Ruddy Agusyanto
Penulis adalah pengajar di Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Direktur Operasional di Pusat Analisa Jaringan Sosial (PJAS), dan Institut Antropologi Indonesia (IAI), peneliti ahli di Dewan Pertimbangan Presiden bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Ruddy juga merupakan penulis buku ''''Fenomena Dunia Mengecil''''

OPINI

Pentingnya Berpikir 'Jaringan' di Era Berita Tipu-tipu

Ruddy Agusyanto, CNN Indonesia | Kamis, 21/12/2017 11:04 WIB
Pentingnya Berpikir 'Jaringan' di Era Berita Tipu-tipu llustrasi berita hoax. (Thinkstock/Emapoket)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak dulu, semua orang adalah sumber berita bagi anggota-anggota jaringan hubungan sosial tempat ia berada, layaknya sumber-sumber berita media arus utama seperti media cetak atau elektronik.

Hal ini bukan fenomena baru.  

Sejak dahulu juga kita mengenal adanya jaringan ngerumpi, atau jaringan gosip. Bila sebuah isu sudah masuk ke dalam jaringan rumpi ini, maka tak butuh waktu lama hingga berubah menjadi hot issue, atau berita viral.


Isu hangat ini juga kemudian menyebar pada jaringan-jaringan hubungan yang bertautan dengan jaringan rumpi tersebut.

Berita “X”, yang tentunya merupakan berita yang menarik bagi seseorang, akan diteruskan kepada temannya (alter), yang selanjutnya akan diteruskan oleh teman tersebut kepada temannya lagi (temannya teman).

Berita kemudian terus beredar melalui jaringan hubungan perorangan. Menyebar sepanjang jaringan hubungan sosial. Pada akhirnya, meluas hingga jadi viral.

Fenomena viralnya sebuah berita melalui jaringan hubungan sosial ini bisa dijelaskan melalui eksperimen “surat berantai” enam langkah Milgram tahun 1967. Ia menyebut, berita bisa menjangkau siapa saja di pelosok bumi ini hanya melalui enam hubungan pertemanan.

Namun fenomena viralnya sebuah berita di era digital ini bisa menimbulkan persoalan tersendiri.

Era digital membuat konteks-konteks kehidupan terus berkembang, dan ia semakin terkoneksi dengan berbagai hubungan sosial yang sangat kompleks.

Selain itu, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang luar biasa pesat membuat berita tak harus menunggu disebarkan sepanjang enam alter lagi untuk jadi viral. Cukup melalui dua atau tiga alter (Agusyanto, Fenomena Dunia Mengecil, 2010).

Artinya, ada perbedaan kecepatan persebaran berita sebagai akibat dari kompleksitas konteks kehidupan dan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.

Oleh karenanya, tidak perlu heran saat ini berita sangat mudah 'menarik perhatian', terlepas dari baik atau buruknya berita tersebut. Berita pun bisa menjadi viral dalam hitungan menit, atau bahkan detik.

Sumber berita perorangan dengan kecepatan yang luar biasa ini –dalam  kesegeraan dan keserempakan (era digital)—membuat banyak orang menjadi gagap. Salah satu dampaknya adalah maraknya berita hoax.

Ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi.

Pertama, sedari awal peradaban, manusia adalah sumber berita bagi manusia lain. Manusia tidak tahan menyimpan informasi dalam dirinya terlalu lama. Ia ingin berbagi pada orang lain, atau pada mereka-mereka yang akrab dengan dirinya.

Kedua, adalah masalah kecepatan dan keserentakan penyebaran, sebagai akibat dari semakin kompleksnya konteks kehidupan manusia dan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi. Hal ini membuat banyak orang ingin sesegera mungkin pula menyebarkan berita kepada para alternya.

Selain itu, sifat kesegeraan dan keserempakan itu juga menyebabkan orang-orang sering kali menyebarkan berita tanpa diperiksa dahulu kebenarannya. Tak ayal, berita hoax pun sangat cepat jadi viral.

Media Tak Lagi Dipercaya

Konsekuensinya, media-media mainstream dan pemerintah tak lagi jadi satu-satunya sumber informasi yang layak dipercaya. Kebenaran suatu berita juga menjadi semakin sulit untuk diperiksa.

Hal ini memunculkan kebingungan masyarakat soal sumber berita yang layak dipercaya. Apakah sumber berita media mainstream, pemerintah, atau sumber berita lain?

Akhirnya masyarakat jadi mudah terhasut atau terprovokasi dan kepercayaan pada pemerintah juga terus tergerus.

