Hal itu disampaikan oleh Bigo Live yang baru saja kembali beroperasi di Indonesia per 13 Januari 2017 usai memperoleh izin dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Banyaknya lapisan sensor tersebut sengaja untuk memastikan konten mereka bersih dari konten negatif, terutama pornografi yang jadi alasan Kominfo memblokir layanannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiap anggota monitor yang anggotanya berasal dari Indonesia ini dibekali tugas pemantauan yang spesifik. Ada yang mengawasi bagian avatar pengguna, bagian teks percakapan, bahasa yang diucapkan, hingga gambar tayangan.
Kemudian ada AI yang dikembangkan sendiri oleh Bigo. Mesin cerdas tersebut melacak secara otomatis mana konten yang memenuhi unsur pelanggaran. Misalnya terjadi adegan 'syur' di sebuah kanal, maka dengan sendirinya AI itu akan mendeteksi grafik adegan tadi lalu menghentikan paksa siaran.
Selain ketiga alat penapisan tadi, masih ada fitur report button dan dua jenis notifikasi pengingat ke akun pengguna Bigo.
Adapun jenis pelanggaran di Bigo bermacam-macam. Namun gambar rokok dan belahan tubuh jadi pelanggaran terbanyak di Indonesia.
"Ada sekitar 200-300 pelanggaran per hari di Indonesia saja. Pelanggaran paling banyak terjadi pada pukul 10 malam hingga 6 pagi," terang Welly Setiawan, Supervisor monitoring content and avatar for Bigo Live Indonesia.
Isu penapisan konten negatif adalah syarat utama yang diberikan Kominfo untuk Bigo untuk bisa beroperasi kembali di Indonesia. Sebab sebelumnya ada 10 DNS yang telah diblokir Kominfo sebagai penindakan pemerintah atas merrbaknya konten negatif yang diadukan masyarakat.
Dengan sistem penapisan berlapis ini, Bigo berharap bisa memperpanjang usia operasional mereka di Indonesia.
(tyo)