Ketika itu, pemblokiran Telegram secara tidak sengaja juga menghalangi pengguna untuk mengakses sejumlah layanan online lainnya, seperti aplikasi yang mengontrol kamera video Xiaomi dan aplikasi berbasis cloud untuk mobil Volvo.
Karena persoalan tersebut, usaha memblokir Telegram harus ditunda dan hingga saat ini para pengguna di Rusia masih bisa mengakses layanan itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Percobaan pemblokiran Telegram pada April lalu menyasar alamat-alamat IP yang dioperasikan oleh Amazon, Google, dan sejumlah perusahaan lainnya yang menampung trafik Telegram. Masalahnya, alamat-alamat IP tersebut biasanya juga menampung trafik milik beberapa layanan online lain.
Menurut sebuah dokumen yang didapat Reuters, sembilan perusahaan teknologi Rusia diminta untuk turut memberikan teknologi Deep Packet Inspection mereka untuk diuji coba.
Namun, dua orang pimpinan perusahaan yang kabarnya diminta untuk berpartisipasi mengatakan bahwa percobaan tersebut tidak berhasil, karena sejumlah layanan lain masih terkena dampak pemblokiran.
"Sejauh ini, belum ada yang berhasil lolos dari percobaan tersebut," ujar salah satu dari mereka.
Sebelumnya, aplikasi yang dikembangkan oleh Pavel Durov tersebut memang sempat ditangguhkan di Rusia karena menolak untuk memberikan akses terhadap pesan-pesan pengguna yang dienkripsi kepada para petugas keamanan. (evn)