Kesadaran Keamanan Siber Indonesia Peringkat ke-70 Dunia

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Rabu, 06/12/2017 16:28 WIB
Kesadaran Keamanan Siber Indonesia Peringkat ke-70 Dunia Ilustrasi (dok. REUTERS/Kacper Pempel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menyatakan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia terhadap keamanan siber masih sangat rendah. Budaya tersebut menurutnnya, tidak perlu muluk-muluk dengan teknologi canggih, tetapi bisa dilakukan mulai dari setiap individu.

"Sederhana, semua dimulai dari kita sendiri. Kita ini belum memiliki budaya cyber security. Contoh, ini kan teman-teman ada yang pakai Gmail, Yahoo. Kapan terakhir ganti password?" ujarnya pada awak media saat ditanyai mengenai kondisi keamanan siber di tanah air pada acara Cyber Security Indonesia 2017 di JCC, Rabu (6/12).

Dia meminta sosialisasi mengenai keamanan siber digencarkan, sebab Indonesia masih berstatus sebagai negara yang paling rendah keamanan sibernya.


Dilihat dari Index Security, frekuensi Indonesia diserang peretas masih di atas rata-rata dibanding negara lain di dunia.

Merujuk pada data yang dirilis International Telecommunication Union (ITU) mengenai Indeks Keamanan Siber Dunia 2017, Indonesia memiliki komitmen cukup tinggi untuk menigkatkan keamanan siber dibandingkan negara-negara di benua Afrika dan Asia Selatan.

"Kalau dilihat index security, kita di Indonesia ini memang di atas rata-rata dunia. Kita masih nomor 70 kalau tidak salah, jadi masih banyak yang harus dikejar," paparnya.

Di kawasan Asia Pasifik, kesadaran terhadap isu keamanan siber ditempati oleh Singapura, Malaysia, dan Australia.

Setiap negara menerapkan praktek berbeda untuk keamanan siber. Selain pada tahap regulasi, pelatihan, hingga pengetahuan teknis, standar keamanan siber juga diterapkan pada organisasi yang terhitung rentan disusupi kejahatan siber.

Di Indonesia, Menkominfo meminta masyarakat untuk membangun kebiasaan mulai dari mengganti kata kunci surel dan ATM. Dua hal itu saja menurut Rudi sudah mengurangi kemungkinan diretas sebesar 50 persen.

"Ini sederhana, membuat diri kita sadar akan keamanan siber. Kartu, akun email kita itu rentan terhadap security breach," jelasnya.

"Jadi kalau kita rutin mengganti password akun email kita, apalagi akun email yang umum seperti Gmail Yahoo dan perusahaan, itu setengah kita atau 50 persen kita terhindar dari security breach."

Meski hanya melakukan langkah yang sederhana, Rudi menilai rutin mengganti kata kunci surel akan berdampak besar pada ketahanan siber Indonesia. Selebihnya, Rudi meminta korporasi untuk melakukan tugasnya memperkuat pengamanan terhadap pelanggan.

"Hal itu akan memberi pengaruh dari ketahanan siber security kita. Jadi kita tidak usah berpikiran yang canggih, biarkan korporasi melindungi dirinya dari siber breach. Tapi kita sebagai masyarakat sadar ganti pin ATM dan password email aja dulu," tutupnya. (evn/evn)