Berantas Hoax, Twitter Siapkan Fitur 'Pencarian Aman'

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Rabu, 08/02/2017 12:36 WIB
Berantas Hoax, Twitter Siapkan Fitur 'Pencarian Aman' Ilustrasi (Foto: REUTERS/Regis Duvignau/Illustration)
Jakarta, CNN Indonesia -- Twitter meluncurkan upaya untuk menekan penyebaran konten dan informasi hoax melalui layanannya dengan membuat sebuah perubahan yang dinilai lebih proaktif.

Dalam blog perusahaan, Twitter memastikan akan ada tiga perubahan untuk menyaring penyebaran konten palsu dan hoax. Sejauh ini ketiga fitur tersebut dapat digunakan untuk layanan versi desktop.

Fitur baru yang dinamakan Safe Search diklaim bisa membantu pengguna menyaring penyebaran konten palsu dan hoax.


Nantinya fitur ini akan otomatis diaktifkan dari menu pencarian Twitter. Namun begitu, pengguna tetap bisa menonaktifkannya jika tidak berkenan.


Sesuai dengan namanya, fitur ini akan menghilangkan konten sensitif serta kicauan dari akun diblokir dari 'hasil pencarian'. Nantinya, konten sensitif tersebut bisa saja ditemukan jika pengguna sengaja mencarinya.

Bukan hanya itu, perusahaan yang dinakhodai Jack Dorsey ini juga memastikan akan menurunkan tweet yang berpotensi melecehkan, merendahkan, hingga bernada ancaman.

Saat pengguna ingin melihat percakapan berbalas dari sebuah tweet, nantinya konten yang bernada sensitif atau tidak berkaitan dengan topik akan otomatis hilang.

Meski begitu, respon-respon tersebut tetap bisa diakses pengguna jika memang sengaja mencarinya. Berbeda dengan Facebook, Twitter memastikan hanya menyembunyikan konten-konten tersebut, bukan menghapusnya secara permanen.


Cara lain yang ditempuh Twitter juga dengan mengidentifikasi pengguna yang ditangguhkan sementara hingga menghentikan mereka untuk membuat akun baru. Untuk proses 'penyaringan' yang satu ini Twitter akan melihat pada perilaku yang berpotensi mengganggu seperti melecehkan pengguna lain.

Juru bicara Twitter mengatakan pihaknya menggunakan algoritma khusus untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan menandai tweet yang bernada melecehkan. Sejauh ini pihak Twitter masih berfokus pada pemberatntasan hoax berdasarkan laporan pengguna.

Layanan berlogo burung biru ini memastikan pembaharuan yang disediakan bukan bermamksud untuk membatasi kebebasan penggunanya dalam berekespresi, tetapi hanya memberikan batasan tanggung jawab setiap konten yang di-tweet.

Fitur-fitur penyaring konten sensitif dipastikan bisa segera dirasakan oleh pengguna dalam beberapa pekan mendatang. (evn/evn)