Bekraf: Startup Indonesia Bukan Sekedar Butuh Dana

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Minggu, 06/11/2016 08:42 WIB
Bekraf: Startup Indonesia Bukan Sekedar Butuh Dana Bekraf Startup Pitch Day (Foto: CNN Indonesia/Ervina Anggraini)
Bali, CNN Indonesia --
Berbeda dengan rencana Kementerian Koordinator Perekonomian dan Kementerian Komunikasi dan Informatika yang berkeinginan membiayai startup, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dalam waktu dekat justru tidak akan menempuh mekanisme tersebut.
Ricky Joseph Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengatakan saat ini pihaknya tidak memiliki mekanisme pendanaan startup. Hal tersebut dikarenakan, sumber pendanaan Bekraf saat ini masih bergantung pada sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Untuk strategi jangka pendek, Bekraf memang tidak mengenal mekanisme pendanaan startup. APBN disusun tahunan jadi tidak bisa dipakai untuk pendanaan," kata Ricky sesaat setelah menjadi pembicara workshop 'Startup Pitch Day' di Sanur, Bali, Sabtu (5/11).

Alih-alih menjadi pemodal bagi perusahaan rintisan, Ricky mengatakan strategi jangka pendek Bekraf akan menjadi fasilitator dari lembaga pendanaan dan startup yang membutuhkan pendanaan.
Terlebih saat ini menurutnya, kebutuhan startup bukan hanya terbatas pada aspek pendanaan, tetapi pada pengembangan pasar dan peningkatan kapasitas produk.
Fajar Hutomo, Deputi Akses Permodalan, Badan Ekonomi Kreatif menambahkan, unsur permodalan untuk startup memiliki skema yang berbeda dengan skema perbankan.
"Kami (Bekraf) tidak bisa menjadi pemodal startup karena ada irisan dengan sebagian startup untuk mendapatkan akses ke perbankan atau sektor private," ucapnya saat ditemui di acara yang sama.
Ia melanjutkan, salah satu peran yang bisa dilakukan Bekraf saat ini bisa dilakukan Bekraf yakni memfasilitasi startup untuk bertemu dengan pemodal ventura dan memberikan pelatihan pitching di hadapan investor.
Fokus inilah yang akan diboyong Bekraf untuk menjaga keberlangsungan iklim startup di Indonesia. Fajar menjelaskan, tahun 2017 Bekraf bukan hanya berupaya mendorong pertumbuhan dari sisi lembaga keuangan saja, tetapi lebih pada proses riset dan edukasi.
"Langkah yang harus dilakukan dari sisi aspek suplai, tapi juga dari permintaan harus diperbaiki. Pengetahuan ekonomi berbasis pengetahuan seperti kemampuan pitching dalam bahasa asing harus ditingkatkan," imbuhnya.

Ari Juliano Gema, Deputi Fasilitas HKI dan Regulasi Bekraf mengatakan saat ini diperlukan regulasi yang mendukung hak kekayaan intelektual untuk setiap ide dan produk yang dibuat oleh pelaku startup. Untuk itu, lembaga pemerintahan nonkementerian ini akan memfasilitasi pendampingan konsultasi hukum untuk mendaftarkan hak cipta setiap produk yang dibuat.
Ia menargetkan hingga akhir tahun 2016 akan ada 1.000 pendaftaran terkait hak cipta startup yang didaftarkan. Bekraf dalam hal ini akan memberikan bantuan teknis dan finansial untuk startup dalam skala mikro.

"Kami mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Korea Selatan. Tahun depan targetnya Bekrag bisa memfasilitasi pendampingan pendirian badan hukum bagi startup," ucap Ari.

Salah satu program yang dimaksud yakni lokakarya Startup Pitch Day yang diselenggarakan di Bali dengan melibatkan 25 pelaku startup dari Depok, Medan, Malang, Bandung, dan Bali yang akan dipertemukan dengan 14 calon investor. Para pendiri startup berkesempatan bertemu dengan investor potensial seperti Fenox, Angin, East Venture, Celerina Judisari, Kompas Gramedia Group, Mizan, Naveen HB, Budi Isman, Kenny Wirya, dan Farman Gunawan.

Disamping program pengiriman startup ke luar negeri seperti Istanbul untuk memperluas koneksi dan menambah kemampuan berjejaring serta menambah daftar calon investor asing yang telah dilakukan Bekraf terhadap 11 startup terpilih pada akhir Agustus lalu. Di sisi lain, Bekraf juga berencana untuk menggelar edukasi untuk para calon investor dengan program yang bernama How to Invest In (Hivi). Melalui program investor khususnya angel investor akan mengetahui tata cara berinvestasi di startup, serta dari sisi resiko dan keuntungannya.



(evn/evn)