Investasi Besar Dorong Gojek Seriusi Bisnis Fintech

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Senin, 12/02/2018 17:47 WIB
Investasi Besar Dorong Gojek Seriusi Bisnis Fintech Pengamat menyebut investasi yang baru saja diterima Gojek akan digunakan untuk menggarap bisnis fintech secara lebih serius. (dok. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (ADTKJ) dari unsur LSM Transportasi, Tori Damantoro, memandang bahwa investasi yang baru dikantongi Gojek bukan sekedar digunakan untuk perluasan pasar di sektor transportasi.

Tori menilai bahwa Gojek akan mulai serius untuk mengerjakan bisnis finansial berbasis teknologi informasi di gelombang investasi besar kedua ini.

"[Investasi di Gojek] masih untuk perluasan pasar dan penguatan platform Gopay. Jika investasi besar tahap satu menjadikan Gojek sebagai perusahaan di sektor transportasi dengan kapitalisasi pasar terbesar di indonesia, maka investasi besar tahap berikutnya lebih umtuk pengembangan perusahaan di sektor fimansial berbasis IT," terang Tori kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada Senin (12/2). 

Fintech sendiri dinilai Tori sebagai masa depan bisnis di Indonesia untuk saat ini. Jika Gojek mampu bersaing dengan platform yang lainnya, maka perusahaan akan bisa naik kelas sebagai perusahaan fintech.

Selain itu, investasi besar di sektor transportasi menurut Tori tak perlu sangat besar seperti yang saat ini diterima Gojek. Akan lebih masuk akal jika uang itu diinvestasikan untuk bisnis fintech.

"Tergantung persaingan yang ada, apakah Gojek bisa bersaing dan bisa naik kelas ke fintech. Saya prediksi, itu akan digunakan di fintech karena kalau di bisnis transportasi saja investasinya tidak perlu segede itu. Bisnis masa depan itu kan fintech," ujarnya.

CEO Nadiem Makariem sendiri sebelumnya telah mengumumkan bahwa layanan Gopay akan bisa digunakan untuk melakukan pembayaran di luar aplikasi Gojek. Sehingga, Gopay tak hanya digunakan untuk membayar berbagai layanan Gojek seperti selama ini dilakukan.

Dengan memperluas layanan pembayaran non tunainya, Gopay bisa digunakan di e-commerce atau situs online lainnya di Indonesia. Gopay juga bisa digunakan untuk membayar di toko offline.

Untuk menunjukkan keseriusan di ranah fintech, Gojek juga telah mengakuisisi tiga perusahaan Kartuku, Midtrans dan Mapan pada pertengahan Desember 2017. Langkah ini disebut Gojek sebagai upaya untuk menyediakan ekosistem pembayaran finansial yang inklusif kepada institusi keuangan, UMKM, mitra pengemudi dan lainnya, serta konsumen di seluruh Indonesia.

Sementara itu sejak berdiri pada 2011, Gojek telah dilaporkan sukses mengantongi investasi dari sejumlah investor dunia. NSI Venture dan Northstar disebut melakukan investasi yang tak diungkap jumlahnya pada 2014.

Di tahun berikutnya, investor sekelas Seqoia Capital juga disebut telah menggelontorkan dana pada Gojek di Januari 2015. Sederet nama investor mulai dari KKR & Co. hingga Rakuten Ventures menanamkan US$550 juta untuk Gojek.

Perusahaan raksasa asal China, Tencent Holdings, dan JD.com menggelontorkan uang investasi sekitar US$1,450 miliar di 2017. Yang terbaru adalah Google, Tamasek Holdings, KKR & Co LP, Warburg Pincus LLC dan Meituan-Diaping ditaksir telah mengalirkan US$1,2 miliar untuk perusahaan di awal 2018.

Puncaknya, hari ini perusahaan otomotif lokal Astra mengumumkan telah menyuntikkan dana segar sebesar Rp2 triliun atau sekitar US$150 juta yang menjadikannya sebagai investasi terbesar dari investor lokal sepanjang sejarah bisnis digital Indonesia. (evn)