Facebook Klaim Tak Ada Data Dicuri Saat 50 Juta Akun Diretas

AFP, CNN Indonesia | Senin, 01/10/2018 15:28 WIB
Facebook Klaim Tak Ada Data Dicuri Saat 50 Juta Akun Diretas Facebook mengklaim tak ada data sensitif yang dicuri peretas. (Foto: REUTERS/Rick Wilking)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook mengatakan tak ada data sensitif milik penggunanya yang berpindah tangan saat insiden peretasan 50 juta akun pada Jumat (28/9) lalu. Wakil presiden manajemen Facebook, Guy Rosen mengklaim tidak ada kata kunci (password) yang diambil dari akun pengguna.

Rosen mengatakan hanya 'token' yang digunakan laiknya kunci digital untuk mengakses akun pengguna yang sempat berupaya diretas. Token memungkinkan pemegangnya secara otomatis masuk kembali ke akun jejaring sosial mereka.

Selain informasi mengenai password, Rosen mengatakan peretas diketahui tertarik untuk mengambil sejumlah informasi seperti nama, jenis kelamin, dan kota asal pengguna Facebook. Namun belum diketahui motif di balik ketertarikan sang peretas terhadap informasi-informasi tersebut.


Meski demikian, token yang diretas memungkinkan peretas untuk memiliki akses penuh untuk mengendalikan 50 juta akun tersebut. Facebook disebut tengah mencari tahu kemungkinan peretas tertarik dengan unggahan atau pesan dari akun-akun yang diretasnya itu.

Rosen mengatakan aksi peretasan kali ini tergolong kompleks, lantaran membutuhkan proses yang terhitung rumit. Ia juga mengatakan pihaknya belum bisa menyimpulkan siapa dalang di balik aksi peretasan ini.

"Kami belum tahu siapa dalang di balik peretasan ini. Proses investigasi panjang akan terus dilakukan," imbuh Rosen seperti dilaporkan AFP.

Selain melakukan investigasi internal, perusahaan milik Mark Zuckerberg ini menegaskan pihaknya juga menggandeng regulator privasi data dan pihak berwenang. Dari sisi internal, tahun ini Facebook melipatgandakan jumlah karyawan menjadi 20 ribu untuk meningkatkan sisi keamanan dan privasi pengguna.

Sebelumnya diketahui ada 50 juta akun pengguna Facebook yang diretas pada akhir pekan lalu. Zuck mengatakan pihaknya menemukan ada kejanggalan sejak Selasa (25/9), meski mengklaim telah berhasil menambal kekacauan tersebut pada Kamis (27/9).

"Ini merupakan masalah serius. Hanya kami tidak tahu apakah ada akun yang benar-bear disalahgunakan oleh para peretas," ungkap Zuck. (evn)