Menperin Dukung Bus Listrik Moeldoko Jadi Transportasi Umum

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 01/03/2018 15:14 WIB
Menperin Dukung Bus Listrik Moeldoko Jadi Transportasi Umum Bus listrik Mobil Anak Bangsa (MAB) untuk pertama kalinya hadir dalam pameran khusus kendaraan komersial di Jakarta hari ini, Kamis (1/3). (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bus listrik garapan perusahaan Mobil Anak Bangsa (MAB) untuk pertama kalinya hadir dalam pameran khusus kendaraan komersial di Jakarta hari ini, Kamis (1/3).

MAB menghadirkan satu bus listrik dengan kombinasi warna biru dan putih. Pada awal kemunculannya, bus listrik yang dicetuskan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko itu menuai respons dari pemerintah.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendukung agar nantinya bus listrik tersebut dapat dipakai sebagai alat transportasi umum nasional.
Pantauan CNNIndonesia.com, Menperin Airlangga menyempatkan diri masuk ke interior bus ramah lingkungan dan berbincang-bincang dengan engineer bus listrik itu.


"Kami dukung dan tinggal nanti bagaimana MAB itu bisa dipakai sebagai kendaraan umum termasuk untuk di airport misalnya," kata Airlangga di JCC, Jakarta, Kamis (1/3).

Menurut Airlangga, pemerintah bakal memberikan pelbagai dukungan kepada pengembangan bus 'hijau' itu. Terlebih, untuk kelanjutannya bus tersebut dapat diproduksi massal di Indonesia.
"Karena support itu dalam bentuk nanti tentu produksinya apabila ditingkatkan. Kemudian sinergi untuk dibeli perusahaan transportasi ya tentunya nanti dari Kementerian Perhubungan juga akan mempermudah regulasi bisa masuk ke jalan," ucap Airlangga.

MAB memang fokus pada kendaraan-kendaraan komersial ramah lingkungan. Kehadiran bus listrik yang diberi nama Maxvel itu sebagai bukti era mobil listrik sudah di dekat.

Bus Maxvel menggendong baterai yang mampu mencapai jarak sejauh 250 km dalam sekali pengisian. Sedangkan lamanya pengisian daya baterai dari kosong hingga penuh memakan waktu dua sampai tiga jam.
MAB dikabarkan ingin bekerjasama dengan perusahaan pembuat baterai dari negara lain seperti Korea, Australia, Jepang hingga Eropa. Kriteria yang diinginkan meliputi kapasitas baterai, kekuatan jarak tempuh, durasi pengisian baterai hingga daya tahan baterai. (mik)