BNV Labs, Inkubator Startup Khusus Fintech

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 03/03/2017 08:25 WIB
BNV Labs, Inkubator Startup Khusus Fintech Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menghadiri peluncuran BNV Labs, ecosystem builder, yang dibangun Bank Bukopin dan Kibar di Jakarta, Kamis (2/3). (CNN Indonesia/Bintoro Agung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Bukopin mulai menatap serius bisnis Financial Technology (fintech). Bersama Kibar, Bukopin membangun BNV Labs, semacam inkubator yang khusus menggarap startup fintech.

Secara sederhana, BNV Labs akan berfungsi membentuk ekosistem digital di bidang keuangan. Tidak hanya melakukan investasi seperti halnya capital venture, BNV Labs berniat mencari startup potensial, membimbing, hingga mempertemukan mereka dengan pelaku industri yang sudah ada.

Lebih singkatnya lagi, BNV Labs akan beroperasi selayaknya Kibar yang melahirkan startup-startup baru di Indonesia. Bedanya, BNV Labs berfokus di jenis fintech.

"Kenapa kami mendukung startup? Sebab dunia tengah berubah dan kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak terlihat. Misalnya pembayaran dan transaksi melalui pulsa dan lain-lain," tutur Direktur Utama Bank Bukopin Glen Glenardi usai memperkenalkan BNV Labs di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kamis (2/3).

Glen mengaku, selain untuk mengejar perubahan model bisnis yang ditentukan oleh teknologi, BNV Labs dibuat untuk mendukung Gerakan 1000 Startup Digital yang diusung oleh Kibar.

Keputusan Bukopin terjun ke bisnis digital bersama Kibar ini membuatnya sebagai korporasi pertama yang menggarap sektor ini dari hulu ke hilir. Biasanya korporasi yang terlibat dalam bisnis startup digital hanya berfokus di pendanaan.

"Kerja sama Gerakan Nasional 1.000 Digital Startup dan Bank Bukopin merupakan langkah strategis untuk menyuburkan startup fintech," imbuh CEO Kibar Yansen Kamto di tempat yang sama.

Bank Indonesia mencatat ada potensi permintaan pendanaan dalam negeri hingga Rp1.600 triliun. Selain itu, saat ini hanya 36 persen penduduk Indonesia yang memiliki akses ke perbankan. Sementara pengguna ponsel di sini mencapai sekitar 170 juta.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara melihat data itu sebagai peluang bagi perbankan untuk mengeksplorasi potensi industri fintech. Ia juga menilai jika tak cepat, perbankan malah akan digerogoti lebih dalam oleh disrupsi fintech.

"Daripada perbankan digerogoti fintech, lebih baik bekerja sama dengan mereka," pungkas Rudiantara. (tyo)