Konsolidasi Bisnis Telko, Jalan Bijak Akhiri Perang Harga

Ervina Anggraini , CNN Indonesia | Rabu, 22/11/2017 14:01 WIB
Konsolidasi Bisnis Telko, Jalan Bijak Akhiri Perang Harga Langkah konsolidasi operator seluler dianggap sebagai langkah bijak menjaga keberlangsungan bisnis. (dok. ANTARA FOTO/HO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana pemerintah untuk menyederhanakan jumlah operator telekomunikasi seluler di Indonesia hingga kini masih menuai pro kontra. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menganjurkan operator untuk melakukan konsolidasi yang menurutnya bertujuan menjaga kelangsungan bisnis.

Danny Buldansyah Wakil Direktur Hutchison Tri Indonesia berkilah perihal konsolidasi sejatinya urusan pemegang saham. Namun, secara tersirat ia terkesan tak menampik jika konsolidasi bisa menjadi jalan paling bagus menghadapi fenomena perang harga.

“Konsolidasi bisa menghilangkan perang harga dan inefisiensi industri. Layanan juga lebih bagus dan cakupan jaringan menjadi lebih luas,” jelas Danny disela diskusi media di Plaza Sentral, Jakarta Pusat, Selasa (21/11).

Menurutnya, perang harga yang dilakukan operator saat ini membuat ‘tenaga’ dan anggaran habis terkuras sehingga tidak bisa melakukan ekspansi cakupan layanan.

Senada dengan Danny, mantan CEO dan Presiden Direktur Indosat Ooredoo Alexander Rusli secara gamblang mengungkapkan sejauh ini operator sudah membahas kemungkinan konsolidasi. Menurutnya, semua operator kecuali Telkomsel — sudah saling mengukur performa perusahaan dari data dan keinginan untuk sama-sama mencari untung.

“Sebenarnya tantangan konsolidasi hanya menunggu waktu dan deal yang cocok, karena masih harus tunggu semua ngomong,” ungkap Alex saat ditemui di Restoran Seribu Rasa, Jumat (17/11).

Ia berujar, konsolidasi sudah wajar dilakukan oleh operator-operator di negara lain. Alex juga mencontohkan induk perusahaan seperti Ooredoo, Axiata, dan Hutchison yang sudah lumrah menempuh langkah konsolidasi.

Lebih jauh, pria berkacamata ini mengatakan kesepakatan konsolidasi terhitung masuk akal jika dua perusahaan sepakat melebur jadi satu. Setelah ada dua perusahaan, ia optimis (perusahaan) lainnya akan ikut gabung.

“Konsolidasi tujuannya kan agar sama-sama untung, masalahnya sekarang biaya lebih rendah dari pendapatan sehingga bisnis tidak sustain,” jelasnya.

Meski sudah tak lagi menakhodai perusahaan telekomunikasi, Alex mengaku optimis konsolidasi bisa terwujud. “Konsolidasi paling cepat terwujud di 2018, saya memprediksi sudah ada yang bergerak ke arah sana dan tidak tunggu lebih lama lagi,” imbuhnya. (evn/evn)