Upaya ATSI Tekan Penyalahgunaan NIK Saat Registrasi Prabayar

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Senin, 23/04/2018 20:19 WIB
Upaya ATSI Tekan Penyalahgunaan NIK Saat Registrasi Prabayar ATSI menempuh sejumlah langkah untuk menekan penyalahgunaan NIK dan KK saat registrasi prabayar. (Foto: CNN Indonesia/ Yudha Pratomo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang batas akhir registrasi kartu prabayar pada 1 Mei 2018, Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) mulai mengambil langkah mengatasi penyalahgunaan penggunaan NIK dan KK.

Ketua ATSI Merza Fachys mengatakan seluruh operator seluler telah sepakat untuk mengambil langkah agar penyalahgunaan data NIK dan KK tidak terjadi lagi.

"ATSI telah mengambil langkah, yang pertama adalah melarang semua distributor menggunakan KK (Kartu Keluarga) orang yang tidak berhak untuk meregistrasi kartu kecuali orang itu memberikan izin," terang Merza disela diskusi media di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (23/4).


Larangan tersebut diberikan lantaran menurut Merza tidak semua distributor memahami bahwa penggunaan NIK dan KK tanpa izin merupakan pelanggaran besar.

Kedua, ATSI juga akan melarang distributor untuk menggunakan satu NIK dan KK untuk melakukan registrasi massal. Atau dengan kata lain satu identitas dipakai untuk mendaftarkan lebih dari 10 nomor prabayar.

Khusus untuk kartu prabayar yang sudah teregistrasi secara massal, Merza mengatakan pihaknya akan mengembalikan status menjadi belum registrasi. Pelanggan kemudian akan diminta untuk melakukan reistrasi ulang menggunakan data valid.

"Yang ketiga, semua kartu yang sudah terlanjur diregistrasi secara massal akan kami kembalikan  statusnya ke belum tergistrasi. 'Diperawankan' lagi," lanjut Merza.

Khusus untuk hal ini, ia menyebut pihak operator nantinya akan mengingatkan pengguna untuk melakukan registrasi sesuai dengan identitas masing-masing.

Dalam kesempatan tersebut, Merza juga menampik anggapan bahwa operator terkesan menyalahkan distributor soal kebocoran data yang dipakai untuk registrasi massal. Menurutnya, hal itu terjadi karena ada migrasi di industri seluler.

"Operator tidak ada satu pernyataan pun menyalahkan gerai. Kita tidak pernah mengeluarkan itu kesalahan A atau B. Ini proses migrasi dari yang baik menjadi lebih baik," imbuhnya.

Sebelumnya,  Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil mengungkap bahwa sebuah nomor pelanggan Indosat memakai satu NIK hingga 2.221.656 kali. Angka itu tercatat paling banyak. Dua nomor Indosat lain juga diketahui memakai satu NIK untuk mendaftarkan masing-masing 1,6 juta dan 1,8 juta kali.

Pada batas akhir registrasi nanti, semua nomor yang belum mendaftarkan diri dan nomor yang sudah tidak aktif serta tidak melakukan registrasi akan otomatis diblokir. Namun, pengguna dipastikan masih bisa mengaktifkan kembali nomor dnegan mendatangi gerai untuk registrasi. (evn)