Google Singkirkan Iklan Bitcoin dan Mata Uang Kripto

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Kamis, 15/03/2018 13:22 WIB
Google Singkirkan Iklan Bitcoin dan Mata Uang Kripto Google mulai menyingkirkan iklan Bitcoin dan mata uang kripto dari semua layanannya. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Popularitas mata uang kripto belakangan ternyata meresahkan Google. Imbasnya, raksasa internet asal Mountain View, Amerika Serikat, itu melarang segala iklan berbau mata uang kripto di segala bisnis yang mereka miliki.

Keresahan Google terhadap mata uang kripto berpangkal pada potensi penipuan.

"Meningkatkan pengalaman iklan di seluruh web, dengan menghapus iklan yang berbahaya atau iklan intrusif, akan jadi prioritas tertinggi buat kami," kata Scott Spencer yang mengepalai keberlangsungan iklan di Google seperti dikutip dari Reuters.


Kebijakan iklan baru Google mengenai mata uang kripto ini merentang sampai segala produk yang berhubungan dengannya seperti iklan initial coin offering (ICO-- semacam penawaran saham perdana), iklan tempat perdagangan mata uang kripto, sampai iklan soal dompetnya pun kena larang.

Larangan Google tersebut mulai berlaku pada Juni nanti. Langkah ini bagian dari upaya mereka bersih-bersih dari segala iklan yang berpotensi penipuan.

Di luar aspek potensi penipuan, Google tidak menjelaskan sama sekali mengapa mata uang kripto masuk ke dalam kategori tersebut.

Sebelumnya langkah serupa sudah dilakukan oleh Facebook pada Januari lalu. Dengan melarang iklan mengenai mata uang kripto, mereka berharap pengguna terhindar dari ancaman penipuan.

Langkah drastis dari Google dan Facebook ini tak lepas dari desakan para pengiklan besar mereka. Unilever adalah salah satu pengiklan yang tidak suka dengan banyaknya konten 'liar' di Google dan Facebook.

"Ini bukan sesutu yang dapat dikesampingkan atau diabaikan," tukas kepala pemasaran Unilever, Keith Weed, seperti dilaporkan oleh CNN.

Unilever termasuk ke dalam perusahaan dengan belanja iklan besar. Anggaran pemasaran mereka berkisar Rp136 triliun per tahun dan 25 persen di antaranya mengalir ke ranah digital.

Desakan Unilever ke Google dan Facebook ini menjadi relevan karena kedua perusahaan teknologi itu menguasai 60 persen belanja iklan yang berputar di seluruh dunia selama 2017. (evn/evn)