Kebangkitan Sharing Economy di Indonesia

Hani Nur Fajrina, Aditya Panji , CNN Indonesia | Selasa, 29/03/2016 14:28 WIB
Kebangkitan <i>Sharing Economy</i> di Indonesia Pengemudi GrabBike dan Gojek melintasi kawasan Sudirman, Jakarta, pada Jumat, 18 Desember 2015. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bayangkan Anda seorang turis yang datang ke suatu negara untuk menghadiri pesta. Anda menginap di apartemen yang disediakan individu, bukan jaringan hotel. Pergi ke sana-sini dengan kendaraan yang juga disediakan individu, bukan operator taksi. Menyewa tuxedo elegan karena tak mau ribet membawanya di pesawat. Semua itu Anda pesan dari aplikasi berbasis Internet yang akan membantu mengurangi biaya ketimbang harus membeli semua keperluan itu.

Ini adalah contoh kecil dari ekonomi berbagi atau sharing economy, di mana individu dapat meminjam atau menyewa aset milik orang lain.

Model ekonomi berbagi kebanyakan meminjam atau menyewakan aset bernilai tinggi yang belum dimanfaatkan secara maksimal sepanjang waktu.

“Ketika banyak konsumen masih memiliki masalah dengan produk dan jasa yang memenuhi kebutuhannya, maka disitu merupakan peluang terciptanya solusi yang lebih inovatif, termasuk dengan model marketplace dan sharing economy,” kata Andrias Ekoyuono, Business Development Ideosource, sebuah perusahaan modal ventura yang berbasis di Jakarta.

Sharing economy bukanlah hal baru. Tetapi ada beberapa faktor yang membuatnya bangkit belakangan ini dan jadi model bisnis yang banyak didukung, termasuk di Indonesia.

Pertama, akses Internet yang memberikan sarana untuk bertukar informasi. Kedua, perangkat mobile yang membuat kemudahan akses terhadap informasi itu menjadi kapan saja dan di mana saja saat dibutuhkan.

Hal ketiga, ini bisa jadi adalah hal terpenting menurut pandangan Andrias, kemunculan platform marketplace di Internet yang menciptakan relasi baru yang bentuknya bukan lagi dari konsumen-korporasi-pekerja, tetapi berubah jadi konsumen-wirausaha penyedia produk dan jasa.


Model ekonomi berbagi ini memiliki kelebihan akses yang luas terhadap ketersediaan, karena barang atau jasa bisa disediakan oleh siapa saja.

Salah satu contohnya adalah Airbnb, yang menyediakan tempat tinggal sementara di berbagai kota di dunia. Kemudian Uber yang menyediakan kendaraan mobil. Aset rumah/apartemen dan mobil itu bisa disediakan oleh siapa saja, tak terbatas pada satu korporasi saja atau beberapa pekerja saja yang mengoperasikannya.

Dari banyaknya pihak yang memberikan barang dan jasa itu, konsumen semakin diuntungkan karena ada keberagaman pilihan dan kemudahan pemenuhan kebutuhan.

Dari konsep berbagi ini pula, menurut Andrias, memungkinkan terjadinya harga lebih efisien karena di sana terjadi efisiensi pula dalam hal penyediaan kebutuhan dan operasionalnya.


Namun, Andrias memandang ada beberapa kekurangan yang bisa timbul dari model ekonomi berbagi ini.

“Sementara kekurangannya tentu saja kemungkinan ketidakseragaman kualitas produk dan layanan dari merchants, serta ragam perilaku konsumen. Namun semua biasanya dipantau melalui sistem rating,” kata Andrias ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Selama ini rating atau jumlah bintang/poin yang dikumpulkan penyedia barang/jasa menjadi acuan bagi konsumen untuk memanfaatkan apa yang diberikan penyedia.

Jika si penyedia memberi layanan yang memuaskan, si konsumen yang senang dengan pelayanan itu akan memberikan bintang atau poin yang besar. Bintang atau poin ini akan terakumulasi dari puluhan bahkan jutaan konsumen yang memberikan bintang atau poin itu.

Papan Selancar dan Pelampung

Sebelum masa Internet ada, model ekonomi berbagi telah hadir di tengah masyarakat. Salah satu yang lekat dalam ingatan kita orang Indonesia, adalah penyewaan pelampung jika hendak bermain di pantai.

