Cerita di Balik Gojek dan Grab Akuisisi Perusahaan 'Fintech'

Agnes Savithri, CNN Indonesia | Rabu, 24/01/2018 19:40 WIB
Cerita di Balik Gojek dan Grab Akuisisi Perusahaan 'Fintech' Ilustrasi. (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan ride sharing diprediksi akan banting setir ke layanan fintech. Pengamat menilai ketatnya regulasi dan kompleksitas bisnis ride sharing ini diproyeksikan menjadi salah satu penyebab berkurangnya investasi di sektor transportasi online.

Sehingga, para perusahaan seperti Gojek, Grab dan Uber harus segera putar otak untuk memperluas usaha mereka di bidang pembayaran elektronik.

Ketua Dewan Pakar Masyarakat Transportasi Indonesia, Danang Parikesit mengungkapkan beberapa indikasi yang melandasi pernyataan lantaran tak lain tekanan dari pemodal ventura (venture capital - VC) yang memandang sektor fintech lebih menghasilkan ketimbang transportasi.



Tak heran memang karena sejak tahun lalu perusahaan ride sharing seperti Gojek dan Grab sudah terlihat gencar mengakuisisi fintech.

Akusisi Fintech oleh Gojek

Gojek contohnya. Pada awalnya, perusahaan yang dimotori oleh Nadiem Makarim ini dikabarkan akan mengakuisisi Kartuku. Namun, ternyata perusahaan ini membuat gebrakan.

Tak hanya Kartuku yang dicaplok, namun dua fintech lainnya yakni Midtrans dan Mapan. Pada saat itu, pihak Gojek menjelaskan aksi korporasi tersebut bertujuan untuk memperlebar sayap bisnis lini usaha pembayaran digital mereka, Gopay.

Fintech pertama yang dicaplok adalah Kartuku yang merupakan Penyedia Prosesor Pihak Ketiga (TPP) dan Penyedia Layanan Pembayaran (PSP). Solusi yang ditawarkan fintech ini adalah menyediakan teknologi EDC yang bisa menerima pembayaran baik melalui kartu, QR code scan, e-money dan sebagainya

Kartuku didirikan oleh Niki Luhur dan diluncurkan pada 2011. Sejak itu, Kartuku menumbuhkan basis pelanggan dan jaringan merchant-nya dengan sangat cepat.

Fintech berikutnya yakni Midtrans yang pada awalnya dikenal dengan nama Veritrans. Mereknya diubah sejak Oktober 2016 seiring dengan fokus baru perusahaan yang kini lebih menggarap pembayaran digital, yaitu layanan pembayaran, manajemen risiko dan chat commerce.

Perusahaan ini pertama kali didirikan oleh Ryu Suliawan pada 2012. Dalam hal pembayaran online, Midtrans bermitra dengan bank-bank di tanah air, maskapai penerbangan, bisnis retail e-commerce, dan perusahaan-perusahaan fintech.


Perusahaan saat ini bekerja dengan lebih dari 3.000 merchant online (e-commerce). Midtrans mampu memproses 18 metode pembayaran online yang berbeda-beda termasuk melalui kartu kredit, debit, transfer ATM, e-wallet dan pembayaran di counter seperti Indomaret.

Fintech terakhir yakni Mapan merupakan perusahaan yang digunakan Gojek untuk menyasar masyarakat di pedesaan yang tak tersentuh bank, tak memiliki kartu kredit namun akrab dengan sistem arisan konvensional. Mapan dikembangkan oleh RUMA yang fokus mengelola jaringan perusahaan mikro.

Adalah Aldi Haryopratomo yang mendirikan Mapan pada 2009. Mapan sendiri telah membantu mengatur keuangan lebih dari 1 juta keluarga Indonesia di lebih dari 100 kota.


Aplikasi ini memungkinkan penggunanya untuk 'menyicil' barang-barang yang ditawarkan dalam katalog barang Arisan Mapan bersama sekumpulan orang. Anggota dapat memilih barang berbeda, maka aplikasi akan menyesuaikan tagihan.

Akuisisi Fintech oleh Grab

Sementara itu, Grab pun melakukan aksi korporasi serupa dengan mengakuisisi fintech Kudo dan PayTren. Diawalin dengan akusisi Kudo, aksi korporasi ini merupakan investasi pertama dari master plan 'Grab 4 Indonesia' 2020.

Melalui master plan ini, Grab berkomitmen untuk menanamkan investasi sebesar US$700 juta untuk mengembangkan ekonomi digital di Indonesia melalui dukungan terhadap inovasi teknologi.

Sayangnya tak disebutkan berapa nilai akuisisi yang diberikan oleh Grab kepada Kudo. Namun kabarnya Kudo ditawar hingga US$100 juta atau setara Rp1,3 triliun.

"Grab memiliki visi yang sama dengan kami, yaitu menciptakan solusi pembayaran bagi masyarakat yang belum memiliki akses terhadap layanan perbankan agar mereka dapat menikmati layanan e-commerce,” kata Albert Lucius, CEO Kudo, melalui keterangan resminya.

Kudo memiliki platform O2O yang unik dan memungkinkan konsumen Indonesia yang belum memiliki akses terhadap layanan perbankan untuk berbelanja online.

Hal ini dilakukan dengan cara menghubungkan para konsumen dengan pedagang dan penyedia jasa online melalui jaringan agen Kudo yang jumlahnya lebih dari 400.000 agen terdaftar dan tersebar di lebih dari 500 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.

Inisiatif berikutnya yakni mencaplok aplikasi pembayaran dan transaksi mobile milik Ustaz Yusuf Mansyur, PayTren.
Selama ini, PayTren menawarkan para penggunanya untuk memperoleh penghasilan tambahan lewat komisi. Komisi diperoleh dengan menjual paket internet dan pulsa telepon, token listrik, hingga tiket pesawat.

Pengguna juga akan mendapat komisi tambahan jika mereferensikan orang lain untuk menjadi pengguna PayTren.

Dengan kerjasama ini, pengguna PayTren pun kini bisa mendapat komisi jika berhasil merekrut mitra pengemudi bagi Grab.

[Gambas:Video CNN] (age/asa)