Gesits dan MAB 'Mimpi' Punya Industri Baterai di Indonesia

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 20:14 WIB
Gesits dan MAB 'Mimpi' Punya Industri Baterai di Indonesia Ilustrasi (Dok Wuling Motors)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dimulainya kerja sama antara Mobil Anak Bangsa (MAB) dan Gesits Technologies Indo (GTI), salah satu anak perusahaan Garansindo Group belum bisa dipastikan.

CEO Garansindo Group Muhammad Al Abdullah mengatakan hingga saat ini kedua perusahaan masih dalam tahap pembahasan dan belum ada kata sepakat terkait kolaborasi.

"Sedang dalam tahap pembahasan (kolaborasi). Dan kami sudah bertemu beberapa waktu lalu," kata Abdullah kepada CNNIndonesia.com, Selasa (17/7).


Menurut pria karib disapa Memet itu, bahwa ide kolaborasi muncul karena kedua perusahaan tersebut memiliki visi dan misi yang sama di Indonesia, yaitu turut mendorong terciptanya kemandirian kelistrikan nasional dan mengembangkan kendaraan listrik nasional.
"Karena visi dan misi kami sama, yaitu turut membangun kemandirian industri kelistrikan nasional dan mengembangkan kendaraan listrik nasional. Dengan kesamaan ini tentu sangat bagus kalau kami bersinergi," ucap Memet.

Dijelaskan Memet, pihak MAB dan GTI sangat optimistis jika keduanya resmi berkolaborasi di Indonesia, sebab mereka mengembangkan sebuah produk kendaraan masa depan yang juga didukung oleh pemerintah.

"Kami optimistis, sejalan dengan misi pemerintah," ujar Memet meyakini.

Selama ini GTI terus mengembangkan sepeda motor listrik Gesits untuk kebutuhan berkendara masyarakat Indonesia di masa depan. Sementara MAB terus mengembangkan bus listrik untuk angkutan umum ramah lingkungan dalam negeri di mana uji coba pertama bus listrik dilakukan di Bandara Udara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu.
Terkait komponen baterai kendaraan listrik yang mereka kembangkan ternyata masih didatangkan dari luar negeri. Cara tersebut diambil karena belum tersedia industri baterai kendaraan listrik di Tanah Air.

Menanggapi keterbatasan pengembangan kendaraan listrik ini, dikatakan Memet tidak menutup kemungkinan kedua perusahaan berkomitmen mendirikan industri baterai kendaraan listrik yang segera terealisasi, karena ini yang dibutuhkan industri otomotif dalam negeri di masa depan.

"Paling tidak investasi baterai (kendaraan listrik) di dalam negeri," jelas Memet.

Diberitakan sebelumnya, pemerintah saat ini telah membuat skema tax holiday dalam Peraturan Menteri Keuangan No.35 tahun 2018.
Aturan tersebut Itu bisa digunakan untuk industri pembuat motor listrik yang terintegrasi dengan industri pembuat magnet. Selanjutnya, industri pembuat motor listrik terintegrasi dengan industri pembuat kumparan.

Kini, aturan tersebut juga berlaku untuk industri baterai kendaraan bermotor listrik.

Sementara itu Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto sempat menyebut bila saat ini sudah ada beberapa investor yang menyatakan tertarik membangun pabrik baterai di dalam negeri.

Ketertarikan investor diyakini Harjanto efek dibuatnya rancangan insentif tax holiday atau pemberiam insentif dari pemerintah berupa pengurangan pajak. (mik)