eSports Jadi Cabor Asian Games, Anggapan Negatif Gim Berubah

JNP, CNN Indonesia | Rabu, 25/07/2018 15:58 WIB
eSports Jadi Cabor Asian Games, Anggapan Negatif Gim Berubah eSports resmi masuk sebagai cabang olahraga di Asian Games 2018. (Foto: CNN Indonesia/JNP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kompetisi eSports yang akan dipertandingkan pertama kalinya di Asian Games 2018 berbeda dengan pertandingan olahraga pada umumnya. Ekshibisi pertandingan eSport menjadi langkah besar, lantaran tak sekedar memperhitungkan medali namun mengubah paradigma soal gim.

Harry Kartono Consumer Lead Indonesia Nvidia mengatakan masuknya eSports sebagai cabang olahraga yang diperlombakan akan mengubah paradigma gim di Indonesia yang sekedar candu untuk bersenang-senang.

Menurut Harry citra gim di Indonesia masih buruk karena dianggap memberikan efek candu bagi pelajar sehingga pendidikan mereka terbengkalai. Kali ini, gim bisa menghasilkan sesuatu untuk dijadikan profesi di masa depan. Tidak hanya sebagai atlet eSports, tapi juga profesi yang berkaitan dengan industri gim.


"Lima tahun lalu mungkin gim tidak bisa jadi pekerjaan. Kalau sekarang saya pikir bisa, bisa jadi game maker atau game programmer, bukan hanya jadi atlet. Esport tidak jauh dari teknologi, itu salah satu kelebihan mereka itu mau tidak mau harus tahu teknologi. Sehingga nantinya kalau mereka tidak berhasil di eSports. Pengetahuan teknologinya tinggi," kata Harry di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Selasa (24/7).

Harry mengatakan kompetisi ini tak ubahnya teguran bagi stakeholder untuk menyediakan infrastruktur pendukung yang memadai untuk mencari bibit-bibit atlet potensial. eSports harus didukung agar Indonesia bisa menjadi negara unggulan dalam Asian Games 2022 di mana cabang olahaga eSports sudah masuk perhitungan medali. 

"Kami membuat tempat latihan berupa iCafe yang disertifikasi oleh Nvidia untuk eSports yang didukung dengan spesifikasi tinggi sesuai dengan taraf eSports internasional. Karena kan belum tentu mereka punya uang untuk membangun komputer dengan harga Rp40 juta untuk berlatih eSports dengan benar," kata Harry.

Selain menyiapkan tempat berlatih, Harry mengatakan Nvidia setahun sekali mengadakan kompetisi gim amatir antara iCafe. Hal ini dilakukan untuk mencari potensi bibit-bibit di berbagai daerah, untuk itu Nvidia menyebar iCafe agar tidak terpusat di satu daerah saja.

"Kalau menang kami akan daftarkan ke kompetisi Asia Tenggara. Mewadahi mereka juga dan kelasnya itu amatir saja, jadi pertandingannya atar Geforce iCafe. Kami tumbuhkan bibit bibit lokal dulu," ujarnya. 

Dalam kesempatan sama, pemilik Geforce GTX iCafe "Highground" Diana Tjong mengatakan dengan adanya tempat berlatih yang terstruktur dan formal ini merubah pandangan orang tua tentang gim. Diana mengatakan gim dulu dipandang negatif, bahkan dulu dirinya juga memandang gim itu buruk.

"Dulu saya pikir image gamer buruk. Tapi akhirnya kita mencari solusi kita mewadahi tempat untuk membenahi dan mendidik untuk merubah paradigma gim. Gim di sini tidak hanya untuk bermain tetapi untuk menghasilkan sesuatu. Di sini kami mencoba untuk berdamai dengan orang tua," ujar Diana.

Diana mengatakan tempat berlatih ini memiliki program bootcamp arahan Nvidia sehingga bisa dijadikan tempat persiapan para atlet atau calon atlet eSports. Di tempatnya, Diana mengatakan menyediakan 100 komputer, 12 unit komputer untuk zona eSports dengan graphic card GTX 1070, 12 unit komputer dengan GTX 1060, dan 76 unit GTX 1050/ti. Pengguna tinggal membayar Rp20 ribu per satu jam untuk bermain di Highground.

Beberapa peraturan ketat juga diterapkan di Highground, salah satunya adalah menjaga lingkungan gim agar tidak "beracun" dengan adanya  penggunaan kasar. Selain itu, bagi para pelajar berseragam juga dilarang untuk menggunakan fasilitas Highground.

"iCafe ini ramah untuk anak-anak, seperti bebas asap rokok, kami melarang anak sekolah berseragam main, kami juga melarang omongan kasar di sini, kita membatasi orang-orang yang berbicara kasar. Kami mendidik anak-anak kita untuk mereka bisa menghormati orang-orang di sekitar bahwa mereka bermain di ruang publik," ujar Diana

Diana mengatakan sudah melihat bahwa terjadi pergeseran paradigma tentan gim di Highground. Pada akhir pekan, ia melihat di tempatnya banyak orang tua mengantar anaknya untuk bermain gim atau untuk berlatih. 

"Pada akhir pekan orang tua yang juga yang mengantar anak-anaknya untuk bermain gim di sini, jadi ketika mereka bermain, orang tuanya makan di cafe.  Ada yang sebelumnya main gim disuruh bikin pekerjaan rumah dulu bersama orang tuanya. Setelah selesai, orang tuanya menunggu di cafe, anaknya bermain gim," ujar Diana.  (evn)