Sejak dirilis pada Juli 2017, Fortnite telah mencetak pendapatan lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp14,98 triliun. Peningkatan dua persen ini bisa dibilang pendapatan yang paling mengecewakan.
Dilansir dari AFP, pendapatan yang mandek ini menjadi pertanyaan karena Epic Games selaku pengembang Fortnite baru saja merilis "battle pass" yang berbayar. Gim Battle Pass menawarkan peralatan dan pakaian baru bagi avatar pemain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun gim batte royale ini free to play, pengembang Fortnite, Epic Games sukses mendapatkan pemain untuk membayar agar bisa mendapatkan item premium.
"Bagi banyak orang itu (battle-royale) adalah gim kedua mereka. Itu bukan pertanda baik bagi Fortnite karena gamer kembali ke gim favorit mereka," kata Gau.
Di China, Epic Games didukung oleh perusahaan Tencent yang merupakan pengembang gim ponsel dan WeChat mesenger. Dukungan Tencent ini merupakan keuntungan besar unutk menembus pasar di China.
"Keberhasilan di China akan menunjukkan apakah Fortnite akan terus tumbuh sebagai permainan untuk masyarakat umum. Itu juga bisa sangat membantu jika berkembang di eSports," ujar Gau
China sendiri memiliki potensi besar untuk bertumbuh dari segi gamer ponsel maupun eSports. Tencent sendiri telah memiliki 10 juta pemain.
"Ponsel pintar sekarang mewakili 50 persen dari pendapatan video game global dan China mewakili setengah dari pasar itu. Hari ini orang China kebanyakan main di smartphone," ujar Konsultan IDATE Digiworld, Laurent Michaud.
Epic Games dianggap belum bisa membawa inovasi terbaru kepda Fortnite. Gim saingannya seperti Dota maupun League of Legends secara konsisten terus memperbarui gim.
"Epic games harus belajar banyak agar bisa membuat yang lebih baik lagi," ujar Kitson. (age)