Urbanhire, Startup Aplikasi Perekrutan Karyawan

Aditya Panji, CNN Indonesia | Jumat, 01/07/2016 18:32 WIB
Urbanhire, Startup Aplikasi Perekrutan Karyawan Tiga pendiri Urbanhire. Dari kiri ke kanan: Hengki Sihombing (CTO), Benson Kawengian (CEO), dan Jepri Sinaga (SVP Product and Engineering). (Dok. Urbanhire)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah persaingan super ketat portal informasi lowongan kerja, ada sebuah perusahaan rintisan (startup) digital yang hendak tampil beda. Mereka memukul para pesaing dengan solusi yang memungkinkan situs milik mitra memiliki halaman karier dalam hitungan menit, mengumpulkan aplikasi dari para kandidat untuk kemudian dievaluasi, sampai membuat jadwal wawancara.

Itulah beberapa solusi dari Urbanhire, sebuah startup asal Jakarta yang menawarkan sistem pelacakan aplikasi para pelamar kerja atau applicant tracking system (ATS). Semua itu berbasis komputasi awan (cloud computing).

Perusahaan ini didirikan oleh tiga pemuda. Benson Kawengian (CEO), Hengki Sihombing (CTO), dan Jepri Sinaga (SVP Product and Engineering). Mereka bertemu dalam sebuah acara hackathon di Jakarta tahun lalu, dan sepakat membangun produk untuk memecahkan masalah perekrutan yang dihadapi perusahaan.

Hengki dan Jepri dahulu dikenal sebagai pendiri situs agregator lowongan kerja Karejo. Keduanya sempat bekerja untuk startup OLX, Wego, dan Printerous.

Ide awalnya, Urbanhire ingin menindaklanjuti apa yang tak bisa dilakukan JobStreet dan portal lowongan kerja lain.

“Selama ini perusahaan mengeluarkan sejumlah uang untuk iklan lowongan kerja. Lalu aplikasi dari pelamar masuk ke email, dan semua berhenti di situ. Departemen HRD lalu harus mengelompokan dan memilih secara manual,” kata pendiri sekaligus CEO Urbanhire, Benson Kawengian, kepada CNNIndonesia.com.

Urbanhire bukan sekadar memberi informasi lowongan kerja di halaman muka situs web. Di belakang itu ada ide besar untuk menjadi platform yang menghubungkan dan memfasilitasi perekrutan antara perusahaan dengan pelamar kerja, dari awal hingga akhir proses.


Perusahaan yang memakai layanan Urbanhire dapat membuka lowongan dan menulis deskripsi keahlian sampai informasi gaji. Salah satu teknologi kerennya, Urbanhire menyediakan widget canggih yang dapat disempatkan pada mesin content management system (CMS) guna membuat halaman karier di situs web mitra.

Benson menjelaskan, rangkaian skrip penyematan dari widget Urbanhire ini bisa bekerja di segala mesin CMS populer, mulai dari Joomla sampai WordPress.

“Ini semudah copy-paste script yang telah tersedia, dan website milik mitra kami sudah memiliki halaman karier tanpa harus repot membangun halaman khusus,” tutur Benson.

Iklan dari mitra ini selanjutnya bisa disebarluaskan secara gratis ke portal lowongan kerja yang telah jadi mitra Urbanhire, seperti Indeed, Mitula, Jora, Trovit, StackOverflow, Jooble, sampai CareerJet. Jumlah ini disebut Benson akan terus bertambah.

Tiga pendiri Urbanhire. Dari kiri ke kanan: Jepri Sinaga (SVP Product and Engineering), Benson Kawengian (CEO), dan Hengki Sihombing (CTO). (Dok. Urbanhire)

Perusahaan mitra lalu bisa memantau semua lamaran digital yang masuk ke boks surat dari para pelamar yang juga mengirim lewat platform Urbanhire. Surat lamaran ini kemudian dikelompokan secara otomatis sesuai kebutuhan posisi. Mereka juga akan memanfaatkan kecerdasan buatan agar sistem lebih canggih dalam membaca profil pelamar.

Yang menarik dari Urbanhire, platform ini memungkinkan divisi sumber daya manusia untuk mengundang manajer atau kepala divisi yang sedang mencari karyawan baru, untuk terlibat aktif mengevaluasi para kandidat.

Misalnya, manajer dapat memberi catatan khusus untuk seorang kandidat potensial dan mereka bisa mengetahui status perekrutan beserta segala penawarannya.

Menurut Benson, kolaborasi macam ini bisa menekan miskomunikasi antara divisi sumber daya manusia dengan para manager yang sedang membutuhkan karyawan. “Kita tahu sering sekali terjadi miskomunikasi karena antar divisi berjalan sendiri-sendiri. Di Urbanhire, proses perekrutan bisa melibatkan user secara langsung dan semua bisa dilakukan dalam satu platform,” tegas Benson.


Platform Urbanhire kemudian memungkinkan perusahaan berbalas email dengan kandidat untuk menentukan jadwal wawancara. Ke depannya Urbanhire bakal mengembangkan fitur untuk memungkinkan mitra melakukan tes secara online sampai melakukan konferensi video.

Teknologi yang disediakan Urbanhire bisa dipakai secara gratis jika perusahaan hanya membuka satu lowongan pekerjaan aktif. Jika ingin lebih, Urbanhire membanderol layanan berbayar mulai dari Rp690.000 per bulan untuk tiga lowongan kerja aktif dengan melibatkan sampai 50 pengguna dalam satu perusahaan. Layanan berbayar yang jadi strategi menghasilkan uang Urbanhire, dibanderol lebih murah jika mitra mengambil periode tahunan.

Dalam tiga bulan setelah rilis pada Maret 2016, Urbanhire mengklaim telah menampung 12.000 aplikasi, 4.500 pencari kerja, 700 lowongan kerja dari platform Urbanhire dan 50.000 lowongan dari Urbanhire Search, lebih dari 500 mitra perusahaan, dan 10 mitra portal lowongan kerja.

Saat ini, Benson berkata pihaknya sedang membuka penggalangan dana Seri A guna memperkuat teknologi, mengembangkan bisnis, dan rencana ekspansi ke pasar Asia Tenggara.

Sebelumnya Urbanhire telah meraih pendanaan yang tak diungkap nilainya dari sejumlah pemodal ventura dan perorangan, seperti RMKB Ventures, Marissa Soeryadjaya, Megain Widjaya, dan Farrel Sutantio.

Urbanhire ke depannya juga akan membangun layanan yang mudah digunakan oleh para mitra perusahaan untuk memenuhi kebutuhan merekrut yang tidak membuang waktu.

Berdasarkan data McKinsey Global Institute (2014), Indonesia dan Myanmar diprediksi akan mengalami kekurangan 9 juta tenaga kerja ahli dan 13 juta tenaga semi ahli pada 2030. Untuk membangun dan menjaga sumber daya manusia berkualitas, Urbanhire percaya teknologi mereka bisa jadi solusi masa depan sistem perekrutan efektif berbasis kecerdasan buatan.

“Ya, ini seperti online head hunter, dalam platform tunggal dan jauh lebih efisien,” tutup Benson. (adt/tyo)