Tesla Tunjuk Komite Evaluasi Isu Privatisasi

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 01:09 WIB
Tesla Tunjuk Komite Evaluasi Isu Privatisasi Ilustrasi mobil Tesla (dok. Tesla)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tesla menunjuk komite berisikan tiga direktur Tesla, yakni Brad Buss, Robyn Denholm dan Linda Johnson Rice, untuk mengevaluasi keinginan pengusaha Elon Musk kembali melakukan privatisasi Tesla.

Hingga saat ini, Musk belum membuat penawaran formal terkait ide yang dilontarkannya itu. Selain itu, Tesla juga tengah melakukan konsultasi dengan penasihat finansial yang mereka sewa untuk mempertimbangkan rencana privatisasi tersebut.

Kendati pembentukan komite tersebut sudah menjadi 'lampu hijau' bagi Musk, tetapi pria kelahiran Afrika Selatan itu masih belum meyakinkan analis pasar modal Amerika Serikat kalau ia mampu mengumpulkan dana untuk membeli Tesla.


Elon mencuitkan bahwa ia telah mengumpulkan dana sebesar US$72 miliar (sekitar Rp1 quadriliun) untuk membeli perusahaan mobil listrik itu. Ia pun memberi harga US$420 per lembar saham. Padahal saat ini Tesla baru memiliki nilai pasar US$60 miliar saja (sekitar Rp876,7 triliun). Sontak pengumuman ini membuat antusiasme pasar naik dan melejitkan harga saham Tesla.

Pada cuitannya Senin (6/8) lalu, Musk mengatakan jika ia sedang bekerja sama dengan Goldman Sachs dan Silver Lake untuk menjadi penasihat finansialnya. Namun berdasarkan informasi dari orang dalam, hingga hari Selasa Goldman Sachs masih dalam proses negosiasi dengan Musk.

Silver Lake juga baru menawarkan bantuan tanpa kompensasi kepada Musk, sehingga belum resmi tergabung dalam tim untuk memprivatisasi Tesla.

Goldman Sachs dan Silver Lake menolak untuk mengomentari hal ini.

Selain masih melakukan negosiasi dengan para penasihat finansial, Musk juga tengah melakukan negosiasi dengan Arab Saudi dan investor lain untuk mengamankan dana yang ia butuhkan.

Meski demikian, tak semua orang mendukung wacana dari pria yang juga memimpin SpaceX itu.

"Terlepas dari rasa frustrasi Musk akan status (Tesla) sebagai perusahaan umum, Saya rasa lebih banyak keuntungan jika mereka tetap mempertahankan status itu," kata analis CFRA, Efraim Levy, sepeti dikutip Reuters. (GFS/eks)