e-Commerce Indonesia di 2017 Tak Lagi 'Palugada'

Ervina Angraini, CNN Indonesia | Rabu, 07/12/2016 01:26 WIB
e-Commerce Indonesia di 2017 Tak Lagi 'Palugada' di 2017 e-commerce diprediksi akan semakin spesifik dalam penjualan produknya. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri e-commerce Indonesia yang mayoritas berasal dari segmen marketplace diprediksi kian mengerucut di 2017.

Indra Yonathan, Country General Manager Shopback Indonesia mengatakan tren e-commerce di Indonesia tahun depan akan lebih spesifik dan tidak lagi 'palugada' (apa lu mau gue ada).

"Kedepan akan semakin banyak pemain e-commerce vertifikal yang spesifik menjual satu kategori produk, hal itu sejalan dengan yang terjadi di negara-negara maju," kata Indra sesaat setelah diskusi media di Jakarta, Selasa (5/12).


Indra mengatakan saat ini sejatinya sejumlah pemain e-commerce di Indonesia sudah ada spesifik khusus menawarkan produk tertentu saja.

Namun tahun depan jumlahnya akan semakin bertambah, baik dari sisi pelaku e-commerce lokal maupun asing maupun dari sisi kategori produk yang ditawarkan.

"Tahun depan sudah ada beberapa pemain e-commerce asing yang cukup besar dan spesifik di satu bidang dipastikan akan masuk Indonesia. Disamping itu ada juga pemain lokal yang juga spesifik di satu bidang," imbuhnya.

Sejauh ini kategori e-commerce yang spesifik yang sudah ada di bidang kecantikan dan kebutuhan sehari-hari. Berkaca pada kesuksesan e-commerce vertikal di negara lain, tren serupa juga akan tumbuh lebih pesat kedepannya ketimbang marketplace yang menyediakan semua kategori barang.

Terlebih saat ini netizen Indonesia yang mulai melakukan transaksi daring jumlahnya kian meningkat setiap tahunnya. Netizen yang sudah pernah melakukan transaksi daring dipastikan akan kembali berbelanja dengan nominal yang lebih besar dari sebelumnya.

Riset daring yang dilakukan oleh Shopback terhadap 2.734 responden di Medan, Jakarta, Jogjakarta, Bandung, dan Surabaya mendapati saat pertama kali melakukan belanja daring netizen cenderung menghabiskan uang kurang dari Rp250 ribu. Jumlah tersebut meningkat dua hingga empat kali lipat saat transaksi berikutnya dan ketika ada momen khusus.

"Sekitar 43 persen responden yang kami survei mengaku paling tertarik belanja online karena ada potongan harga. Meski kerap ada kendala pada faktor pengiriman, hal itu tidak jadi masalah asalkan dapat barang murah," pungkas Indra.

Urusan pengiriman barang menjadi salah satu keluhan yang kerap dihadapi pembeli produk online. Untuk menjawab hal tersebut, sejumlah pelaku e-commerce pun menawarkan ongkos kirim gratis dan kerjasama dengan perusahaan transportasi online bagi pemesan yang ingin mendapatkan barang pesanan di hari yang sama. (pit/pit)