"Ada kemungkinan bahwa data (pengguna FB) ini telah diakses oleh beberapa orang," ujar Wylie pada program itu. "Data itu dapat disimpan di berbagai belahan dunia, termasuk Rusia, mengingat fakta bahwa profesor yang mengelola proses pengumpulan data sering bolak-balik antara Inggris dan Rusia," jelasnya dalam wawancara dengan NBC News, Minggu (9/4).
Profesor yang dimaksud Wylie mengacu pada seorang dosen Cambridge bernama Aleksandr Kogan. Kogan adalah profesor yang menyalahgunakan data pengguna Facebook yang kemudian dijual ke Cambridge Analytica.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akun terdampak lebih banyak
"Saya pikir itu bisa lebih tinggi(dari 87 juta pengguna), pasti," ujar Wylie.
Dilansir oleh Cnet, Facebook mengetahui perihal ini sejak 2015, namun tidak menginformasikannya ke publik. Facebook malah mengimbau agar semya pihak yang terlibat menghancurkan data tersebut. Namun, saat ini laporan menyebut tidak semua data itu dihapus.
"Saya tahu bahwa Facebook sekarang mulai memperbaiki hal itu dan mencari tahu siapa yang memiliki akses kesana dan kemana perginya, tetapi pada ahirnya tidak mampu mengatakan kepada kita bahwa semua data telah dihapus untuk selama-lamanya," dia berkata.
Sebelumnya, Facebook menyebut bahwa angka 87 juta akun pengguna diperkirakan adalah jumlah maksimum yang ditransfer ke Cambridge Analytica. Namun, pihak Cambridge Analytica sendiri menolak bertanggung jawab atas skandal yang menyangkut konsultan politik tim pemenangan Donald Trump pada pemilu 2016 lalu.
Penyalahgunaan data pengguna Facebook ini juga diduga turut memengaruhi referendum Brexit di Inggris. Sementara Kementerian Komunikasi dan Informatika meyebut bahwa kemungkinan data pengguna di Indonesia digunakan untuk kepentingan Pilkada DKI Jakarta. (eks/btg)