Anthony Tan, Pendiri Grab yang Mendukung dan Menggoyang Taksi

Aditya Panji , CNN Indonesia | Selasa, 15/03/2016 07:32 WIB
Anthony Tan, Pendiri Grab yang Mendukung dan Menggoyang Taksi Anthony Tan, pendiri dan CEO Grab. (Dok. Grab)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anthony Tan sedang kuliah di Harvard Business School, Amerika Serikat, ketika teman sekelasnya bercerita tentang betapa sulitnya mendapatkan taksi di Malaysia.

"Apa yang salah dengan sistem taksi?" kata Anthony, mengenang perkataan teman tentang negara asalnya tiga tahun lalu, seperti dikutip dari Bloomberg. Temannya juga menegaskan, "Kakek buyut Anda adalah seorang sopir taksi, kakekmu memulai industri otomotif Jepang di Malaysia, ayo lakukan sesuatu tentang ini."

Anthony adalah anak konglomerat di Malaysia. Ayahnya, Tan Heng Chew, menjalankan perusahaan Tan Chong Motor Holdings Bhd yang kini jadi distributor tunggal mobil Nissan di Malaysia.

Anak bungsu dari tiga bersaudara bekerja untuk perusahaan keluarga setelah lulus dari University of Chicago pada 2004. Dua kakaknya kini memilih bekerja di perusahaan keluarga.

Anthony melanjutkan kuliahnya di Harvard Business School untuk Master of Business Administration (MBA) sejak 2009 sampai 2011.

Anthony kemudian menyusun rencana bisnis yang mirip dengan layanan Uber pada 2012. Di tahun yang sama, Anthony keluar dari bisnis keluarga. Semua itu dia lakukan untuk membangun GrabTaxi, aplikasi yang pada awalnya dirancang untuk mendukung perusahaan taksi, namun belakangan juga menggoyang perusahaan taksi.

GrabTaxi menjadi aplikasi yang menghubungkan penumpang dengan pengemudi taksi dari berbagai perusahaan. Di Indonesia, Express dan Putra merupakan klien GrabTaxi.

Perusahaan digerakan dari dukungan investor perorangan maupun pemodal ventura. Tetapi Anthony memilih kantor pusat GrabTaxi di Singapura, bukan Malaysia sebagai negara asalnya.


Ketika GrabTaxi hadir di Indonesia, seorang sopir taksi di Jakarta mengatakan bisa lebih banyak mendapatkan penumpang dan pendapatannya tumbuh 15 persen dibandingkan sebelum memakai aplikasi ini. GrabTaxi juga memberi bonus kepada pengemudi dan memberi diskon kepada penumpang.

Tetapi perlahan, GrabTaxi menurunkan bonusnya kepada pengemudi bahkan mengambil komisi dari setiap perjalanan yang diraih dari GrabTaxi.

GrabTaxi semakin membuat pusing perusahaan taksi dengan meluncurkan GrabCar pada Juni 2015 di Bali. Aplikasi ini mirip seperti Uber, yang memungkinkan mobil pribadi beroperasi mengangkut penumpang yang berbasis aplikasi online. GrabCar memperkuat posisinya dengan hadir di Jakarta pada Agustus 2015.

Terbesar di Asia Tenggara

Tiga tahun berjalan, bisnis yang dirintis Anthony tumbuh menjadi aplikasi layanan kendaraan panggilan terbesar di Asia Tenggara. Pria 34 tahun ini memutuskan mengubah nama aplikasi GrabTaxi menjadi Grab pada awal 2016. Dia pun berharap Grab bisa meraih untung di tahun ini dari beberapa layanan.

GrabTaxi memutuskan ganti nama menjadi Grab di tahun 2016 ini. (CNN Indonesia/Aditya Panji)


Grab telah menggalang pendanaan sebesar US$ 700 juta sejak pertama kali dibangun. Perusahaan ini telah menerima investasi dari SoftBank dari Jepang, China Investment Corp, Temasek Holdings dari Singapura, dan Didi Kuaidi dari China yang memberi layanan serupa dengan Grab.

GrabTaxi jadi aplikasi yang tak tergoyahkan untuk layanan taksi panggilan. GrabCar bersaing dengan Uber dari Amerika Serikat yang juga agresif memperluas pasar operasional untuk layanan mobil panggilan. Sementara di Indonesia, GrabBike bersaing dengan Gojek yang dibangun Nadiem Makarim di bisnis ojek panggilan dan kurir instan.

Sejauh ini, Grab beroperasi di Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. 


Di Indonesia, saat ini Grab memberi empat layanan berupa GrabTaxi, GrabCar, GrabBike yang memberi layanan ojek online, dan GrabExpress selaku kurir instan.

Digoyang Perusahaan Taksi

Ibarat sebuah pohon. Semakin tinggi tumbuh, semakin kencang angin menerpa. Hal ini juga dialami Grab, juga terjadi di Indonesia.

Pada 14 Maret 2016, ratusan sopir taksi berdemonstrasi di Jakarta yang meminta pemerintah memblokir aplikasi mobil panggilan seperti Uber dan GrabCar. Koordinator aksi ini, Sodikin, menilai keberadaan aplikasi ini telah "merampok mata pencahariannya."

Ratusan sopir taksi melakukan demonstrasi di depan Balai Kota DKI Jakarta menuntut pelarangan UberTaxi dan GrabCar, Senin (14/3). (CNN Indonesia/Aulia Bintang)


Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menanggapi demonstrasi ini dengan melayangkan surat permohonan pemblokiran aplikasi Uber (Uber Asia Limited) dan GrabCar (PT. Solusi Transportasi Indonesi) kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Disebutkan, kedua perusahaan penyedia aplikasi tersebut telah melanggar pasal 138 ayat (3) UU no. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menyatakan, angkutan umum dan/atau barang hanya dilakukan dengan Kendaraan Bermotor Umum. Layanan GrabCar dan Uber pun dinilai melakukan pelanggaran pasal 139 ayat (4) UU no. 22 tahun 2009 mengenai penyediaan jasa angkutan umum dilaksanakan oleh badan usaha milik negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Jonan juga berpendapat di dalam surat permohonannya bahwa kedua perusahaan tersebut milik negara asing sehingga "dapat berpotensi membahayakan keamanan negara karena masyarakat luas yang menggunakan aplikasi tersebut tidak ada jaminan keamanan atas kerahasiaannya."


Pemblokiran ini tinggal menunggu persetujuan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, yang hingga kini belum memberi komentar.

Grab tak diam saja. Mereka membela diri dengan menyatakan telah memiliki entitas legal di Indonesia dan membayar pajak. "Kehadiran Grab turut membuka lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan kehidupan para mitra pengemudi. Teknologi kami memungkinkan para mitra mendapatkan penghasilan lebih baik," kata Ridzki Kramadibrata, Managing Director Grab Indonesia.

Perusahaan Anthony di Indonesia ini terbilang sigap dalam menanggapi keputusan pemerintah. Kepada CNBC, Anthony sempat berkata bahwa perusahaannya memiliki rekor kerja sama yang baik dengan pemerintah. Dia memastikan telah beroperasi secara legal di semua negara, dan hal ini membedakan Grab dengan Uber di Indonesia yang sampai sekarang tidak memiliki badan hukum.

Anthony sendiri mengatakan lebih suka untuk melihat pasar menentukan pilihan. Dia punya ambisi menjadikan Grab sebagai salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara dan telah menetapkan pencapaian jangka panjang hingga nanti berusia 50 tahun.

"Bagaimana kami bisa membangun membangun perusahaan teknologi Asia Tenggara terbesar yang pernah terlihat," tutur Anthony.