Bungkam Berita Hasut Soal Palestina, Israel Gandeng Facebook

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Kamis, 15/09/2016 13:57 WIB
Bungkam Berita Hasut Soal Palestina, Israel Gandeng Facebook Ilustrasi (REUTERS/Amir Cohen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Israel telah bekerjasama dengan Facebook untuk memerangi publikasi yang bersifat menghasut di jejaring sosial raksasanya itu. Salah satunya tentu saja terkait masalah kekerasan dengan Palestina.

Menteri Dalam Negeri Gilad Erdan dan Menteri Keadilan Ayelet Shaked mengumumkan pada Senin kemarin (12/9) bahwa pihaknya telah bertemu dengan eksekutif Facebook demi membahas upaya monitor yang nantinya akan dilakukan raksasa media sosial itu terhadap publikasi hasutan.

Dilaporkan The Guardian, Israel mengeluarkan argumen mengenai gelombang kekerasan dengan warga Palestina sejak setahun belakangan yang disebabkan oleh "hasutan sesat". Hal tersebut diakui pihak Israel telah merebak di situs media sosial.


Dari situ, Israel berupaya menjalin kemitraan dengan Facebook agar perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg itu mau lebih serius lagi memantau dan mengontrol konten yang seliweran di media sosialnya.

Erdan dan Shaked dilaporkan telah mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang memaparkan mengenai 'paksaan' pemerintah Israel terhadap media sosial untuk menyingkirkan konten yang mereka anggap sebagai hasutan.

Tak hanya itu, anggota parlemen oposisi juga telah mengajukan RUU yang isinya berupa paksaan kepada perusahaan media sosial -- dalam hal ini Facebook-- untuk segera melakukan pemantauan. Jika tidak, mereka menyiapkan denda yang akan dikenai ke perusahaan.

Upaya tersebut kemudian disebut-sebut menimbulkan perdebatan dari berbagai pihak, salah satunya menyebutkan bahwa apakah Facebook betul-betul bertanggung jawab atas materi yang diunggah oleh para penggunanya.

Kendati begitu, Facebook melalui pernyataan resminya mengatakan, "tindakan ekstremis di ranah online hanya bisa diperangi dengan kerjasama kuat antara pembuat kebijakan, masyarakat sipil, akademisi, dan perusahaan. Hal ini nyata terjadi di Israel dan lokasi lain di seluruh dunia."

Sekadar diketahui, pihak Israel selama empat bulan terakhir telah mengajukan 158 permohonan kasus publikasi hasutan ke Facebook yang ingin disingkirkan. Sementara 13 lainnya dilayangkan ke YouTube.


Dari penuturan Shaked, Facebook mengabulkan 95 persen permohonan tersebut di media sosialnya, serta 80 persen lain dikabulkan oleh pihak YouTube.

"Kami tahu bahwa jumlah hasutan online semakin banyak, sehingga kami perlu melanjutkan dan meningkatkan upaya ini," kata Shaked pada acara konferensi keamanan.

Dari laporan berbagai media internasional, pihak Palestina menolak tuduhan Israel bahawa kekerasan yang terjadi selama ini disebabkan oleh hasutan.

Menurut Palestina, kenyataannya adalah kekerasan itu berasal dari penjajahan yang dilakukan militer Israel selama hampir 50 tahun, serta minimnya harapan untuk memperoleh kemerdekaan sendiri agar menjadi negara berdaulat. (tyo)