Cara Google Doodle Rayakan Hari Perempuan Internasional

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Kamis, 08/03/2018 09:27 WIB
Cara Google Doodle Rayakan Hari Perempuan Internasional Google doodle merayakan Hari Perempuan Internasional dengan 12 kisah interaktif. (dok. Google)
Jakarta, CNN Indonesia -- Google turut merayakan Hari Perempuan Internasional dengan kehadiran doodle interaktif kisah 12 wanita dari berbagai latar belakang.

Setiap sosok yang ditampilkan dalam doodle kali ini berbagi kisah pribadi dalam bentuk narasi visul yang mampu memengaruhi sesama perempuan di dunia. Secara khusus, setiap cerita mewakili momen, orang, atau peristiwa yang telah memengaruhi kehidupa para penulis sebagai seoran perempuan.

Google mengumpulkan berbagai kisah universal yang dianggap bisa mengingatkan pada kesamaan yang kerap dialami oleh sesama perempuan di berbagai belahan dunia.


Lydia Nichols dan Alyssa Winans, sosok dibalik proyek ini menyebut kemunculan 12 kisah naratif diharapkan mampu membawa cerita ke kehidupan dengan cara yang bisa memunculkan perasaan akan pengertian, empati, dan semangat.

"Proyek ini merupakan perjalanan yang luar biasa bagi kami, dan kami tergerak oleh keterusterangan, keintiman, dan keberanian cerita para kontributor," tulis Google dalam blog resminya.

Keduabelas sosok yang dilibatkan Google dalam proyek kali ini antara lain Anna Haifisch, Chihiro Takeuchi, Estelí Meza, Francesca Sanna, Isuri, Karabo Poppy Moletsane, Kaveri Gopalakrishnan, Laerte, Philippa Rice, Saffa Khan, Tillie Walden, dan Tunalaya Dunn.

Google menyebut seluruh kisah yang tampil dalam doodle hari ini diterjemahkan kedalam lebih dari 80 bahasa.

Raksasa internet ini juga mengajak perempuan di seluruh dunia merayakannya dengan berbagi cerita pergerakan yang dipandang mampu mengubah dunia menggunakan tagar #HerStoryOurStory melalui sejumlah media sosial.

Perayaan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret setiap tahunnya berawal dari unjuk rasa oleh 15 ribu perempuan di sepanjang jalanan New York, AS pada tahun 1908. Pengunjuk rasa menuntut kesamaan hak termasuk dalam memberikan suara, pembayaran upah yang lebih baik, dan memangkas jam kerja.

Awalnya, Hari Perempuan Internasional di AS dirayakan setiap tanggal 28 Februari. Namun di tahun 1913, sejumlah negara menganggap penting peringatan tersebut dan memutuskan menjadikan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. (evn)