saat ditemui CNNIndonesia.com di Jakarta, Kamis (25/2).

Criteo mengklaim teknologi mereka turut menekan biaya perusahaan e-commerce dalam merancang iklan banner di berbagai situs. Yuko berkata, pihaknya telah merancang berbagai tata letak banner secara dinamis untuk didistribusikan di berbagai situs web.

Secara umum, Criteo telah bermitra dengan lebih dari 14.000 perusahaan penerbit media online dan 9.250 pengiklan secara global. Di Indonesia, mereka mengklaim telah bekerjasama dengan sejumlah penerbit besar dalam industri media online. (adt/eno)