Ocehan Pengguna Mobil Diesel Soal Biodiesel B20

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 22:27 WIB
Ocehan Pengguna Mobil Diesel Soal Biodiesel B20 Bahan bakar biodiesel. (Dok. Robert Galbraith)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengguna mobil diesel hanya bisa pasrah mendengar rencana pemerintah soal kewajiban menggunakan biodiesel B20. Kabarnya, aturan itu mulai berlaku pada 1 September 2018.

"Tapi kalau kebijakan, ya kaya kita-kita ini hanya bisa menjalani saja," kata seorang pengguna mobil diesel Nugraha Reza, kepada CNNIndonesia.com, Kamis (16/8).

Sejak kemunculan wacana tersebut, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Innova Community Pusat ini mengaku sudah berselancar di dunia maya untuk mengetahui kekurangan mau pun kelebihan B20. Salah satu kekurangannya, menurut dia, tidak sembarang mobil bisa memakai B20 sebagai bahan bakar. Harus ada penyesuaian spesifikasi agar mobil dapat meminum B20.
Ada tiga komponen mobil yang diketahui berpotensi rusak setelah menggunakan B20. Pertama yaitu saringan bahan bakar. Saringan bahan bakar merupakan komponen paling rentan rusak lantaran kinerjanya bertambah berat akibat karakter B20 yang lebih kental dan kotor ketimbang solar.


Komponen selanjutnya yang harus diperhatikan tangki bahan bakar. Kelapa sawit untuk B20 merupakan salah satu bahan yang juga digunakan untuk pembuatan sabun. Sebab itu B20 diketahui juga punya efek sabun.

Pada tangki bahan bakar, efek sabun itu mampu menguras kotoran yang sudah mengendap sebelumnya. Dampaknya, kotoran bisa larut dalam bahan bakar dan membahayakan proses pembakaran di mesin. Sebelum menggunakan B20, konsumen direkomendasikan, jika perlu, menguras tangki lebih dulu.

Komponen terakhir yang bisa kena imbas penggunaan B20 yaitu injektor. Komponen ini bisa rusak jika saringan dan tangki bahan bakar tidak diperhatikan, atau sudah rusak tapi tidak juga diganti.

"Ga masalah lah ya, walau awal-awal ya keberatan karena yang harusnya tidak perlu (mengeluarkan biaya), eh ini harus. Tapi kalau ada rezeki ya tidak apa," ungkap Reza.
Pengguna mobil diesel lainnya, Fredy Okina, juga menyampaikan serupa Reza. Namun sedikit berbeda sebab dia berharap jika sampai harus mengganti spesifikasi mobil setidaknya ditanggung pabrikan bukan konsumen.

"Intinya sih pasrah. Tapi harapannya sudah gratis jadi termasuk di biaya servis dan tidak ada tambahan," kata Fredy.

Pendapat lain datang dari Presiden Toyota Fortuner Club of Indonesia (ID42NER) Saladin Bonaparta yang mengaku tidak memasalahkan bila regulasi perluasan penggunaan B20 akhirnya terbit.

Namun Saladin menyampaikan penyesuaian mobil agar bisa menggunakan B20 membutuhkan biaya tidak sedikit dan harus menggunakan isi kantong pribadi. Dia mengatakan ada baiknya regulasi tersebut dikaji ulang.

"Kalau masalah kuras tanki dan ganti saringan dengan biaya sendiri, kami akan perbandingkan nanti dengan biaya bahan bakar sudah berjalan. Kalau lebih mahal baiknya balik ke semula aja," ungkap Saladin.
(fea)