“Kami melihat ada penurunan 23 persen jumlah startup baru di Indonesia (pada kuartal dua 2017) dibanding periode yang sama di 2016,” ujarnya di depan awak media, Senin (23/10).
Sayangnya, Elisa enggan membagikan berapa jumlah investasi yang sudah dialirkan pemodal bagi perusahaan-perusahaan tersebut dalam periode ini. Dia juga tidak bisa menyebutkan seluruh perusahaan rintisan yang sudah mendapatkan investasi selama 2017.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Investor makin lama makin dewasa, maksudnya kita juga lihat apa yang bisa kita invest apa yang ngga. Ada yang tumbuh ada yang ngga, ada yang cocok buat kita, ada yang ngga,” ujarnya.
“Bukan berarti yang nggak kami danai itu ngga bagus, tapi mungkin ada strategic investor lain yang bisa bantu mereka. Jadi alasan spesifiknya bisa banyak hal dari sisi preferensi. Kedua mungkin ada pihak lain yang bisa bantu,” imbuhnya.
Sementara itu, Elisa menyebutkan bahwa East Ventures mengalirkan 80 persen modal pada perusahaan rintisan di Indonesia. 20 persen lainnya dikucurkan pada perusahaan lain di regional Asia Tenggara.
Sebagian besar starup yang mendapatkan investasi berasal dari sektor e-commerce dan fintech. Perusahaan ini adalah salah satu investor Tokopedia dan Traveloka yang merupakan dua dari tiga startup unicorn di Indonesia.