Susul Dubai, Uber Juga Akan Sediakan Mobil Terbang di LA

Eka Santhika, CNN Indonesia | Rabu, 28/02/2018 01:43 WIB
Susul Dubai, Uber Juga Akan Sediakan Mobil Terbang di LA Uber optimis layanan mobil terbangnya akan bisa dinikmati pada 2020 (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Uber dan mimpi mobil terbangnya sepertinya akan bisa dinikmati pada 2020 di Los Angeles, Amerika Serikat. Sebelumnya, Uber telah mengumumkan bahwa mobil terbang ini akan tersedia di Dallas-Fort dan Dubai.

Layanan mobil terbang Uber ini setidaknya akan dikenai biaya semurah-murahnya US$20 (sekitar Rp260 ribu).

Head of Product Uber, Jeff Holden menyebut bahwa Uber telah menandatangani kesepakatan dengan NASA untuk membuat sistem pengendali lalu lintas udara yang baru. Kesepakatan yang dinamakan Space Act Agreement itu akan mengatur mobil terbang dengan ketinggian rendah tersebut.


[Gambas:Youtube]

Kesepakatan dengan NASA ini menjadi keuntungan bagi Uber. Pertama ia memungkinkan Uber untuk ikut terlibat dalam kebijaksanaan NASA.

Keterlibatan ini juga berarti menyertakan Uber dalam proyek aturan manajemen lalu lintas yang dibuat NASA pada 2015 untuk mengatur lalu lintas drone. Sehingga nantinya akan ada sistem Air Traffic Control (ATC) generasi baru.

Insiatif mobil terbang Uber ini serupa dengan 19 perusahaan lain yang juga tengah merencanakan mobil terbang lain seperti Boing, Airbus, dan startup seperti Kitty Hawk milik founder Google, Larry Page.

Untuk memuluskan rencananya ini, Uber telah bekerjasama dengan sejumlah pemanufaktur pesawat, perusahaan properti, dan pemerintah, untuk mewujudkan mimpi layanan taksi terbang on-demand.

Namun, sejumlah pesimisme tak lepas dari rencana mobil terbang ini. Terutama mobil terbang bertenaga listrik. Mereka menyangsikan nilai ekonomi dari layanan ini.

"Sulit untuk membayangkan mobil terbang menjadi solusi yang bisa berskala besar," komentar Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX.

Musk juga mengkhawatirkan kemungkinan jatuhnya mobil terbang tersebut dan membunuh seseorang. Tapi, Holden menyangkal bahwa pernyataan Musk tersebut adalah "pernyataan yang mengada-ada."

"Kami telah mempelajari hal ini dengan hati-hati dan kami percaya layanan ini bisa berskala besar," jelasnya.

"Kami telah bekerja keras untuk bisa membangun skyport dan agar bisa mengoperasionalkan puluhan ribu penerbangan perhari," tambah Holden, seperti dikutip Business Insider.

(eks/eks)