"Kalau Samsung ngga hati-hati bisa goyang," jelasnya, saat ditemui CNNIndonesia.com di konferensi pers IDC di Jakarta, pekan lalu (8/2).
Berdasarkan catatan IDC, tipe smartphone Samsung yang paling banyak dikapalkan di Indonesia adalah J2 Prime. Ini adalah ponsel di segmen lowend dengan harga Rp1,5 jutaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, posisi nomor satu Samsung di India sudah digeser oleh Xiaomi di kuartal kuartal empat 2017. Risky menyebut bahwa Indonesia adalah sasaran Xiaomi berikutnya setelah India. Selain itu, banyak vendor
Risky menyebut bahwa 75 persen pasar smartphone Indonesia dikuasai oleh lima besar perangkat smartphone Indonesia. Ia pun menyebut bahwa dominasi lima merek besar ini makin kuat di kuartal empat 2017.
Dominasi lima vendor besar ini menurut Risky tak lepas dari pengaruh penerapan TKDN oleh pemerintah.
Mereka yang lantas hengkang dari pasar ponsel tanah air ini lantaran investasi besar yang harus dikeluarkan untuk bisa memanufaktur ponsel di dalam negeri. Menurut Risky, mereka yang tak kuat modal untuk memenuhi persyaratan TKDN perangkat keras dengan memanufaktur ponsel di dalam negeri itu lantas berguguran.
"Tahun depan TKDN akan naik lagi, yang top five sudah established, mereka siap dengan infrastruktur. Akan lebih mudah bagi mereka main di pasar," lanjutnya.
Vendor lokal di lima besar
Sementara itu, terkait posisi lima besar ini Risky menyebut tak ada perubahan berarti dikuartal empat 2017. Hanya saja ia menyebut ada perubahan posisi dari lima vendor smartphone besar tersebut.
Dari lima besar itu ia menyebut salah satunya masih dikuasai oleh vendor lokal tanah air. Dalam kuartal sebelumnya, satu-satunya vendor lokal yang masuk dalam posisi lima besar adalah Advan.
"Mereka punya jaringan menyeluruh bukan di tier satu saja. Mereka punya (distributor) sampai di kabupaten, desa...kalau dilihat diluar daerah Jakarta banyak yang tahu (kalau) Advan (adalah) merek Indonesia, available juga dimana-mana."
Selain itu, Advan juga disebut Risky punya layanan purna jual yang lebih luas dibanding merek lokal lain di Indonesia. Hal inilah yang membuatnya lebih dipilih konsumen.
Selain itu, Advan juga disebut Risky punya layanan purna jual yang lebih luas dibanding merek lokal lain di Indonesia. Hal inilah yang membuatnya lebih dipilih konsumen.