Tori menilai bahwa Gojek akan mulai serius untuk mengerjakan bisnis finansial berbasis teknologi informasi di gelombang investasi besar kedua ini.
"[Investasi di Gojek] masih untuk perluasan pasar dan penguatan platform Gopay. Jika investasi besar tahap satu menjadikan Gojek sebagai perusahaan di sektor transportasi dengan kapitalisasi pasar terbesar di indonesia, maka investasi besar tahap berikutnya lebih umtuk pengembangan perusahaan di sektor fimansial berbasis IT," terang Tori kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada Senin (12/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CEO Nadiem Makariem sendiri sebelumnya telah mengumumkan bahwa layanan Gopay akan bisa digunakan untuk melakukan pembayaran di luar aplikasi Gojek. Sehingga, Gopay tak hanya digunakan untuk membayar berbagai layanan Gojek seperti selama ini dilakukan.
Dengan memperluas layanan pembayaran non tunainya, Gopay bisa digunakan di e-commerce atau situs online lainnya di Indonesia. Gopay juga bisa digunakan untuk membayar di toko offline.
Untuk menunjukkan keseriusan di ranah fintech, Gojek juga telah mengakuisisi tiga perusahaan Kartuku, Midtrans dan Mapan pada pertengahan Desember 2017. Langkah ini disebut Gojek sebagai upaya untuk menyediakan ekosistem pembayaran finansial yang inklusif kepada institusi keuangan, UMKM, mitra pengemudi dan lainnya, serta konsumen di seluruh Indonesia.
Lihat juga:Astra Suntik Dana Rp2 Triliun ke Gojek |
Di tahun berikutnya, investor sekelas Seqoia Capital juga disebut telah menggelontorkan dana pada Gojek di Januari 2015. Sederet nama investor mulai dari KKR & Co. hingga Rakuten Ventures menanamkan US$550 juta untuk Gojek.
Perusahaan raksasa asal China, Tencent Holdings, dan JD.com menggelontorkan uang investasi sekitar US$1,450 miliar di 2017. Yang terbaru adalah Google, Tamasek Holdings, KKR & Co LP, Warburg Pincus LLC dan Meituan-Diaping ditaksir telah mengalirkan US$1,2 miliar untuk perusahaan di awal 2018.
Puncaknya, hari ini perusahaan otomotif lokal Astra mengumumkan telah menyuntikkan dana segar sebesar Rp2 triliun atau sekitar US$150 juta yang menjadikannya sebagai investasi terbesar dari investor lokal sepanjang sejarah bisnis digital Indonesia. (evn)