Dalam sebuah wawancara dengan The Washington Post pada 15 Agustus 2018 kemarin, Dorsey menuturkan dia sedang bereksperimen dengan sejumlah fitur yang bisa meredam misinformasi dan ruang gema di linimasa Twitter.
"Hal yang paling penting kami bisa lakukan adalah mencari insentif pada produk yang kami buat. Karena mereka menampilkan sudut pandang yang kami inginkan dari orang-orang dan saya rasa itu tidak tepat lagi," kata Dorsey.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti Facebook dan Google, masalah di Twitter adalah ujaran kebencian dan konten negatif yang bisa dengan mudah tersebar. Sebuah tweet yang berisi informasi tak akurat bisa dengan mudah tersebar lewat sebuah retweet dari influencer.
Situasi yang tak kalah pelik yang dihadapi Twitter adalah rentetan tweet kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski ucapan Trump seringkali menimbulkan kegaduhan, Twitter tak terlalu berdaya karena pihaknya menilai komentar-komentar Trump tersebut bernilai dan bisa menjadi jendela bagi publik terhadap cara berpikir pemimpin dunia.
"Kami sering beralih ke kebijakan guna memperbaiki masalah-masalah ini, tapi saya pikir ini cuma gejala di permukaan," ucap Dorsey.
Salah satu kemungkinan alternatif yang sedang dijajaki oleh Twitter saat ini adalah mengelilingi tweet bernada negatif dengan konteks faktual. (evn)