Isu Pencurian Data, Pendiri WhatsApp Ajak Hapus Facebook

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Rabu, 21/03/2018 19:11 WIB
Isu Pencurian Data, Pendiri WhatsApp Ajak Hapus Facebook Pendiri WhatsApp, Brian Acton menyerukan kampanye hapus Facebook menghadapi isu pecurian 50 juta data pengguna. (Foto: Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Isu penyalahgunaan data 50 juta pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica (CA) mendorong kampanya #DeleteFacebook di media sosial. Pengguna sekaligus perusahaan media beramai-ramai diajak untuk secara permanen menghapus akun mereka.

Pendiri WhatsApp, Brian Acton menjadi salah satu sosok yang menyerukan kampanye tersebut melalui akun Twitter pribadinya.

Melalui akun Twitter, Brian yang telah hengkang dari WhatsApp pada akhir 2017 itu mencuitkan bahwa ini saat yang tepat untuk menghapus akun Facebook.




Momentumm krisis yang tengah melanda perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg ini turut memengaruhi nilai saham perusahaan. Dalam dua hari terakhir, saham Facebook merosot hingga lebih dari 9 persen dan valuasinya menjadi nyaris US$50 miliar.

Pemerintah AS menduga Facebook melakukan pelanggaran kesepakatan terkait keamanan data pengguna. Hal ini menyusul laporan lembaga riset Global Science Research yang mengumpulkan informasi lebih dari 50 juta pengguna Facebook dan menyerahkannya ke tangan Cambridge Analytica.

Disamping itu, pemerintah Inggris juga dikabarkan akan menempuh langkah serupa. Zuckerberg dilaporkan akan menempuh jalur investigasi pemilahan hoaks dan berita palsu.

CA diketahui mengumpulkan data mulai dari identitas pengguna, jaringan pertemanan, hingga jumlah 'like' pengguna Facebook. Data-data ini disebut untuk memetakan kepribadian berdasarkan apa yang orang sukai untuk menarget audiens dengan iklan digital.

The New York Times menuliskan periset dari CA pada 2014 meminta pengguna untuk melakukan survei kepribadian. Tak hanya itu, pengguna pun diminta untuk mendownload aplikasi yang menghapus beberapa informasi pribadi dari profil mereka dan profil teman mereka.

Pada saat itu, aktivitas tersebut yang diizinkan Facebook. Namun, saat ini sudah dilarang. Sebelumnya, teknik serupa telah dikembangkan oleh Pusat Psikometrik Universitas Cambridge.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Facebook belum mengeluarkan pernyataan baik berupa sanggahan ataupun mengakui ada pembobolan tersebut. Keberadaan Mark Zuckerberg dan Sheryl Sandberg pun hingga kini masih menjadi teka-teki untuk menjawab krisis yang dihadapi perusahaan. (evn)