Analisis

Polemik Kia dan Gaikindo di Indonesia

M. Ikhsan & Febri Ardani, CNN Indonesia | Rabu, 08/08/2018 16:34 WIB
Polemik Kia dan Gaikindo di Indonesia Ilustrasi. (Dok. REUTERS/Kim Hong-Ji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selepas Ford Motor Indonesia, kemudian Mercedes-Benz Indonesia, kini Kia Mobil Indonesia (KMI) diklaim keluar dari keanggotaan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Ada polemik yang terjadi, pasalnya KMI mengaku tidak pernah keluar dari Gaikindo.

Sejak April 2018, Kia sudah menghilang dipantau dari rekaman data wholesales Gaikindo. Data penjualan bulanan yang biasanya disetor anggota sebagai kewajiban tidak lagi dilakukan.

Catatan Gaikindo, Kia masih melakukan penjualan pada Januari hingga Maret, totalnya 122 unit yang terdiri dari Grand Sedona, Rio, Sportage, dan pikap K2700. Sejak April sampai Juli tidak ada satupun penjualan yang terekam.
Kejadian tidak menyetor data penjualan sebelumnya pernah dilakukan Mercedes-Benz Indonesia. Wakil merek asal Jerman ini menolak memberikan data itu sejak Mei 2017 karena terbentur kebijakan prinsipal.


Diskusi alot antara Gaikindo dan Mercedes-Benz Indonesia sempat menemukan titik cerah. Namun ternyata sikap Mercedes-Benz Indonesia tidak berubah sampai awal tahun ini.

Gaikindo menilai tidak adil buat anggota lainnya bila hanya Mercedes-Benz Indonesia yang tidak menyetor data penjualan. Gaikindo akhirnya memutuskan menghentikan keanggotaan Mercedes-Benz Indonesia dan Mercedes-Benz Distribution Indonesia pada Februari lalu.

Kia Mengundurkan Diri

Kasus Mercedes-Benz yang "dipecat" keanggotaannya ternyata berbeda dengan Kia. Menurut pengakuan Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi, KMI sudah tidak lagi terdaftar sebagai anggota karena mengundurkan diri.

"Dia (KMI) mengundurkan diri, saya enggak tahu alasannya kelihatannya mereka punya masalah internal. Saya lupa kapan (pengunduran diri KMI), tapi mungkin awal-awal bulan Maret," ujar Nangoi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (7/8).

Nangoi mengatakan sekali mengundurkan diri maka bila ingin kembali menjadi anggota harus menjalani registrasi ulang.

Gaikindo berharap, ujar Nangoi, semua pihak bisa menjadi anggota agar suara asosiasi yang menaungi para Agen Pemegang Merek (APM), distributor, dan manufaktur di Indonesia ini bisa bulat. Selama ini Gaikindo merupakan salah satu pihak penting dalam konsolidasi pembuatan regulasi otomotif di Indonesia.

"Mereka sementara mengundurkan diri. Ada kewajiban lain anggota misalnya membayar iuran ke Gaikindo, atau mungkin ada alasan lain saya enggak tahu," ucap Nangoi lagi.

Kia Berkata Sebaliknya

Sumber yang paham soal kondisi internal KMI pernah menjelaskan kepada CNNIndonesia.com, KMI sedang menjalani masa penyesuaian sejak berganti kepemilkan saham pada tahun lalu. Kini operasi bisnis Kia terbagi dua, ada pihak yang menjalankan usaha APM dan lainnya distributor ritel.

Sebab beda perusahaan, dealer besar Kia yang tadinya menyatu dengan kantor pusat KMI di Sunter, Jakarta Utara, direlokasi. Kantor pusat KMI tetap di Sunter.
Dikonfirmasi soal keanggotaan Gaikindo, General Manager Business Development KMI Harry Yanto mengatakan pihaknya tidak pernah mengundurkan diri. Harry berdalih "tidak ada apa-apa" dengan KMI.

"Kami enggak keluar dari Gaikindo. Kami tidak pernah mengundurkan diri," ucap Harry saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Harry mengatakan tidak bisa mengomentari ucapan Nangoi. Menurut KMI, kata Harry, KMI belum keluar dari Gaikindo.

Lebih lanjut Harry menjelaskan, menjadi anggota Gaikindo ataupun tidak bukan hal paling penting buat pihaknya saat ini. Perhatian utama sekarang adalah menjaga bisnis Kia tetap berjalan di Indonesia.

"Kami melihat ada di Gaikindo atau tidak, tidak terlalu krusial menurut saya. Konsumen yang ke bengkel tetap kami layani, aktivitas kami masih ada," ujar Harry.

"Saya bilang begini, yang namanya bisnis tetap berjalan, bengkel masih berjalan, showroom masih ada. Baru kemarin baru kami meluncurkan Sedona diesel. Itu menunjukan bisnis kami masih berjalan," kata Harry lagi.

Pada 18 Juli lalu, KMI meluncurkan varian tambahan Grand Sedona dengan mesin diesel 2.199 cc di Jakarta. Varian ini menemani Grand Sedona bensin 3.342 cc yang sudah diluncurkan sebelumnya.

KMI memilih meluncurkan Grand Sedona Diesel di luar ingar-bingar Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang digelar 2 - 12 Agustus 2018. Sudah umum dipahami, biasanya peluncuran produk yang disiapkan APM pada awal semester dua dilakukan di pameran internasional tahunan tersebut.
Tidak Ikut GIIAS

Meski tidak lagi menjadi anggota Gaikindo, Mercedes-Benz Indonesia tetap ikut menjadi peserta GIIAS 2018. Di lain sisi, KMI memutuskan absen di satu-satunya pameran otomotif di Indonesia yang diakui Organisation Internationale des Constructeurs d'Automobiles (OICA) itu. 

Alasannya tidak terkait masalah keanggotaan. KMI mangkir karena merasa tidak punya amunisi yang "signifikan".

"Kami memang masalah ekonomi. Tapi dalam artian begini, Anda simak, yang ikut GIIAS ada berapa yang meluncurkan produk baru? (Sedikit). Yang tadinya GIIAS itu ada sesuatu yang baru, pengunjung sedikit kecewa. Kia juga sama, tidak punya produk baru yang signifikan," ucap Harry.

"Walau kondisi ekonomi lagi begini, ya masih ada pertumbuhan (penjualan nasional). Kita lihat contohnya, yang sedang berkembang itu kendaraan premium, paling tinggi pertumbuhannya. Yang harga Rp 200 juta ke bawah, itu tinggi juga," jelas Harry.
"Di Indonesia, 60 persen penjualan itu golongan (produk) di bawah Rp600 juta, nah di tengah yang Rp200 juta - Rp350 juta ini rentan. Yang sanggup bertahan akan naik, kalau tidak turun ke bawah," ujar Harry.

Kendati kondisi internal sedang gonjang, Harry memastikan Kia tidak akan keluar dari Indonesia seperti Ford. Disebut, KMI punya rencana meluncurkan produk baru pada semester dua dan bahkan dikatakan bakal lebih agresif pada tahun depan.