Remuk Redam United Airlines Dihajar Netizen

Susetyo Dwi Prihadi, CNN Indonesia | Kamis, 13/04/2017 13:46 WIB
Remuk Redam United Airlines Dihajar Netizen Ilustrasi pesawat United Airlines (AFP PHOTO / Josh Edelson)
Jakarta, CNN Indonesia -- United Airlines sedang mengalami pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kondisi maskapai penerbangan asal Amerika Serikat ini bermula di awal pekan kemarin.

Kisahnya bermula saat David Dao, kakek berusia 69 tahun dipaksa keluar lantaran pesawat tersebut telah kelebihan penumpang, Minggu (9/4).

Sebetulnya ada empat penumpang yang dipaksa keluar pesawat. Tiga penumpang keluar tanpa insiden. Namun, penumpang yang diseret keluar ini menolak untuk turun pesawat. David Dao ini yang menolak untuk turun.


Reaksi pun langsung bermunculan di media sosial, sebagian besar atau malah seluruhnya mengecam aksi tak sepantasnya dilakukan oleh maskapai tersebut.

Mereka pun menghukum United mulai dari meme hingga tanda pagar moto baru sebagai bentuk sindiran.

Ya, tagar di Twitter berbunyi #NewUnitedAirlinesMottos diposting secara beramai-ramai untuk menunjukan kecaman mereka dengan cara yang berbeda.

Profesor University of Utah Robert Mayer mengatakan bahwa media sosial membuat masalah ini terekspos semakin liar dan menyebar tanpa tak terbendung.


"Media sosial membuat isunya mengalir. Semakin banyak masalah yang terekspos, akan semakin menyebar dan semakin tinggi perusahaan terkait dan pemerintah melakukan sesuatu," sebut Robert Mayer, profesor University of Utah.

Setelah kecaman demi kecaman mengalir di media sosial, United Airlines akhirnya tidak punya pilihan selain meminta maaf secara terbuka. Sayangnya, sebagian dari netizen terlanjur marah dan menolak permintaan maaf mereka.

Tak sampai di situ, United Airlines semakin remuk redam setelah saham induk perusahaan United Airlines yakni United Continental Holdings terjun sampai 4 persen atau membuat kapitalisasi pasar mereka turun sekitar USD 1 miliar pada Rabu (12/3) kemarin.

Memang sih, saat penutupan bursa saham, ada kenaikan sedikit sehingga penurunan menjadi 2,6 persen. Tapi tetap saja nilai perusahaan terpangkas sekitar USD 600 juta.