Sularsi, Koordinator Bidang Pengaduan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut peretasan dua hari terakhir yang mendera Telkomsel dan Indosat sebagai bentuk kekecewaan pelanggan terhadap layanan mereka.
Operator, menurut Sularsi, dianggap tidak menyediakan informasi yang jelas atas produk yang mereka jual.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kasus Telkomsel, jumlah kuota yang diberikan ke pelanggan ternyata tidak bisa digunakan seutuhnya. Paket data berkuota 6GB misalnya, dipecah oleh Telkomsel untuk jaringan 2G, 3G, dan 4G. Sehingga pelanggan tidak ansich menerima 6GB di jaringan 4G.
Tapi konsumen yang tak punya pilihan hanya bisa menuruti keputusan operator seluler.
Tanpa mengesampingkan harga yang terbilang cukup mahal, Sularsi menganjurkan operator seluler segera membenahi masalah di keterbukaan layanan.
"Untuk internet semua banting harga, semua menawarkan yang murah, harga predatori ini yang harus diusut oleh regulator, siapa yang banting harga internet di Indonesia," kata Tulus.
Menurut Tulus, tarif mahal yang diberlakukan oleh Telkomsel terbilang wajar karena ia menilai ada upaya perluasan jaringan yang terus dilakukan perusahaan telekomunikasi pelat merah itu.
"Peretas itu mengingatkan, bukan hal negatif," tutur Sularsi.
Sularsi menyebut dari total konsumen telekomunikasi, 80 persen di antaranya menggunakan layanan data dengan mayoritas prabayar. Dengan total sebesar itu, aduan soal keterbukaan dan transparansi produk jadi salah satu yang paling sering YLKI terima.