Bagi Anda yang berlibur ke Bali untuk berselancar di laut, tentu lebih memilih menyewa papan selancar ketimbang harus membeli dan membawanya dari rumah. Padahal, belum tentu juga mahir memainkannya.

Begitu juga dengan lahan parkir. Bagi yang tak memiliki lahan luas, mereka bisa menyewa lahan kepada tetangga yang punya lahan tak terpakai, namun dengan konsekuensi membayar sejumlah uang untuk sewa.

Pola saling pinjam dan saling memanfaatkan ini berbeda dengan model konglomerat. Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sekaligus Pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali berpendapat, model konglomerat selama ini berupaya untuk memiliki semua aset.

Sementara model ekonomi berbagi, membutuhkan partisipasi dari para pemain yang terlibat dalam ekosistem untuk berbagi peran masing-masing dan memberdayakan aset yang menganggur.

"Sharing economy adalah sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan value, kemandirian, dan kesejahteraan," jelasnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Di era Internet, ekonomi berbagi diterapkan di beberapa situs web atau aplikasi seperti Tokopedia yang menyediakan berbagai macam produk, lalu Gojek yang menyediakan kendaraan ojek motor, dan GrabCar yang menyediakan mobil panggilan. Dengan aplikasi dan Internet, ekonomi berbagi bangkit dan semua mata tertuju padanya.

Semua layanan itu memungkinkan siapa saja menjadi pengecer atau penyewa sekaligus pengemudi kendaraan. Model ini memungkinkan konsumen terhubung langsung dengan wirausahawan/penyedia barang atau jasa lewat sebuah platform Internet.

Keuntungan dan Kontroversi

Andrias berkata, jika model ekonomi berbagi ini berjalan dengan baik, konsumen akan diuntungkan dengan kecepatan pemenuhan kebutuhan, keberagaman pilihan, dan harga yang kompetitif.

Harga lebih murah bisa diberikan karena pada umumnya, penyedia barang atau jasa adalah individu atau wirausahawan kecil yang memiliki struktur biaya lebih murah dibandingkan korporasi.

Pengemudi Gojek mencari penumpang lewat aplikasi di kawasan Sudirman, Jakarta, pada 18 Desember 2015. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Ditambah lagi dengan model bisnis marketplace paltform teknologi hanya mengutip sedikit keuntungan dari setiap transaksi, sehingga ini memungkinkan harga yang dijual ke pasar lebih kompetitif.

“Sistem ini juga menciptakan banyak lapangan kerja dan wirausahawan kecil yang memiliki akses terhadap konsumen serta kesempatan untuk lebih berkembang sesuai dengan kerja keras dan kualitasnya,” tegas Andrias.

Seperti halnya Gojek, telah mempekerjakan sekitar 200.000 pengemudi ojek motor di seluruh Indonesia pada akhir 2015, di mana sekitar 100.000 dari jumlah itu berada di Jakarta.

Dalam sebuah kesempatan berbincang dengan CNNIndonesia.com, Pendiri sekaligus CEO Gojek Nadiem Makarim berkata, pihaknya telah melepas belenggu para pengemudi ojek motor, di mana mereka bisa memberi layanan lebih berupa kurir instan sampai pembeli makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Namun di balik segala keuntungan itu, model ekonomi berbagi berbasis teknologi pasti bertemu dengan kendala regulasi. Ini terjadi di semua belahan negara. Terkait pajak. Terkait izin. Terkait lain-lain.

"Semua penerapan yang dilakukan belum ada izinnya. Maka baru-baru ini untuk kasus Uber dan Grab, dibikin jalan tengahnya untuk bikin koperasi. Namun hal ini 'kan baru tercetus setelah sudah banyak pro dan kontra. Pemerintah saya lihat memang belum sigap dengan birokrasi yang lama," ucap Rhenald.


Di Amsterdam, pejabat menyisir daftar di Airbnb untuk melacak hotel tanpa izin. Di Jakarta, baru saja terjadi demonstrasi besar-besaran dari sopir taksi yang memprotes layanan kendaraan panggilan berbasis aplikasi, baik itu mobil atau motor.

Ekonomi berbagi adalah contoh atas manfaat dari Internet dan teknologi. Konsumen menikmati harga yang kompetitif. Tetapi ada saja upaya menghentikan kompetisi. Di sisi lain regulator akan terbangun untuk melihat apa yang terjadi. Ini adalah tanda dari sebuah potensi. Inilah waktu untuk mulai peduli dengan ekonomi berbagi.