Bekraf Ajak TKW dan Ibu Rumah Tangga Belajar Coding

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Senin, 07/11/2016 02:20 WIB
Bekraf Ajak TKW dan Ibu Rumah Tangga Belajar Coding Ilustrasi (Foto: Roman Drits/Barn Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) ingin memperluas cakupan industri startup hingga menyasar kaum hawa. Kalangan ibu rumah tangga dan tenaga kerja wanita di negara tetangga tak luput dari bidikan program Bekraf untuk mengembangkan ekosistem startup di Indonesia.

Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Abdur Rohim Boy Berawi menjelaskan program yang bertajuk Coding Mom merupakan pelatihan pemrograman bahasa komputer yang sengaja ditujukan untuk ibu rumah tangga.
"Kami melihat ibu rumah tangga memiliki banyak waktu luang, kenapa tidak digunakan untuk mengembangkan aplikasi atau membuat situs untuk jualan produk tertentu," ucap pria yang disapa Boy, di sela lokakarya 'Startup Pitch Day' di Sanur, Bali, Sabtu (5/11).

Sejak diluncurkan pada Februari tahun ini, program Coding Mom sudah menyambangi tujuh kota antara lain Bandung, Bogor, Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang dan Makassar.


Beberapa 'lulusan' program ini disebut Boy sudah diterima sebagai pekerja paruh waktu untuk perusahaan rintisan seperti Telunjuk.com, 7 Langit, Tokopedia, dan 7-Eleven Digital.

Untuk memperluas cakupan program, beberapa pekan lalu Bekraf baru saja menyepakati kerjasama dengan Departemen Tenaga Kerja dan Kementerian Luar Negeri untuk membawa program Coding Mom kepada pekerja perempuan di luar negeri.

Rencananya, tahun ini program tersebut akan diboyong ke tiga besar negara dengan jumlah TKW lumayan besar.

"Tahun ini TKW di Singapura, Hong Kong, dan Korea Selatan akan mendapatkan sosialisasi dan pelatihan coding. Harapannya di negeri orang para TKW ini bisa naik kelas jadi memiliki kemampuan tambahan yang mumpuni," ungkap Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik.

Sebagai langkah awal, Ricky mengatakan akan membuka kelas yang ditargetkan bisa menjangkau 250 tenaga kerja perempuan di Singapura.

Untuk program pelatihan sendiri rencananya akan mulai dibuka pada Januari 2017 dengan satu hingga dua kelas yang disesuaikan minat dan potensi tenaga kerja di masing-masing negara.

"Harapannya nanti mereka tidak lagi bekerja cari uang ke luar negeri. Saat kembali ke Indonesia ada kemampuan lain yang bisa mendukung kemandirian mereka, bisa coding dari kampung halaman tanpa perlu jauh dari keluarga," kata Ricky lagi.

Mengenai akses permodalan, Fadjar Hutomo, Deputi Akses Permodalan Bekraf mengatakan hal tersebut justru bukan menjadi satu masalah besar bagi para TKW di luar negeri. Terlebih lembaga pemerintahan nonkemeneterian ini juga sedang menyiapkan program pengelolaan keuangan untuk TKW di Hong Kong.

"Menariknya, ada pekerja yang sudah bekerja lima hingga 10 tahun di Hong Kong. Mereka sudah mengerti sekali keinginan masyarakat di sana, kalau ada keterampilan tambahan kan bisa sangat bermanfaat," tutup pria yang disapa Tommy.

(evn/tyo)