Kenyataannya, marak berita hoax atau berita anti-pemerintah juga sukar dibendung oleh pemerintah itu sendiri, termasuk media arus utama.

Bukan berarti pemerintah atau media arus utama tidak berupaya meluruskan berita-berita hoax tersebut. Hanya saja, kedua pihak tidak pernah bisa menembus ke komunitas hoax, karena mereka adalah satu jaringan tersendiri yang berbeda dari jaringan lainnya.

Selain itu, pemerintah juga hanya menyebarkan informasi balasan ke jaringan publik secara acak. Hal ini menyebabkan informasi yang benar tidak pernah sampai pada jaringan hoax. Kalaupun sampai, pelurusan informasi tidak dipercaya oleh mereka.

Sumber informasi media arus utama dan pemerintah, bukanlah sumber informasi jaringan hoax.

Mereka mempunyai sumber informasi sendiri. Selain itu, juga terdapat aktor-aktor kunci di sana yang berperan sebagai penjaga gawang dan penterjemah informasi yang masuk dari luar.

Dengan demikian, upaya Pemerintah di atas, tampaknya hanya mampu mencegah jaringan hoax tidak meluas, dan bukan bisa memberantasnya.

Upaya inipun sesungguhnya juga tidak menjamin akan berhasil memerangi jaringan hoax. Kecuali, jaringan hoax itu pasif atau tidak berusaha selalu memperkuat dan memperluas jaringannya.

Di sisi yang lain, era digital ini tidak hanya berpengaruh pada desentralisasi sumber informasi, tetapi telah melanda hampir semua sendi kehidupan.

Banyak bisnis ritel besar atau menengah satu persatu berjatuhan tergantikan oleh toko-toko daring yang berbasis internet atau aplikasi. Misalnya saja Tokopedia atau Bukalapak. Demikian juga perusahaan taksi offline yang juga tergantikan oleh taksi daring.

Hal ini menimbulkan kesan seolah-olah terjadi penurunan daya beli masyarakat yang drastis.

Perubahan-perubahan itu juga semakin menambah kaya bahan informasi yang bisa diolah menjadi berita hoax. Selain itu juga bisa memperluas atau memperbesar jaringan hoax atau jaringan anti-Pemerintah.

Tetapi perlu digarisbawahi bahwa teknologi sesungguhnya hanyalah sarana. Ia tidak dapat mengambil keputusan atas bertindak. Ia hanya memudahkan dan menyempurnakannya.

Keputusan tetap ada di tangan manusia.

Tak Semua Negatif

Satu hal lain yang perlu ditekankan adalah tak semua efek jejaring sosial ini negatif. Jaringan sosial memang bisa merugikan seperti kasus maraknya berita hoax di atas, tetapi juga bisa menguntungkan seperti gerakan donasi yang bisa dengan cepat menyebar dan mampu menggerakkan aksi masyarakat luas.

Yang pasti, kita tidak mungkin bisa menghindarinya. Di manapun kita tinggal dan hidup, kita membentuk jaringan sosial.

Manusia sebagai makhluk sosial selalu membina hubungan sosial dengan manusia lain. Entah itu membentuk pasangan yang akrab, dan kita akhirnya menjadi bagian dari jaringan sosial itu sendiri.

Selanjutnya, secara bersamaan pula, jaringan sosial itu menghasilkan aturan-norma-hukum yang menjadi pedoman kita untuk bertindak-bersikap-berperilaku. Pada akhirnya, hal itu juga yang mempengaruhi, membatasi dan membentuk diri kita.

Jadi, masalahnya adalah terletak pada bagaimana kita memahami dan bisa menyikapi jaringan sosial dengan bijak.

Selain itu, jaringan hoax ini, tidak hanya menyasar pada persolan prestasi kerja pemerintah saja. Program-program pembangunan juga mereka tolak dan diputar balik oleh tokoh-tokoh kunci yang ada di sana.

Dengan demikian, dalam hal ini pemerintah perlu paham tentang jaringan mereka dan aturan-aturan main yang berlaku di sana. Informasi seperti apa yang bisa diterima, bagaimana caranya, dan harus melalui siapa untuk bisa menembus jaringan hoax tersebut.

Namun pemahaman itu ada baiknya tak hanya dimiliki pemerintah, tapi juga kita sebagai masyarakat yang juga berpotensi jadi korban hoax. Mulai kenalilah apa itu jaringan sosial, bagaimana terbentuknya, dan apa rahasianya. (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS