Rusia Jajal Teknologi Baru untuk Blokir Telegram

RBC, CNN Indonesia | Jumat, 31/08/2018 19:48 WIB
Rusia Jajal Teknologi Baru untuk Blokir Telegram Pemerintah Rusia kembali berupaya memblokir akses Telegram. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Rusia sedang mencoba berbagai cara untuk memblokir satu layanan online tanpa memengaruhi layanan lainnya, setelah pada bulan April kemarin gagal memblokir layanan Telegram dari negaranya.

Ketika itu, pemblokiran Telegram secara tidak sengaja juga menghalangi pengguna untuk mengakses sejumlah layanan online lainnya, seperti aplikasi yang mengontrol kamera video Xiaomi dan aplikasi berbasis cloud untuk mobil Volvo.

Karena persoalan tersebut, usaha memblokir Telegram harus ditunda dan hingga saat ini para pengguna di Rusia masih bisa mengakses layanan itu.


Pada 6 Agustus lalu, badan pengawas komunikasi pemerintah Rusia, Roskomnadzor dan badan keamanan, FSB mulai menguji coba sistem yang memungkinkan pemblokiran terhadap satu layanan online saja.

Percobaan pemblokiran Telegram pada April lalu menyasar alamat-alamat IP yang dioperasikan oleh Amazon, Google, dan sejumlah perusahaan lainnya yang menampung trafik Telegram. Masalahnya, alamat-alamat IP tersebut biasanya juga menampung trafik milik beberapa layanan online lain.

Sistem pemblokiran yang saat ini sedang diuji coba menggunakan sebuah teknologi bernama Deep Packet Inspection yang beroperasi dengan cara yang lebih rinci, yakni menganalisis trafik, mengidentifikasi data dari sebuah layanan, dan memblokirnya.

Menurut sebuah dokumen yang didapat Reuters, sembilan perusahaan teknologi Rusia diminta untuk turut memberikan teknologi Deep Packet Inspection mereka untuk diuji coba.

Seorang sumber yang dekat dengan Roskomnadzor dan salah seorang pimpinan perusahaan yang diminta untuk berpartisipasi menyebut bahwa hal tersebut bertujuan untuk memilih teknologi yang paling efektif, memperbaikinya jika diperlukan, kemudian menginstalasinya pada jaringan milik seluruh operator di Rusia.

Namun, dua orang pimpinan perusahaan yang kabarnya diminta untuk berpartisipasi mengatakan bahwa percobaan tersebut tidak berhasil, karena sejumlah layanan lain masih terkena dampak pemblokiran.

"Sejauh ini, belum ada yang berhasil lolos dari percobaan tersebut," ujar salah satu dari mereka.

Sebelumnya, aplikasi yang dikembangkan oleh Pavel Durov tersebut memang sempat ditangguhkan di Rusia karena menolak untuk memberikan akses terhadap pesan-pesan pengguna yang dienkripsi kepada para petugas keamanan. (evn)