Jakarta Smart City Akan Gandeng Gojek dan Uber Atasi Macet

Eka Santhika, CNN Indonesia | Kamis, 08/02/2018 18:52 WIB
Jakarta Smart City Akan Gandeng Gojek dan Uber Atasi Macet Smart City DKI Jakarta akan gandeng Gojek dan Uber untuk berbagi data lalu lintas guna menyelesaikan persoalan kemacetan Jakarta. (REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Jakarta Smart City, Setiaji menyebut bahwa Gojek dan Uber akan memberikan data lalu lintas pengandara mereka untuk membantu memecahkan masalah kemacetan di Jakarta. Menurutnya, kerjasama ini akan direalisasikan tahun ini.

"Sudah ada pembicaraan dari ojol (ojek online) untuk memberi data ke Pemda DKI," terang Setiaji, saat ditemui  CNNIndonesia.com di Jakarta, Kamis (8/2).

Berbagi data ini penting dilakukan agar Pemda DKI Jakarta bisa melakukan prediksi pola kemacetan dan mengantisipasinya.



"Sehingga kami bisa tahu pergerakan orang dan kepadatan jalan...Prediksi macet kita antisipasi agar petugasnya bisa terjun duluan di sana," lanjutnya.

Selama ini, Setiaji mengungkap bahwa pihaknya baru mendapat data jalan secara real time dari aplikasi Waze. Ia mengaku data Waze yang didapat pemerintah sama dengan apa yang dilihat oleh pengguna umumnya.

"Sama dengan data consumer, data tiap dua menit kita rekam," tuturnya.


Selain data kepadatan jalan, Setiaji menyebut data tersebut juga dihubungkan dengan variabel lain seperti apakah terjadi hujan, ada penutupan jalan, ada pembangunan jalan, dan kebiasaan lalu lintas di hari kerja dan hari libur. Tujuannya, membaca pola dan memprediksi kemacetan.

Selain mendapat data dari Waze, Setiaji juga menyebut sudah bekerjasama dengan Grab untuk berbagi data kepadatan jalan.

"Grab ada, (dia) kasih (data) road ratio, kepadatan jalan, terutama kawasan Tanah Abang," tuturnya.

Data tak detil

Namun Setiaji mengeluhkan data yang diberikan dari layanan transportasi online ini tidak detil. "Mereka pasti akan kasih data, tapi tidak dalam level yang detil, agregatnya saja. Sementara kita butuh data yang detil," tuturnya.

Data agregat ini dijelaskan hanya data berupa angka secara umum dan perwilayah. Misal data kepadatan jalan di wilayah Kuningan, bukan data peta dengan detil di tiap ruas jalan seperti ditampilkan Waze.


"Kita pengen detil, (itu masih) dalam pembicaraan untuk minta dapat detil," tandasnya.

Sebelumnya, Grab pada 2016 sempat mengumumkan inisiatif Open Traffic bersama World Bank untuk membuka data lalu lintas mereka. Data ini disebut-sebut bisa dibagikan kepada pemerintah kota untuk mengatasi masalah kemacetan.

Di tahun berikutnya, Uber juga mengungkap inisiatif 'Movement' yang juga berniat untuk membagikan data perjalanan mereka dengan pemerintah kota guna mengurangi kemacetan. (asa)